Mohon tunggu...
KOMENTAR
Filsafat

Biji Sesawi

18 Oktober 2019   02:59 Diperbarui: 18 Oktober 2019   03:03 6 0

Pada zaman kuno, seorang raja yang sedang berperang, mengirim Alexander the Great sekantong benih wijen yang menunjuk pada pasukan miliknya yang berjumlah besar. Sebagai balasan, Alexander mengirim sekantong biji sesawi --- lebih kecil, tetapi lebih banyak dan lebih kuat!


 Sepanjang sejarah, biji sesawi telah populer, baik sebagai kuliner, untuk penyembuhan, dan juga sebagai simbol.  Seorang penulis kuno mengatakan bahwa biji sesawi akan menyembuhkan gigitan kalajengking.  Lain menyarankan biji itu akan memberi semangat ibu rumah tangga yg malas!  Alexander Agung menggunakan biji sesawi dalam skenario di atas untuk mewakili ukuran dan kekuatan pasukannya.  Baru-baru ini, para ilmuwan telah menemukan bahwa biji sesawi mengandung sejumlah unsur kesehatan, seperti magnesium, asam lemak omega-3, dan zat besi.

 Yesus juga menggunakan biji sesawi sebagai simbol.  Dalam buku Markus, ia membandingkan kerajaan Allah dengan biji sesawi.  Seperti yang dicatat oleh Yesus, biji sesawi adalah benih terkecil yang ditanam oleh petani lokal Palestina, namun umumnya tumbuh hingga ketinggian 12 kaki.

 Demikian pula, kerajaan Allah seringkali dimulai dari yang kecil.  Jika Anda melihat kembali kehidupan Anda, Anda mungkin dapat mengidentifikasi beberapa contoh pilihan atau percakapan yang memulai perjalanan Anda hingga  lebih dekat dengan Tuhan.  Awal dari kerajaan Allah dalam hati kita tidak selalu merupakan peristiwa yang mengesankan.  Sering kali ini hanyalah langkah kecil dan dengan pertumbuhan yg lambat menuju ke depan.  Perjalanan kita dengan Tuhan tidak berkembang dalam semalam, tetapi seperti tanaman sesawi, ia dapat menunjukkan pertumbuhan yang luar biasa ketika ditanam di tanah yang tepat.

Markus 4:30
Kata-Nya lagi: "Dengan apa hendak kita membandingkan Kerajaan Allah itu, atau dengan perumpamaan manakah hendaknya kita menggambarkannya?


KEMBALI KE ARTIKEL