Mohon tunggu...
KOMENTAR
Analisis Artikel Utama

Bruce Lee, Nasruddin Hoja, dan Sandiaga Uno

21 April 2019   23:13 Diperbarui: 22 April 2019   16:57 4583 38

Sepintas tak terlihat adanya hubungan antara Bruce Lee, Nasruddin Hoja, dan Sandiaga Uno. Tapi bagi mereka yang pernah membaca atau mendengar filsafat "seni berpulang" (the art of dying) dari Bruce Lee dan kisah-kisah bijak jenaka dari Nasruddin Hoja, mungkin tak terlalu sukar meraba kaitannya  dengan  dengan kondisi psikologi-politik Sandiaga hari-hari ini.
 
Saya akan jelaskan satu per satu secara ringkas, sebelum tiba pada sebuah kesimpulan hipotetis.
 
***
Bruce Lee, nama aslinya Lee Jun-fan (1940-1973), adalah aktor Hongkong-Amerika yang sohor  sebagai ahli seni beladiri, sutradara sekaligus filsuf Timur khususnya China. Dia adalah pencipta seni beladiri hibrida Jeet Kune Do yang dicirikan kecepatan dan ketepatan yang "mematikan".
 
Publik mungkin lebih mengenal Bruce Lee sebagai aktor film laga legendaris produksi Hongkong. Khususnya film "The Big Boss", "Fist of Fury", "Way of the Dragon", "Enter the Dragon", dan "Game of Death" yang menyajikan kehebatan sekaligus filosofi beladiri Jeet Kune Do.
 
Padahal sebagai seorang filsuf, kearifan Bruce Lee tak tanggung-tanggung pula. Sekurangnya dia menulis dua buku filsafat beladiri yaitu "Chinese Gung-Fu: The Philosophical Art of Self Defense" (1963) dan "Tao of Jeet Kune Do" (1973).
 
Salah satu ajaran filosofisnya adalah "seni berpulang" (the art of dying) dan hidup mengalir bagaikan air (be water). Kata Bruce Lee, "... kau ingin belajar cara menang, tapi tak pernah belajar cara kalah. Menerima kekalahan, belajar mati, berarti membebaskan diri darinya. Sekali menerima hal ini maka kau bebas mengalir dan menyelaraskan diri."  
 
"Mati" yang dimaksud Bruce Lee di situ adalah  metafora pelepasan "masa lalu" (the past) yang menjadi "pembatas" (limitation) diri. Hanya dengan melepas masa lalu yang bersifat membatasi, hidup seseorang bisa mengalir ke masa depan yang lebih baik.  
 
Kata Bruce Lee, hidup harus seperti air yang tanpa bentuk dan selalu menyelaraskan diri dengan lingkungannya. Karena itu pikiran harus dikosongkan, lalu menjadilah tanpa bentuk (formless) bagaikan air. Air dalam cangkir menjadi cangkir, dalam botol menjadi botol, dan dalam teko menjadi teko. Air dapat mengalir atau membobol penghalang. Maka, jadilah air.
 
Praktisnya, jika mengalami kekalahan falam hidup maka terimalah dengan legowo, sehingga merdeka darinya. Dengan begitu, kekalahan itu tak menjadi pembatas lagi, sehingga hidup bisa mengalir terus menuju titik kemenangan baru.
 
***
Nasruddin Hoja adalah seorang sufi satiris yang hidup pada abad ke-13 di Kesultanan Rum Seljuk, sekarang Turki. Nasruddin dikenal sebagai seorang filsuf sekaligus orang bijak yang terkenal dengan anekdot-anekdotnya yang jenaka tapi cerdas edukatif.  
 
Anekdot-anekdot Nasruddin sejatinya adalah kritik sosial pada masyarakat dan penguasa di jamannya. Agar tak menyinggung perasaan pihak yang dikritik, Nasruddin selalu menggunakan namanya sendiri sebagai tokoh anekdotnya.
 
Dari banyak anekdot Nasruddin ada satu yang telak  menertawakan kedunguannya sendiri karena percaya pada kebohongan yang dibuat sendiri.  
 
Ceritanya begini. Suatu siang sekelompok anak kecil riuh bermain sehingga mengganggu istirahat Nasruddin. Untuk mengusir anak-anak itu, dia mengarang cerita bohong. Kayanya,  "Anak-anak, di kampung sebelah ada pesta nikah dan  mereka membagi-bagikan kue-kue untuk anak kecil. Cepat pergi ke sana sebelum kuenya habis."
 
Anak-anak itu langsung berlarian dengan penuh semangat ke kampung sebelah. Demi melihat anak-anak berlarian gembira, Nasruddin heran lalu berseru, "Hei, anak-anak! Kenapa kalian lari ke sana!" Jawab anak-anak itu, "Ada pembagian kue-kue di sana!" Nasruddin membatin, "Mungkin benar ada pembagian kue di sana." Lalu berlari mengikuti anak-anak tadi ke kampung sebelah."
 
Anekdot Nasruddin itu sebenarnya merupakan kritik pada penguasa yang mengulang-ulang cerita bohong, dengan maksud menyembunyikan kenyataan, sehingga bukan hanya rakyat saja tapi penguasa itu sendiri pada akhirnya percaya bahwa kebohongannya itu adalah kebenaran.
 
***
Kritik pada kebohongan penguasa masa kini dalam bentuk anekdot antara lain dapat dibaca dalam buku lelucon suntingan D. Dolgopolova, "Mati Ketawa Cara Rusia" (Grafiti Press: Jakarta, 1982). Humor-humor dalam buku itu pada umumnya adalah kritik sosial terhadap perilaku pemerintah dan rakyat  Rusia sampai era pemerintahan L. Brezhnev (1964-1982), atau sebelum era "glasnost"-nya M. Gorbachev (1985-1991).
 
Salah satu lelucon dalam buku itu menertawakan "kebiasaan" Pemerintah Rusia di masa lalu  menyebarkan berita bohong untuk meyakinkan rakyat bahwa teknologi Rusia itu lebih hebat dibanding Amerika.
 
Dikisahkan pada suatu hari di jalan tol Chicago-New York sebuah mobil Zaporozhets buatan Rusia harus dihela mobil Buick buatan Amerika karena mesinnya mogok. Tiba-tiba sebuah mobil Ford melesat mendahului. Pengemudi Buick  panas hati lalu tancap gas mengejar Ford tadi. Pengemudi Zaporozhets yang dihela Buick membunyikan klakson terus-menerus karena komponen mobilnya copot berhamburan akibat terseret dalam kecepatan tinggi.
 
Besoknya koran-koran Rusia menurunkan berita bahwa kemarin dua mobil buatan Amerika kejar-kejaran di jalan tol Chicago-New York. Di belakangnya sebuah mobil Zaporozhets buatan Rusia membunyikan klakson bertalu-talu meminta jalan untuk mendahului.
 
Silahkan menertawakan penguasa Rusia tempo dulu, sambil mengingat bahwa hal serupa ternyata terjadi juga di Indonesia masa kini. Maksud saya Indonesia tahun 2019 ini.
 
Jelasnya, seusai pemungutan suara pada Pilpres Rabu 17 April 2019 lalu, lima lembaga survei terakreditasi yang ditunjuk KPU melaporkan hasil hitung cepat (quick count) yang menampilkan kemenangan capres/cawapres Jokowi-Ma'ruf (55  persen) atas Prabowo-Sandi (45 persen).
 
Beberapa saat kemudian Capres Prabowo mendeklarasikan, atau mengklaim secara sepihak, bahwa berdasarkan hasil "real count" internal maka Prabowo-Sandi telah memenangi Pilpres 2019 dengan jumlah suara 62 persen. Klaim kemenangan itu sudah empat kali dinyatakan dalam tempo dua hari yaitu Kamis-Jumat, 17-18 April 2019. Dengan lantang Prabowo mendeklarasikan bahwa dirinya dan Sandiaga akan dan sudah menjadi Presiden dan Wapres RI periode 2019-2024.
 
Klaim Prabowo atas kemenangannya itu kemudian diamini oleh para pendukungnya yang melakukan syukuran atas kemenangan Prabowo-Sandi pada Pilpres 2019. Klaim kemenangan ini terus-menerus diteriakkan dan disebar-luaskan dengan harapan pada satu titik waktu akan diterima publik (pendukung) sebagai "kebenaran".
 
Secara obyektif, klaim Prabowo atas kemenangannya dalam Pilpres 2019 sejatinya tergolong dalam kategori "kebohongan".  Alasannya sederhana saja. Pertama, klaim itu didasarkan pada hasil "real count" yang dilaksanakan sebuah "lembaga internal" yang tidak diketahui keberadaan, profil dan akreditasinya. 

KEMBALI KE ARTIKEL