Mohon tunggu...
KOMENTAR
Media

Awas! Ada Teroris di Kompasiana

13 September 2011   17:05 Diperbarui: 26 Juni 2015   01:59 1768 30

Maaf, para pembaca. Inilah artikel terakhir saya di sini. Saya memutuskan untuk "bunuh diri" karena merasa tidak berdaya menghadapi ulah teroris yang sudah keterlaluan dalam mengancam eksistensi tulisan saya di sini.

Anda boleh menganggap saya ngambeg atau caper (cari perhatian) atau apa pun cap negatif lainnya. Bagaimanapun, saya tidak sanggup menghasilkan karya tulis yang sebaik-baiknya bila diteror tanpa perlindungan yang memadai. Sedangkan saya tidak mau mempersembahkan tulisan yang asal-asalan ke hadapan para pembaca.

Teror terakhir yang kini sukses membunuh keberadaan saya di sini terjadi pada kemarin lusa. Saat itu, sesudah beberapa jam ditayangkan, artikel saya yang berjudul "Inilah 10 Pria Idaman Wanita di Kompasiana" menarik perhatian Admin, sehingga dimasukkan ke kolom "Terekomendasi".

Namun baru beberapa puluh menit nangkring di situ, artikel tersebut dilanda teror. Seorang kompasianer "gelap" (yang belum terverifikasi & belum pernah menulis artikel di Kompasiana) tiba-tiba menteror kita melalui komentar terhadap artikel saya tersebut. Dia menulis: "TULISAN BEGINI MASUK TEREKOMENDASI???? DASAR GOBLOK!!!!!!!!!!!!!!!!!" Dia pun mengcopy-paste komentarnya itu sampai puluhan kali di ruang komentar pada artikel saya tersebut.

Saya tidak mengerti mengapa si teroris menyerang artikel saya itu. Dimasukkannya artikel tersebut ke kolom Terekomendasi bukanlah kemauan saya (dan para pembaca lainnya). Tidak pernah saya meminta Admin untuk menempatkannya di situ. Mengapa sayalah (dan para pembaca lainnya) yang dijadikan sasaran teror?

Mendapat teror seperti itu, saya tidak berdaya untuk mengatasinya. Memang, bisa saja saya menghapus komentarnya satu demi satu. Namun tak ada jaminan bahwa dia takkan kembali melancarkan teror seperti itu. Karena itu, saya putuskan, lebih baik meminta perlindungan kepada Admin yang memiliki kekuasaan penuh di media sosial ini. (Di layanan blog gratis lainnya, seperti di Blogspot, Wordpress.com, Blogdetik, Dagdigdug, dll, kita selaku blogger diberi wewenang untuk memfilter komentar yang masuk. Namun di Kompasiana, hanya Adminlah yang berkuasa melakukannya.)

Namun reaksi Admin membuat saya sangat tercengang. Sungguh, saya tak habis pikir. Bukannya memberi perlindungan kepada saya yang sedang diteror, Admin justru memenuhi tuntutan teroris itu. Artikel saya tiba-tiba dikeluarkan dari kolom terekomendasi. Sedangkan Admin tidak melakukan tindakan apa pun untuk membuat saya merasa terlindung dari aksi teroris. (Mungkin Admin sedang sibuk dengan urusan lain yang lebih penting.)

Itulah sebabnya, saya memutuskan untuk "bunuh diri". Setelah artikel yang sedang Anda baca ini, takkan ada lagi artikel Ma Sang Ji.

Namun selaku "siluman", saya tidak mau dikalahkan begitu saja oleh ulah kaum teroris. Mulai sekarang, saya akan "menghantui" para teroris itu, terutama melalui kolaborasi saya dengan sejumlah kompasianer feminin yang bersatu dalam sebuah klub penulis bernama "A Sia Na".

Selain melalui klub tersebut, saya juga akan menjadi Siluman Feminin yang "menghantui" para teroris melalui duet kolaborasi dengan sejumlah kompasianer "maskulin", seperti Pak Michael Sendow, Pak Katedra Rajawen Jr, Pak Odi Shalahuddin, Mbak Soyo Kaze, Mbak Ella Zulaeha, ....

Kepada para pembaca dan rekan-rekan kompasianer yang selama ini telah menerima keberadaan saya di sini dengan hangat, saya menghaturkan terima kasih dan memohon maaf yang sebesar-besarnya. Saya harap Anda masih menyambut hangat keberadaan saya walau dalam wujud lain. (Dari para kompasianer yang mendukung keputusan saya tersebut, saya harap dukungannya diwujudkan pula dalam bentuk vote AKTUAL.)

Salam cerdas. ;)

KEMBALI KE ARTIKEL