Mohon tunggu...
KOMENTAR
Teknologi Pilihan

Nostalgia, Dulu Pager Bikin Melongo, Kini Tak Dikenal

24 Agustus 2021   09:04 Diperbarui: 24 Agustus 2021   09:21 137 17



Zaman berubah luar biasa. Saya termasuk manusia yang melihat dan merasakan perubahan zaman itu, khususnya terkait teknologi.

Dulu, bertelepon harus pakai telepon umum. Pakai koin Rp 50. Hanya untuk bertelepon, di masa itu, seorang teman membohongi bapaknya. Bilangnya mau beli bubur.

Ternyata, duitnya buat telepon bareng-bareng. Begitu pakai telepon umum dan nyambung. Kami ramai teriak di gagang telepon, "haloooo Li!". Kontan telepon rumah teman kami yang bernama Lili langsung ditutup karena yang ngangkat kakak Lili yang cewek itu.

Tahunan saya melihat pemandangan telepon umum di pinggir jalan. Sekarang sepertinya sudah tidak ada. Selain telepon umum, barang langka yang pernah kami lihat adalah pager.

Momen itu terjadi tahun 90-an sebelum Reformasi. Kala itu, di kelas saat akan try out ujian. Panitianya mas-mas masih muda. Di pinggangnya ada alat kecil, kotak lebih besar sedikit dari wadah korek api kayu.

Tiba-tiba alat itu berbunyi tiiit, tiiit, tiit. Kami yang waktu itu melihat hanya melongo. Alat itu diambil lalu dibaca. "Apa itu?" Tanya lirih di antara kami.

"Itu pager," kata yang lain. Dulu di masa itu, membawa pager di pinggang adalah kemewahan. Orang yang pakai pager adalah orang penting. Padahal, fungsinya hanya menerima pesan tulis. Tak bisa mengirim pesan tulis.

Dulu pager sampai ada lagunya, yang nyanyi Sweet Martabak. Cari saja di YouTube. Iklan soal pager juga menjamur di TV. Saya masih ingat, salah satu produk pager beriklan di TV dengan bintang iklan Zahlul Fadil. Kala itu, Zahlul Fadil adalah kiper Persija.

Adegannya saja saya masih ingat. Saat itu Zahlul memerankan sebagai kiper, mirip dengan profesinya. Di iklan itu, dia kiper yang membawa pager. Kemudian tim lawan mendapatkan tendangan bebas.

Saat tendangan bebas belum dieksekusi, pager Zahlul berbunyi. Ada pesan dari orang melalui pagernya. Tertulis di pesan itu, ke mana arah bola yang akan meluncur ke gawangnya. Nah, karena dapat contekan dari pesan pager, Zahlul berhasil menggagalkan tendangan bebas itu.

Kalau dibandingkan zaman sekarang ya pager jauh tertinggal. Mungkin pabrik pager sudah tutup. Memang setelah teknologi merajalela, pager ditinggalkan, khususnya setelah ada telepon genggan dengan fasilitas pesan pendek.

Pager saya kira umurnya tak sampai 10 tahun. Hanya beberapa tahun lalu dilibas HP. Saya bahkan tak pernah punya pager.

Bahkan, punahnya pager sudah lama terjadi. Saya baru sadar karena remaja berusia 20-an tahun tak ada yang mengenal pager. Setidaknya remaja yang pernah saya tanya soal pager.

Apa yang bisa dipetik? Ya, teknologi berubah dengan sangat cepat. Teknologi tak pernah punya perasaan. Teknologi tak pernah berpikir soal bangkrutnya pabrik pager. Tak pernah. Teknologi juga tak pernah berpikir soal bangkrutnya pabrik HP jadul.

Siapa yang tak adaptif dengan teknologi, akan ditinggal. Begitulah teknologi. Manusia dipaksa adaptif. Cuma, jika sangat adaptif pada teknologi, jangan sampai lupa dengan fitrah kita sebagai manusia. Sebab, manusia bukanlah robot.

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan