Mohon tunggu...
Toto Priyono
Toto Priyono Mohon Tunggu... Liberal Javanese People

Bagi saya, hal yang paling mengecewakan sempitnya pengetahuan, "Intuisionisme". Tertarik dengan : Filsafat Romantisisme, Sosial-Budaya, Sastra dan Politik

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Demokrasi Mustahil Tanpa Hoaks?

17 April 2019   13:34 Diperbarui: 21 April 2019   22:27 0 6 3 Mohon Tunggu...
Demokrasi Mustahil Tanpa Hoaks?
ilustrasi keributan karena hoaks. (sumber: thinkstock)

"Semboyan demokrasi menjadi hoax terbesar dalam sejarah "dari rakyat dan untuk rakyat", padahal dalam implementasinya demokrasi yang terjadi sebenarnya dari penguasa untuk penguasa" 

Menjalani hidup seperti "demokratis" mungkin kebetulan yang berdasar, ada kau, ada dia dan ada mereka. Untuk memahaminya dibutuhkan pengetahuan dan kesadaran baru tentang memberi dan menerima sebagai warga negara. 

Inilah bentuk perasaan yang harus dibayar untuk memenuhi tindakan-tindakan sebagai warga Negara demokratis. Di mana kata berpihak pada yang lemah itu tentu sangat dibutuhkan oleh hidup sebagai bangsa dan Negara itu sendiri.

Pada dasarnya negara demokratis harus menciptakan itu, keberagaman dalam kemajemukan preferensi dari warga Negara. Tepatnya berpihak pada yang lemah dan menyadarkan yang kuat agar tidak semena-mena dalam menjalani hidup bersama. Tetapi di banyak negara, katakanlah "Eropa" sekalipun yang kita anggap sebagai model peradaban maju di dunia saat ini. Disana masih banyak terjadi kasus rasialisme antara kulit hitam dan putih. Juga bagaimana identitas sangat berperan penting dalam kemenangan Donal Trump pada pemilihan Presiden Amerika Serikat.

Jika realita ini dari suatu "takdir" sebagai demokratis, saya menyimpulkan bahwa takdir adalah suatu kebetulan yang berdasar dari apa yang ingin kita wujudkan. 

Ada mulanya, jika kekuasaan adalah barang yang diperebutkan, praktis segala upaya menang untuk berkuasa, apapun cara akan dilakukan, bukankah menjadi wajar ketika politik memecah belah kita sebagai warga negara? Bahkan peperangan yang pernah  terjadi dan sedang terjadi saat ini karena kekuasan politik? 

Saya menganggap sejarah peradaban manusia merupakan sejarah pertentangan. Ketika mereka pernah kalah, berharap untuk menang, jika mereka pemenang, mereka tidak akan mungkin mau kalah. Itulah bagaimana kehendak akan kuasa manusia berbicara. Kehendak kuasa menjadi sangat mungkin, bahkan pada ideologi demokrasi itu sendiri yang selama ini masyarakat dunia agung-kan. Tetapi?

Bukan tanpa sejarah panjang Bangsa dan Negara kita menuju dan menapaki jalan sebagai masyarakat demokratis. Indonesia yang notabane-nya adalah Negara muda pada saat itu "pasca kemerdekaan" mencari cara bagaimana menjadi bangsa yang demokratis. Kita bisa mengerti, pada sila ke empat dari dasar negara kita "Pancasila" yaitu demokrasi.

Tetapi penafsiran akan demokrasi yang terkandung dalam Pancasila mengalami interpretasi berbeda-beda dari penguasa. Tentu interpretasi bentuk demokrasi tergantung pada siapa dan punya kepentingan apa dalam berkuasa. Pendek kata "demokrasi adalah milik yang berkuasa".

Perjalanan demokrasi milik kekuasaan

Bicara demokrasi tentu tidak dapat lepas dari siapa dan bagaimana yang berkuasa. Dimulai dari Indonesia muda, yakni di masa Presiden Soekarno. Menurut Soekarno, demokrasi Indonesia merupakan suatu cara dalam membentuk pemerintahan yang membentuk hak kepada rakyat untuk turut serta dalam pemerintahan.

Demokrasi terpimpin sendiri menciptakan hal yang justru anti pada tatanan demokratis sebagai negara. Berbagai hal kontra demokrasi yang ditimbulkan masa demokrasi terpimpin oleh Presiden Soekarno; Pembubaran DPR, masa jabatan Presiden seumur hidup, Militer terjun dalam dunia politik, banyaknya penyimpangan UUD 1945, dan masih banyak masalah lainnya sebagai anti demokrasi itu sendiri.

Dewan Perwakilan Rakyat sendiri sangat dibutuhkan pada demokrasi. Bagaimanapun keberadaannya mempunyai peran yang sangat vital bagi rakyat yang ingin menyuarakan aspirasi terhadap negara. DPR adalah akses suara menuju istana Negara, itu lembaga yang legal sebagai fasilitator demokrasi. Menjadi lembaga yang menyatukan rakyat dan penguasa.

Meskipun DPR dinilai tidak mempunyai efek apa-apa bagi kebanyakan masyarakat kini tetapi menurut saya, kualitas DPR memang ditentukan orang yang menduduki jabatan di DPR itu sendiri. 

Jadi masalahnya bukan pada lembaganya, tetapi ada pada manusianya yang memanfaatkan DPR sebagai ajang mencari pendapatan kapital bukan membela kepentingan rakyat. 

Jika ini terjadi mungkin karena untuk menjadi penyelenggara Negara sendiri dibutuhkan modal yang sangat kuat, tentu modal itu sebagai modal memobilisasi suara masyarakat. Dalam demokrasi, pemilu sendiri menjadi menjadi cirri bagaimana jalannya demokrasi di suatu Negara.

Jabatan seumur hidup Presiden sendiri membuat pagar bagi rakyat yang akan berturut serta dalam membangun negara. Jelas, sistem ini bertengangan dengan demokrasi menurut pemahaman Soekarno sendiri bahwa, "setiap rakyat punya hak untuk membangun bangsa dan negara lewat pemerintahan termasuk menggantikannya sebagai Presiden".

Kemudian masuknya Tentara dalam politik menjadi cikal bakal Indonesia melahirkan Orde Baru yang sangat anti demokratis. Adalah soeharto Presiden pada masa kepemimpinan Orde Baru. Bukan hanya menciptakan pemerintahan yang militeristik, totaliternya pemerintahan Orde Baru juga represif terhadap masyarakat sipil yang kritis menetang kebijakan negara.

Melakukan kontrol keras pada kebebasan pers yang menjadi ciri sebagai masyarakat demokratis itu yang dilakukan pemerintahan Orde Baru. Peristiwa Malari (malapetaka 15 januari), malari adalah peristiwa demonstrasi mahasiswa dan kerusuhan sosial yang terjadi pada 15 Januari 1974. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3