Mohon tunggu...
KOMENTAR
Humaniora Artikel Utama

Berbeda-beda, Tetapi Tetap Sarung

24 September 2015   17:33 Diperbarui: 24 September 2015   19:14 1496 20



Masyarakat dunia yang tidak akrab dengan sarung seringkali menerjemahkan sarung sebagai ‘skirt’ atau rok, alih-alih ‘kain panjang’ atau ‘sarong’. Memang, konsep kain yang satu ini terbilang unik. Bagi pengamat awam, tampilan kain ini lebih menyerupai rok panjang yang lebar. Namun tidak demikian halnya bagi masyarakat Asia Tenggara, Asia Selatan, Afrika Utara, Timur Tengah, dan Semenanjung Arab. Pada kain yang tak putus ini, terkandung identitas dan sejarah  suatu suku atau negara. Penggunaannya telah mengakar, pula menyiratkan simbol perjuangan melawan para kolonial yang lebih suka mengenakan busana ala Eropa.

Alternatif Berbusana
Sarung bisa jadi merupakan sebuah inovasi gaya berpakaian di Nusantara pada abad ke-14. Sebelumnya, rakyat dan kaum bangsawan di Nusantara biasa mengenakan sehelai kain yang sekadar dililitkan pada bagian perut dan pinggang. Lalu bagian ujung kain yang tersisa dibiarkan menjuntai (atau dalam kalangan keraton Jawa, juntaian tersebut dikreasikan menjadi wiron). Pada abad ke-14, para pedagang dari Gujarat dan Arab datang ke Nusantara dengan membawa sarung, yakni kain yang kedua ujungnya sudah disatukan dengan jahitan, sehingga menyerupai bentuk sebuah silinder tanpa tutup dan alas.

Kain jenis tersebut kerap digunakan untuk membungkus tubuh mulai dari pinggang hingga kaki. Sebenarnya fungsinya sama seperti kain yang biasa digunakan oleh masyarakat kita pada zaman tersebut. Tetapi, karena pada kedua sisi ujungnya telah dijahit, sarung lebih mudah diaplikasikan daripada kain yang tidak dijahit. Karena itulah, sarung segera menjadi populer di kalangan para pedagang. Selanjutnya, para pedagang mengenalkan sarung kepada rakyat dan lingkungan istana.

KEMBALI KE ARTIKEL