Mohon tunggu...
KOMENTAR
Politik

Ketika Busana Muslim Jadi Jualan Saat Kampanye

25 April 2012   06:02 Diperbarui: 25 Juni 2015   06:08 1522 8

Ketika pulang dari acara Bakti Sosial di kampunya Siti, di Kabupaten Lebak, 10 hari yang lalu, dalam perjalanan menuju Kota Cilegon saya dikagetkan dengan celetukan salah satu teman yang mengkomentari papan iklan bergambar ibu Atut, Gubernur Banten. Dia menyayangkan Banten yang sejak dulu dikenal sebagai daerah yang sangat religius Islami, kenapa pemimpinnya tak mengenakan busana sesuai syariat Islam. Saya perhatikan baik-baik papan iklan itu, ternyata benar! Foto ibu Atut sama sekali tak mengenakan jilbab atupun kerudung. Saya pikir itu mungkin foto lama, foto di saat Bu Atut memang belum berjilbab. Tapi teman saya meyakinkan bahwa itu foto terbaru, sebab wajahnya pun tampak wajah bu Atut yang makin hari kian “cling” saja.

Ternyata beberapa hari kemudian saya baru menyadari, papan iklan bergambar bu Atut yang selalu saya lewati setiap hari saat berangkat dan pulang kantor, sama persis dengan papan iklan yang saya lihat di Kabupaten Pandeglang beberapa hari lalu. Sama-sama tak berjilbab. Lucunya, papan iklan berukuran besar dan berkaki baja itu memiliki 2 sisi, dan gambar di kedua sisi berlawanan. Sampai beberapa minggu lalu, kedua sisi papan iklan itu sama-sama bergambar bu Atut dengan 2 kegiatan yang berbeda, tapi sama-sama mengenakan jilbab. Seingat saya gambar di papan iklan itu memang dipasang menjelang Pilgub Banten tahun lalu.

Papan iklan yang terletak persis di seberang jalan masuk menuju kompleks perumahan Puri Krakatau Hijau itu pada sisi yang menghadap ke selatan, bergambar bu Atut dalam kegiatan di Posyandu, mengenakan jilbab. Sedang di sisi yang menghadap ke utara, gambar yang baru saja diganti, bergambar himbauan untuk membayar pajak, bergambar bu Atut tanpa jilbab. Ternyata gambar yang sama persis saya temukan di pagar depan kantor Dispenda dekat Samsat Cilegon. Iklan layanan masyarakat tentang pajak itu juga bergambar bu Atut tanpa jilbab. Saya sempat mengambil gambar kedua sisi papan iklan yang di kawasan Grogol, depan Puri Krakatau Hijau. Untuk yang di depan Samsat tidak saya ambil karena gambarnya sama persis.

Semua masyarakat Banten tahu, ketika menjelang Pilgub Banten, setidaknya pasca lebaran 2011, sejak bu Atut mantap memilih Rano Karno sebagai pasangannya, beredar poster, spanduk, baliho, umbul-umbul yang bergambar pasangan Atut – Rano dengan penampilan bu Atut memakai busana Muslimah warna putih lengkap dengan jilbab putihnya. Sedang Rano Karno mengenakan baju koko, kopiah hitam dan berselendang sarung. Dalam setiap penampilannya selama berkampanye – baik di panggung kampanye maupun acara debat kandidat di TV – pasangan Atut – Rano ini selalu mengenakan “seragam” kampanye seperti yang dikenakan dalam foto resmi pasangan tersebut, yang juga dipakai sebagai tanda gambar resmi yang dicetak di surat suara.

Ternyata, ketika saya googling, saya temukan spanduk bergambar ibu Atut di setiap event memperingati hari tertentu, semasa masih belum memasuki masa kampanye, semuanya tidak mengenakan jilbab. Baik itu foto ibu Atut sendirian maupun bersama Wagub Banten saat itu, Masduki. Gambar-gambar itu saya download dari situs resmi humasprotokol.bantenprov.go.id. Bisa dilihat, sampai Ramadhan 2011 – sekitar 3 bulan sebelum Pilkada Gubernur Banten – foto ibu Atut yang dipajang masih tidak mengenakan jilbab. Begitupun foto kegiatan ibu Atut ketika HUT RI ke-66 tanggal 17 Agustus 2011, sekitar 2 bulan sebelum Pilgub, masih tidak berjilbab.

Tampaknya, foto berbusana Muslimah plus jilbab putih itu memang di-release khusus untuk foto kampanye Pilgub semata. Itu sebabnya, kini, pasca dilantik kembali, foto-foto di berbagai papan iklan yang sudah sempat diperbarui kembali foto tanpa jilbab.

Saya jadi ingat ibu Megawati saat akan maju dalam Pilpres 2004 berpasangan dengan K.H. Hasyim Muzadi. Saat itu sempat beredar poster dan sticker bergambar foto Mega – Hasyim dimana Megawati mengenakan kebaya berwarna merah agak pink. Tapi menjelang penetapan pasangan sekaligus pengesahan foto pasangan capres yang akan dicetak di surat suara, Mega menarik foto itu dari KPU dan menggantinya dengan foto dirinya berbusana Muslimah plus kerudung warna merah. Ketika berpasangan dengan Prabowo pada Pilpres 2009, kembali foto berkerudung itu yang dipakai sebagai foto saat kampanye.

Jadi, seharusnya kita sebagai rakyat paham betul, bahwa busana yang dianggap identik dengan ciri khas penganut agama Islam memang selalu digunakan oleh hampir semua calon yang berlaga dalam pemilu, baik pemilu legislatif (pileg) maupun pemilu kepala daerah (pilkada) bahkan sampai pemilu presiden (pilpres) sekalipun. Ini wajar, penduduk beragama Islam – setidaknya ber-KTP dengan tulisan “Islam” di kolom agama – jumlahnya mencapai sekitar 85%-an. Secara proporsional, di hampir semua daerah – kecuali daerah yang memang secara historis penduduknya menganut agama selain Islam – pemilih Islam adalah mayoritas. Maka, mereka perlu “dirayu” dengan penampilan calon yang “Islami”.

Coba saja perhatikan para kandidat Cagub/Cawagub, Cawali/Cawawali, Cabup/Cawabup, umumnya jika pria mengenakan baju koko dan kopiah hitam atau topi putih – yang diidentikkan dengan topi “haji” padahal berhaji justru tak boleh memakai tutup kepala bagi kaum pria . Sedangkan calon yang wanita kebanyakan mengenakan busana muslimah plus jilbab atau kerudung. Apakah kesehariannya memang mengenakan busana seperti itu? Tentu harus benar-benar dilihat faktanya. Mulai kapan berbusana muslimah, apakah menjelang ikut dalam ajang kompetisi politik, atau memang sejak lama.

So, bagi yang masih meributkan busana sebagai indikator ke”sholeh”an seorang calon atau sebagai tanda religiusitas sang calon, silakan berpikir, cukup rasionalkah menggugat kadar iman seorang calon pemimpin dari busananya? Bagaimana kalau pakaian itu hanya dikenakan sebagai simbol saat menjelang kampanye dan ditanggalkan pasca terpilih? Kalau pakaian saja bisa dengan mudah dilepas – pakai, maka rasanya tak pantas energi kita dihabiskan hanya untuk saling serang dan berdebat kusir soal pakaian yang dikenakan calon dalam foto resminya. Semoga foto-fot berikut cukup menjadi bukti, bahwa pakaian sama sekali tak menggambarkan apapun soal pribadi sang calon. Mari mendukung dengan rasional, bukan dengan emosinal.

KEMBALI KE ARTIKEL