Mohon tunggu...
Toto Priyono
Toto Priyono Mohon Tunggu... Liberal Javanese People

Bagi saya, hal yang paling mengecewakan sempitnya pengetahuan, "Intuisionisme". Tertarik dengan : Filsafat Romantisisme, Sosial-Budaya, Sastra dan Politik

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Tulisan, Pengetahuan Setiap Peradaban

14 Juli 2019   08:29 Diperbarui: 17 Juli 2019   23:30 0 2 0 Mohon Tunggu...
Tulisan, Pengetahuan Setiap Peradaban
Gambar ilustrasi diambil dari republika.co.id

Seperti kebingungan yang menyelip masuk di malam dengan rintik hujan kini. Rasanya bagaimana memandang hari yang semakin kedepan? Ketika saat-saat itu datang, aku menjadi bosan dan ada upaya sedikit putus asa. Tiada semangat, bahkan cenderung menjadi tidak bersyukur merupakan dasar kejengahan pada hari yang ada.

Seakan aku ingin memeluk diriku bersama bintang di langit yang terang, dan menjadi diriku secara utuh bersama setiap lamunan-lamunanku, yang tersandara oleh ketidak bebasan dari dunia ini.

Terkadang khayal ini melayang akan ego kedirian yang ingin dihargai semua orang. Rasanya aku ingin bersinar dan  lainnya inginnya meredup bagai bintang yang sangat jauh disana. Namun semakin aku ingin bersinar dari pada diri yang lain, semakin tersiksa diri ini dalam setiap perjalanannya. Pikiran ini terus merancu bagai tombak yang ganas, menggoda untuk terus semakin menjadi manusia terdepan.

Padahal tidak ada bintang yang redup mau pun terang sebagai manusia. Semua sama diantara kelebihan dan kekurangannya masing-masing dalam memandang dunia mutakhir.

Tidak akan bisa manusia menjadi bintang tanpa ada manusia lainnya. Seperti tidak ada kuat jika tidak ada lemah, pintar atau bodoh dan besar atau kecil. Seyoganya dalam hidup manusia harus mendobrak konsep akan kediriannya yang semu. Kehendak kuasa yang setiap manusia ingini, biarlah ia mengalir bagai kehidupan yang sama-sama telah kita jalani.

Yang harus didobrak sendiri adalah konsep "aku" yang jutru tidak berkuasa atas diri sendiri. Berhenti berkata agung, istimewa juga sok ingin dihargai oleh manuisa lain akan diri sendiri. Bukan manusia hina terhadap dirinya sendiri, tetapi menganggap tidak berlebih sangat dibutuhkan untuk keseimbangan hidup itu sendiri. Agar tidak bingung ketika dunia mengecewakan kita pada akhirnya.

Biarlah manusia berjalan pada jalannya masing-masing. Mencari titik kebahagiaannya pun sendiri. Jangalah ada upaya jika tidak ada hasil. Meskipun diharagai sangat sulit terjadi, namun manusia dapat menghargai dirinya sendiri sama baiknya dengan manusia lain. Melakukan hal yang membuat bahagia sebagai manusia itu perlu.

Terpenting tidak berbahagia diatas penderitaan orang lain yang sedang mencari kebahagiaan juga. Banyak aspek menuju kebahagiaan, jadilah manusia yang mempunyai hobi. Karena bagiku hobi merupakan kesenangan itu sendiri. Jika lelah menghadapi kehidupan, engkau dapat menyandarkan dirimu padanya. Setiap manusia mempunyai caranya dan pasti hobi adalah hal yang istimewa dalam kehidupan manusia.

Sebenarnya aku bisa bahagia dengan menulis. Tulisan apapun sangat mengodaku. Resah dan gelisah selasai dengan munulis, begitupun rasa cemas yang mendera. Semua akan lebih baik dengan cara untuk ditulis. Apalagi ketika aku berdiskusi indah dengan energi sejenis. Membahas sesuatu yang kita suka, tiada duanya alangkah senangnya. Humaniora mungkin, filsafat, dan kehidupan paradoks modernitas yang selalu mengundang banyak pertanyaan diluar sana.

Jika dilihat lebih dalam moderenitas memang sangat aneh. Semua terkesan melindungi dirinya sendiri. Atas nama kuasa yang mereka bangun lewat karir dalam menghasilkan rupiah. Untuk itu semua harus terjaga juga melindungi dirinya sendiri agar tidak dimakan oleh kekuatan yang lebih besar pada akhirnya.

Moderitas seperti belantara Afrika yang masih asri. Di dalamnya terdapat kebuasaan yang masih banal dalam memangsa. Dalam moderintas sendiri antara singa dan manusia lebih kejam manusia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3