Mohon tunggu...
KOMENTAR
Novel

Kabar dari Seberang

22 Maret 2020   10:24 Diperbarui: 22 Maret 2020   10:41 17 0

Kabar dari Seberang

Suasana meriah yang menyelimuti bandar Nyiurmelambailambai selama sepasar Pesta Laut berlangsung perlahan-lahan mereda seiring dengan selesainya acara. Pasar malam yang berlanjut hingga satu pasaran kemudian hanya sanggup mempertahankan sisa-sisa semangat yang tertinggal. Begitu pasar malam usai, maka semua kembali seperti sediakala. Meskipun bandar tetap ramai oleh kegiatan dagang, ramainya tidak pernah bisa menggantikan kemeriahan Pesta Laut. Ya, perginya Pesta Laut membawa serta kemeriahannya. Seperti halnya mongso terang yang juga pergi membawa serta kemungkinan hujan di mongso paceklik yang menyusul kemudian.

Pancaran sinar matahari memang terasa semakin menjadi-jadi belakangan ini. Sinarnya menjerang semua yang kena; perairan, daratan, juga manusia dengan segala suasana hidupnya. Suasana panas di kalangan muda yang terbangun dibalik bayang-bayang selama berlangsungnya Pesta Laut menjadi semakin panas. Darah muda mereka yang gampang panas meluap oleh segala pergesekan yang telah terjadi, siap tertumpah!

Namun, bukan hanya muda mudi Nyiurmelambailambai saja yang sedang diliputi kegelisahan. Seluruh perairan Nusantara pun sedang diliputi kegelisahan yang berpangkal pada peristiwa yang terjadi di salah satu negeri di barat Nusantara, yang lantas menjalar ke segala penjuru. Jika kegelisahan punya rupa yang bisa ditangkap mata, tentu dapat kita lihat kegelisahan itu sedang mengekor kapal dagang yang mendekati Nyiurmelambailambai dari arah barat. Dari benderanya dapat diketahui kapal dagang itu milik Nyiurmelambailambai.

Dengung bunyi gong yang dipukul tiga kali memberitahukan orang-orang, terutama para pedagang dan pekerja pelabuhan, akan kedatangan kapal itu jauh sebelum sosoknya bisa dilihat mata orang yang berada di bandar.

Kapal itu melaju mantap ketika mengubah haluannya menuju dermaga. Masih ada tempat yang tersisa di dermaga untuk bersandar.

Para pekerja berdatangan menyambut berlabuhnya kapal dagang itu. Namun, mereka menjadi heran ketika mendapati tampang para awak kapal yang tegang dan memancarkan kekalutan. Mereka lebih terheran-heran lagi ketika orang yang pertama turun, sang nakhoda, malah memarahi mereka.

"Bubar! Bubar! Tidak ada muatan untuk kalian bongkar!" sang nakhoda berseru-seru gusar. Tampangnya pun tidak kalah tegang dari anak buahnya.

Sang nakhoda berlalu dengan langkah tergesa-gesa meninggalkan dermaga serta para pekerja yang pada terdiam membeku di tempat mereka berdiri.

Sang nakhoda menuju kesyahbandaran. Di sana dia langsung menemui syahbandar di ruangannya.

Di ambang pintu sang nakhoda berhenti sejenak, menyembah dada dan memanggil, "Tuan Syahbandar!"

Syahbandar yang sedang sibuk memeriksa catatan dengan seorang pegawainya mengangkat pandang sekilas. "Oh, engkau, San," jawabnya sambil membalas sembah. Kemudian pandangnya kembali menekuri permukaan meja. "Cepat sekali engkau kembali."

"Ampun, Tuan Syahbandar. Saya langsung berlayar kemari setelah dari Pasai."

Syahbandar yang menyadari adanya kejanggalan mengalihkan perhatian dari pekerjaannya. Nakhoda itu, Santika namanya, adalah teman lama Syahbandar. Mereka seangkatan ketika belajar di Perguruan Naga dulu. Kecuali bila melibatkan punggawa lain, perbincangan di antara keduanya jarang menggunakan gaya bicara resmi. Oleh sebab itu, begitu Syahbandar melihat raut wajah kawannya, tahulah dia ada yang tidak beres.

"Ada apa? Bicaralah seperti biasa."

Santika malah menundukkan pandang dan diam. Sikapnya itu semakin membangkitkan penasaran. Syahbandar lantas mengubernya dengan pertanyaan.

"Kenapa kau langsung kembali? Bukankah engkau ada urusan dagang di Malaka?"

Santika langsung menegakkan pandang ketika mendengar pertanyaan terakhir. Syahbandar bisa dengan jelas melihat kekalutan yang terpancar dari wajah tegang Santika. Mata mereka bertemu hanya untuk menularkan resah dari satu pihak ke pihak lainnya. Kegelisahan yang dibawa Santika dari seberang lautan telah sampai kepada Syahbandar.

Santika mengangkat sembah lagi. Kali ini tinggi hingga kedua telapak tangannya yang tertaut berada tepat di depan wajah. Meringis hingga terpejam matanya, dia sedikit menundukkan kepala.

"Beribu ampun, Tuan Syahbandar! Sebab saya langsung berlayar kemari, tidak mampir ke Malaka, lantaran saya mencari selamat, Tuan. Malaka, Tuan...." Santika menguatkan diri untuk membuka mata dan menatap Syahbandar yang manik matanya membesar menyambut kabar yang dia dengar. "Malaka jatuh ke tangan Peranggi, Tuan!"

KEMBALI KE ARTIKEL