Mohon tunggu...
KOMENTAR
Inovasi

Lembaran Perjalanan Industri 1.0 Menuju Industri 4.0

1 April 2021   12:13 Diperbarui: 1 April 2021   12:20 739 1
Kawasan-kawasan industri berdiri tegak di beberapa wilayah Indonesia. Seiring dengan berjalannya waktu, jumlah kawasan ini semakin berkembang, dan Indonesia tidak lagi bergantung pada kegiatan pertanian saja. Inilah industrialisasi. Industrialisasi menjadi proses modernisasi di mana perkembangan ekonomi dan perubahan sosial memiliki hubungan yang erat dengan inovasi teknologi.

Di negeri ini, era industri dimulai pada masa kolonial Belanda tepatnya di tahun 1862. Kala itu, terdapat tiga pabrik gula di Pulau Jawa dengan menggunakan teknologi mesin-mesin produksi dan ketel uap. Waktu demi waktu berlalu, teknologi yang digunakan pun semakin berkembang.

Lalu, seperti apakah perkembangan industri dari era 1.0 hingga 4.0?

Era Pra-Revolusi Industri

Untuk memproduksi suatu barang atau jasa, sebelum memasuki era industri 1.0, manusia kala itu hanya mengandalkan tenaga otot, angin, bahkan air saja. Dengan mengandalkan kekuatan yang seadanya, ternyata masih ditemukan kendala seperti kekurangan tenaga kerja, dan pembangunan tenaga angin maupun air, hanya dapat diposisikan pada tempat tertentu saja.

Industri 1.0: Mesin Uap

Pada abad ke-18 inilah revolusi industri pertama dimulai. Penemuan mesin uap untuk memproduksi barang ditandai dalam era industri 1.0 ini. Di Inggris, mesin uap digunakan sebagai alat tenun pertama untuk industri tekstil sekaligus menjadi pengganti dari tenaga manusia hewan. Perannya tidak hanya untuk industri tekstil semata, melainkan dimanfaatkan juga pada bidang transportasi laut.

Industri 2.0: Tenaga Listrik

Setelah mesin uap, pada industri 2.0 ditemukan tenaga listrik yang dapat mempermudah para perakit mobil untuk melakukan pekerjaannya. Di akhir tahun 1.800-an, transportasi mobil sudah mulai diproduksi massal, namun sayangnya saat itu masih ada keterbatasan dalam tenaga kerja dan teknologi yang belum sepenuhnya mendukung. Tidak mungkin rasanya, apabila permintaan mobil terus meningkat tetapi terbatas dalam tenaga kerja.

Dari masalah inilah lahir assembly line atau lini produksi yang menggunakan ban berjalan pada tahun 1913. Assembly line menopang proses produksi merakit mobil dari awal hingga akhir dengan dikerjakan oleh lebih dari satu orang. Para perakit pun sudah dilatih menjadi spesialis yang mengurus satu bagian saja.

Industri 3.0: Komputer dan Robot

Sudah mulai terlihat bukan bagaimana masyarakat agraris "berpindah" menjadi masyarakat industri? Mari kita lanjutkan ke industri 3.0. Peran manusia bukan menjadi yang utama pada industri 3.0, paket teknologi yang meliputi komputer dan robot hadir sebagai mesin bergerak dan "berpikir" secara otomatis. Canggih sekali, kan?

Zaman dahulu, ukuran komputer tidak seperti sekarang. "Komputer purba" yang diberi nama Colossus digunakan dalam era perang dunia II untuk memecahkan kode buatan Nazi Jerman. Ukurannya pun sebesar ruang tidur! Komputer tersebut dapat bekerja melalui pita kertas yang membutuhkan daya listrik sebesar 8.500 watt. Kini, pengendali lini produksi sudah digantikan posisinya oleh komputer dan robot.

Industri 4.0: Teknologi Otomatisasi X Teknologi Siber

Berawal dari sebuah proyek dalam strategi teknologi canggih pemerintah Jerman yang mengutamakan komputerisasi pabrik inilah revolusi industri 4.0 lahir. Industri 4.0 merupakan sebuah tren yang menggabungkan teknologi otomatisasi dengan teknologi siber. Bayangkan saja betapa cerdasnya teknologi ini dalam membantu kehidupan manusia!

Revolusi industri 4.0 memberikan dampak baik yakni menciptakan lapangan pekerjaan baru, sejumlah profesi baru, dan lahirnya usaha-usaha baru yang tidak dapat kamu temui di industri 1.0 sampai 3.0.

Tidak ingin tertinggal dengan negara-negara lainnya, industri Tanah Air juga harus berkembang. Menurutmu, apakah Indonesia sudah sepenuhnya siap memasuki industri 4.0, sedangkan negara lain sudah berlomba-lomba menyongsong era industri 5.0?

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun