Mohon tunggu...
KOMENTAR
Edukasi

Kuliah Mudah dengan Copy-paste

29 November 2013   14:47 Diperbarui: 24 Juni 2015   04:32 880 3

Tulisan ini berhubungan dengan isi artikel yang dibuat oleh Kompasianer Agung Kuswantoro yang berjudul Meng-kliping Google. Tulisan beliau sangat relevan dengan suatu 'cara' yang dalam pandangan saya mulai berkembang menjadi 'kebiasaan'. 'Cara' tersebut adalah melakukan copy-paste (membuat salinan), khususnya dalam perkuliahan. Copy-paste di sini adalah terbatas pada yaitu sekedar apa yang disebut ‘mengkliping Google’ sebagaimana diungkapkan pada artikel tersebut. Tulisan ini tidak bermaksud mengulang, menentang, atau menandingi, tetapi sebatas mencoba memberi tambahan perspektif mengenai topik yang dibahas.

Albert Einstein pernah menyatakan menyesal terkait pengembangan bom nuklir yang menghancurkan Hiroshima dan Nagasaki. Penemuannya yang sangat maju dalam ilmu pengetahuan tetapi ternyata telah dimanfaatkan untuk membunuh sekian banyak manusia dan memundurkan keberadaban manusia sendiri. Namun saya tidak mengetahui, apakah penemu fitur copy (salin) dan paste (tempel) pada program pengolah kata juga pernah menyesal?

Pertanyaan besar tentang copy-paste adalah, apakah copy-paste merupakan musuh intelektualitas? Ketika copy-paste dimanfaatkan dalam dunia pendidikan, maka copy-paste juga membawa potensi merusak perkembangan peradaban. Atas nama kecepatan, copy-paste dapat membuat pengguna mengurangi kemampuan berpikirnya secara sukarela. Pada saat melakukan copy-paste, pembelajaran terjadi hanya sebatas memilih keyword pencarian yang tepat, memilih hasil pencarian yang ‘kira-kira’ tepat, membaca judul artikel sumber, dan kemahiran membaca kilat. Mahasiswa menjadi kompilator, dan gagap dalam gerakan pembangunan kesadaran kritis di masyarakat. Menjadi sama lugu dengan jenis demonstran yang ketika ditanya tidak dapat menjelaskan secara mendalam apa tuntutannya.

KEMBALI KE ARTIKEL