Mohon tunggu...
Toto Priyono
Toto Priyono Mohon Tunggu... Liberal Javanese People

Bagi saya, hal yang paling mengecewakan sempitnya pengetahuan, "Intuisionisme". Tertarik dengan : Filsafat Romantisisme, Sosial-Budaya, Sastra dan Politik

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Belajar dari Pekerja Galian Pinggir Jalan

20 Juli 2019   10:43 Diperbarui: 20 Juli 2019   13:08 0 1 0 Mohon Tunggu...
Belajar dari Pekerja Galian Pinggir Jalan
sumber: dokpri

Kursi dan meja sebagai kantor kerja sendiri adalah hal kecil dari hebatnya perjuangan mereka para "pekerja galian" pinggir jalan. 

Untungnya panas hari ini tidak terlalu terik, siang ini memang mendung. Tetapi ada pepatah bilang, mendung tidak berarti hujan. Bagaimanapun mendung bagi mereka "pekerja galian" sedikit membantu, meskipun rasa lelah akibat tenaga yang di porsir terlalu lebih, tetap tidak mengubah rasa lelah mereka melaksanakan pekerjaannya.

Bekerja dan pemenuhan kebutuhan, saya mengira tidak ada yang hina. Manusia mencari penghidupan dari kerja memang telah menjadi kordratnya. Masih lebih baik adalah mereka yang mau bekerja, dari pada hidup bergantung dari kerja orang lain, dan tidak pernah mau bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri.

Sore hari akan tiba, Kopi dan cemilan yang menemani mereka beristirahat para pekerja galian. Beristirahat untuk melepas lelah adalah kewajiban bagi mereka, mengumpulkan tenaga untuk supaya dapat terus melanjutkan kerja sampai menjelang malam tiba. Selagi masih ada cahaya terang, disanalah masih ada kesempatan untuk kerja.

Melaju dan terus melaju, pekerja galian ibarat pekerja yang mengukur jalan. Progress dari jarak galian tersebut merupakan bentuk hitungan kerja mereka. Beruntung ketika tanah yang digalihnya tidak keras, kalau keras tertutup Cor-coran, lebih ekstralah tenaga yang mereka keluarkan untuk bekerja.

Tetapi tanah yang keras dan berbatu adalah bentuk pertangung jawaban seorang "pekerja galian", yang telah sepakat dan menyanggupinya menyelsaikan proyek galian pinggir jalan. 

Untuk itu dia "pekerja galian" pun harus tetap menyelsaikan pekerjaannya apa pun resikonya. Tidak peduli mereka diburu waktu atau di buru kondisinya sendiri.

Membobok aspal, batu-batu di dasar bukit, atau semen-semen yang ditanam di depan rumah warga adalah pekerjaan yang harus diselsaikannya. Dengan alat sederhana, pacul, sekop dan lain sebagainya. 

Merekalah pekerja-pekerja hebat, pekerja dengan semangat juang yang tinggi, pantang menyerah sebagai ajang bertahan hidup demi dirinya, maupun nasib keluarganya dirumah.

Banyak dari mereka "pekerja galian" merupakan pekerja-pekerja urban yang berpindah-pindah. Rela jauh dari keluarga demi melakukan pekerjaannya menghasilkan rupiah. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
KONTEN MENARIK LAINNYA
x