Mohon tunggu...
KOMENTAR
Cerpen Pilihan

Pertemuan

21 Maret 2019   16:59 Diperbarui: 21 Maret 2019   17:10 32 0

Sesekali muncul keingintahuan seperti apa dirimu sekarang. Apakah kamu menjadi seorang pria yang disegani lengkap dengan dasi melingkari lehermu, memiliki ruang kantor di luar kubikel, memimpin rapat, mengatur banyak orang di bawah nada suara maumu.

Muncul pula keingintahuan seperti apa perempuan yang mendampingi hidupmu. Apakah dia perempuan tinggi semampai, bermata bulat berwarna hitam, menyiapkanmu makan pagi, mengantarmu dengan kecup yang dibumbui doa diantara gemerlap senyum pagi.
 
Keingintahuan lainnya seperti apa anak-anakmu. Apakah mereka makhluk lucu-lucu yang membuatmu selalu rindu pulang ke rumah, memaksamu bekerja tanpa lelah, sandaran yang mewujudkan impianmu, mengisi hari-harimu dengan pertanyaan-pertanyaan yang kamu sendiri tidak tahu jawabnya.  

Keingintahuan dalam untaian pertanyaan mendorong pemiliknya untuk mencari jawaban. Walaupun ada yang mengatakan bahwa tidak ada jawaban adalah jawaban. Keadaan ini tidak berlaku untuk keingintahuanku tentangmu, setelah berpuluh tahun tak sua. Setelah kamu meninggalkanku tanpa berselamat tinggal. Tanpa memberi tanda bahwa tali halus yang kamu ikatkan pada setiap nafasku telah kamu gunting.

Aku selalu menduga-duga, kamu malu jika berjalan di altar pernikahan sejajar denganku, katamu aku terlalu jangkung. Aku juga mengira-ngira, kamu enggan berbagi hari denganku, katamu aku terlalu senang di rumah. Aku membayangkan, kamu malas bertukar pendapat denganku, katamu aku terlalu menyederhanakan masalah, terlalu dilogiskan. Aku menyimpulkan tidak adanya surat yang biasa kuterima dari pos setiap hari Sabtu adalah kata putus tanpa perangko. Aku belajar bahwa untuk lepas dari pemenuhan mengasihi, cukup dengan tidak memberi kabar, tidak ada kontak, tidak ada kunjungan. Kata 'tidak' harus diakui kehebatanya. Dengan menggunakannya semua makna yang asalnya positif menjadi negatif. Kamu 'tidak' datang, maknanya telah negatif pandanganmu tentangku.

Dari tahun ke tahun aku bergumul dengan tanya tentangmu, mencari jawaban kenapa kamu pergi tanpa kulihat punggungmu meninggalkan ruang tamu yang biasa kamu sebut ruang bersejarah. Aku masih menyisakan sedikit tempat di rumah hatiku barangkali kamu pulang membawa impian yang kita berdua pernah rancang. Jendela hatiku masih terbuka untuk menerima hembusan kabar keberhasilanmu memetik hasil kuliah. Genting-genting hatiku masih melindungi sengatan tatap harap dari pria yang datang silih berganti. 

KEMBALI KE ARTIKEL