Mohon tunggu...
KOMENTAR
Sosbud

Sakit Hati Berujung Kematian

23 Oktober 2019   07:34 Diperbarui: 23 Oktober 2019   07:40 18 0

Berita mengenai pembunuhan dengan motif rasa sakit hati, sudah sekian kalinya terdengar ditelinga kita. Sakit hati? Setiap orang pasti tak menginginkannya. Karena bila badan kita sakit masih bisa diobati, tapi sakit hati sulit untuk diobati bahkan meninggalkan bekas yang abadi jika tak mengikhlaskannya. Hal ini sering dialami oleh anak muda yang menjalin asmara,pihak yang sedang berkonflik, bahkan pasangan yang telah menikah pun bisa melakukannya.

Menurut Bambang Widodo Umar,Krimonolog Universitas Indonesia "unsur sakit hati dari pelaku secara spontan dan tiba-tiba. Jadi sekarang ini kasus kriminal diperkotaan mengarah ke tindakan sadis. Bukan lagi murni perampokan tetapi pembunuhan yang dilakukan oleh orang terdekat".  Selain itu Kepala Biro Humas Polri Brigadir Jendral Dedi Prasetyo menyatakan bahwa dari seluruh kasus pembunuhan pada tahun 2018 yang terungkap 80% pelaku dan korban pernah berinteraksi atau memiliki hubungan. Sementara 20% lainnya merupakan pembunuhan dimana pelaku dan korban tidak saling mengenal. Untuk motif pembunuhan sebagian terjadi karena masalah pribadi misalnya sakit hati, masalah persenol, rasa tersinggung dan dendam.

Pola pikir yang sempit, nilai spiritual yang minim menginginkan tindakan yang cepat tanpa memikirkan akibat. Yang terpenting adalah bagaimana ia bisa membalas dan melampiaskan rasa sakit hatinya dengan rasa yang setimpal atau lebih menyakitkan dari apa yang ia rasakan. Dengan ini mengakibatkan banyak tindakan kriminal dan pelanggaran hak asasi manusia terlebihnya didasari oleh rasa sakit hati yang memicu tindakan balas dendam.

Dalam kasus rumah tangga, saat rasa sakit hati bersinggah dirumah yang asri dapat menimbulkan permasalahan hak asasi. Kekerasan dalam rumah tangga, membunuh anggota lain, anak kehilangan pendidikan. Kita ambil satu contoh permasalahan perselingkuhan yang mengakibatkan rasa cemburu, jika rasa mulai memanas bisa menimbulkan tindakan kekerasan hingga berujung kematian. Lalu anak akan ditelantarkan dengan hancurnya rumah tangga sehingga anak kehilangan hak untuk mendapatkan pendidikan. Sehingga anak dimasuki hal-hal yang negatif. Ia menjadi seorang pecandu dunia gemerlap, menjadi seorang ahli kriminal seperti mencuri, pembegal, dan penyelundupan narkoba. Karena pola pikir yang ia punya adalah bagaimana cara dan darimana ia mendapatkan uang secara instan .Dari penjelasan tersebut bisa kita pahami bahwa rasa sakit hati bisa berakibat luas dan fatal.
 
Tak semua orang yang sakit hati membalaskan sakit hatinya dengan dendam tetapi ada yang tak mau melampiaskan kepada orang lain. Lebih baik ia menyimpannya dalam-dalam. Sehingga ia melakukan tindakan bunuh diri, atau merusak dirinya dengan meminum obat-obatan.

Bukan hanya itu di lingkungan masyarakat rasa sakit hati dikarenakan tak menerima apa yang telah dilakukan oleh kelompok lain bisa berakibat perpecahan atau bentrok. Di masa ini tindakan pembunuhan banyak dilakukan oleh anak muda. Ia merasa sakit hati dengan kekasihnya dengan konflik pribadi, hubungan yang tak direstui dan lain sebagainya. Bisa juga berujung dengan membunuh kekasihnya atau bahkan bekerja sama membunuh ayahnya agar tak ada yang menghalangi cinta mereka.

Padahal jika ditelaah konflik permasalahan anak muda perihal cinta yang dibalas rasa sakit hati, bisa diselesaikan dengan biak dan sikap yang lebih manusiawi. Relakah kau kehilangan seorang yang kau cintai dan dia juga mencintai mu hanya karna ada debu menempel dibajunya. 

KEMBALI KE ARTIKEL