Mohon tunggu...
KOMENTAR
Sosbud

“Berdirinya Gerakan Pemberontak, Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI)

4 Agustus 2021   17:30 Diperbarui: 4 Agustus 2021   19:10 489 0

Pemberontakan PRRI atau Permesta adalah salah satu peristiwa yang amat penting bagi bangsa Indonesia. Pada tanggal 15 Febuari tahun 1958, munculnya gerakan yang menentang pemerintah pusat, Letnan Kolonel Ahmad Husein yang menegaskan pembentukan PRRI sebagai tandingan melawan pemerintahan di Jakarta yang sah pada saat itu.
Ada beberapa hal yang menjadi pemicunya, contohnya ketidakeharmonisan pemerintah pusat dan pemrintah daerah terutama di daerah Sumatera dan Sulawesi. Hal ini merupakan akibat dari masalah otonomi daerah serta pertimbangan keuangan antara pusat dan daerah. PRRI adalah singkatan dari Pemrintah Revolusioner Republik Indonesia, sementara Pemesta adalah singkatan dari Perjuangan Semesta atau Perjuagan Rakyat Semesta. Pemberontakan keduanya sudah muncul saat menjelang pembentukan Republik Indonesia Serikat (RIS) pada tahun 1949. Akar masalahnya yaitu saat pembentukan RIS pada tahun 1949 bersamaan dengan dilengserkannya Divisi Banteng yang hanya menyisakan 1 brigade saja.
Kemudian, brigade tersebut diperkecil menjadi Resimen Infanteri 4 TT I BB. Kejadian itu membuat pewira dan prajurit Divisi IX Banteng merasa kecewa, karena mereka merasa telah memperjuangankan negaranya untuk kemerdekaan Indonesia. Selain itu, adanya tidak kepuasan dari beberapa daerah seperti Sumatera dan Sulawesi terhadap alokasi biaya pembangunan yang diberikan oleh pemerintah pusat.
Upaya Perumpasan PRRI
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, alasan pemberontakan ini terjadi akibat kesengajaannya antar pemerintah pusat di Jawa dengan berbagai daerah di luar pulau Jawa. Berikut adalah beberapa upaya dalam perumpasan PRRI, yaitu :
1. Pemecatan
Upaya pertama yang dilakukan oleh Pemerintah adalah memecat beberapa anggota militer yang terlibat dalam PRRI, seperti Letnan Kolonel Ahmad Husein.
2. Operasi militer
Selain itu, dilaksanakan pula beberapa operasi militer, sepeti Operasi Tegas yang di pimpin oleh Letnan Kolonel Kaharudin Nasution dimana Riau adalah salah satu daerah sasarannya.
3. Mendesak kabinet Djuanda dan Nasution
Usaha lain yang dilakukan oleh Pemerintah RI yaitu mendesak Kabinet Djuanda dan Nasution. Kedua Kabinet ini menginginkan pemberontakan tersebut dihentikan dengan tegas.
4. Mengirim pasukan-pasukan
Tepat awal Maret, pasukan Divisi Diponegoro dan Siliwangi yang dipimpin oleh Kolonel Ahmad Yani mendarat di Pulau Sumatera. Namun, sebelum itu Nasution sudah mengirimkan Pasukan Resmi Para Komando Angkatan Darat.
5. Melakukan Operasi Merdeka
Upaya pemerintah untuk merumpaskan PRRI selanjutnya yakni mengadakan Operasi Merdeka pada bulan April 1958 yang di pimpin oleh Letnan Kolonel Rukminto Hendradiningrat.
Dewan-Dewan Militer Daerah
Beberapa dewan daerah perjuangan yang dibentuk PPRI/Permesta pada tahun 1956-1957, meliputi :
1. Dewan Banteng, dewan yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Ahmad Husein dengan wilayah Sumatera Barat dan dibentuk pada tanggal 20 Desember tahun 1956.
2. Dewan Gajah,, dewan yang di pimpin oleh Kolonel Maludin Simbolon, daerahnya berpusat di Sumatera Utara dan dibentuk pada tanggal 22 Desember tahun 1956.
3. Dewan Garuda, dewan yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Barilan dengan wilayahnya yang berlokasi di Sumatera Selatan dan dibentuk pada pertengan bulan Januari 1957.
4. Dewan Manguni, dewan yang di pimpin oleh Ventje Sumal dewan manguni satu-satunya dewan yang berlokasi di Sulawesi yang berasa di Manado, Sulawesi Utara dan dibentuk pada tanggal 17 Febuari 1957.
 
Tokoh-Tokoh PRRI
Letnan Kolonel Ahmad Husein, Mr. Assaat Dt. Mudo, Maluddin SImbolon, Prof. Dr. Soemitro Djojohadikoesoemo, Moh. Syafei, J. F. Warouw, Mr. Sjafruddin Prawiranegara, Muchtar Lintang, Saleh Lahade, Ayah Gani Usman, Saladin Sarumpaet, dan Dahlan Djambek.
 
Tokoh PERMESTA
Letnan Kolonel Ventje Sumual, Kapten Wim Najoan, Mayor Eddy Gagola, Mayor Dolf Runturambi, Kolonel D. J Somba, Kolonel Alexander Evert Kaliwarang.
 
Pemimpin PPRI Menyerahkan Diri ke Pemerintah
Dalam waktu yang sangat singkat opersi gabungan dapat melawan perlawanan PPRI. Satu persatu pemimpin PPRI menyerahan diri pada pemerintah. Pada tanggal 29 Mei tahun 1961 Letnal Kolonel Ahmad Husein beserta pasukannya melaporkan diri.
Akhir PRRI/Permesta
Pemerintah pusat menganggap aksi PRRI/Permesta adalah sebagai bentuk pemberontakan. Menurut Phill anuel Sulu melalui buku Permesta dalam Romantika, Kemelut dan Misteri (2011), gerakan PRRI di Sumatera mampu dipadamkan oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam waktu yang singkat.
Di Sulawesi, Permesta juga mulai kewalahan meskipun dikabarkan sempat mendapat bantuan dari beberapa negara asing seperti Amerika Serikat, Taiwan, Jepang, dan juga Filipina. Geraka  PRRI/Permesta mulai di redam pada Agustus 1958. Tahun 1961, Presiden Soekarno membuka kesempatan kepada mantan anggota PRRI/Permesta untuk kembali ke pangkuan NKRI dan juga di berikan amnesti.
 
Daftar Pustaka
Arif Pradono. 2018 . Sejarah Indonesia. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud.

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan