Mohon tunggu...
KOMENTAR
Puisi Pilihan

Menafsir "Bau Jeruk di Lehermu"

10 Januari 2021   08:23 Diperbarui: 10 Januari 2021   09:31 133 7

Malam tadi Penyair Afrizal Malna di akun Instagramnya @malna.a memposting sebuah video yang berisikan puisi pendek yang cukup menarik. Puisi yang mungkin bagi sebagian pembaca akan dianggap sebagai puisi gelap dan tak jelas –apa sebetulnya pesan yang ingin disampaikan.

Namun sebetulnya, kalau kita benar-benar cermat membaca setiap kata atau setiap simbol yang digunakan Afrizal dalam puisi tersebut sebetulnya ia hanya sedang menyampaikan pesan yang begitu sederhana. Pesan yang sebetulnya sangat lekat dengan keadaan kita yang sampai saat ini masih dibayang-bayangi oleh ancaman yang cukup berbahaya dari virus corona.

Mari kita simak puisi yang disuguhkan Afrizal tersebut:

Bau Jeruk di Lehermu

kota ini berdiri menjelang fajar
kau yang merancangnya
-aku masih di jalan
kau tak perlu menjemputku

“tidurlah kematian”
aku selalu bersamamu

Ada enam frasa di bawah judul puisi tersebut, dimana setiap frasa masing-masing dijadikan larik yang saling berkaitan dan sekaligus saling mempertegas setiap maksud dan pesan yang ingin disampaikan satu dengan yang lain.

Frasa pertama: “kota ini berdiri menjelang fajar”. Ini menunjukan bahwa kota ini baru saja menyambut tahun baru, tahun dimana nasib baik menjadi harapan yang ingin dicapai oleh setiap orang. Mereka yang mungkin di tahun sebelumnya mengalami nasib yang kurang menguntungkan telah bersiap untuk menyambut keberuntungan seperti hendak menyambut fajar dan menyambut pagi agar segera datang.  

Maka dari itu, Afrizal pun memperkuat pernyataannya dengan frasa kedua: “kau telah merancangnya” yang menunjukan bahwa setiap orang telah merencanakan apa yang hendak dilakukan untuk menjemput harapan baru tersebut. Segala cara telah dipersiapkan mereka untuk mendapatkan nasib yang lebih baik.

Tapi sayangnya, tahun baru saat ini tidaklah sama dengan tahun baru sebelumnya -dimana pada tahun baru saat ini setiap aktifitas kita masih dibayang-bayangi oleh ancaman akan bahaya virus Corona -yang berarti siapa saja masih memiliki kemungkinan untuk bisa dihinggapinya. Hal tersebut ditegaskan oleh Afrizal melalui frasa ketiga: “-aku masih di jalan” yang juga menunjukkan bahwa virus tersebut belum benar-benar hilang.

Maka dari itu, Afrizal pun memberikan sebuah peringatan –menyuguhkan semacam rambu-rambu melalui frasa keempat: “kau tak perlu menjemputku” yang secara tidak langsung mengajak kita agar tetap waspada. Jangan sampai karena ingin mewujudkan harapan yang lebih baik kita justru malah menjadi korban berikutnya dari keganasan virus yang tengah membayangi kita dan menyebabkan bertambahnya angka kematian di Negara kita.

Kemudian Afrizal pun memperkuat pesan tersebut dengan frasa kelima: “tidurlah kematian” –sebuah frasa yang terkesan begitu bersahaja dan terkesan begitu intim, yang secara tidak langsung menyiratkan sebuah permohonan agar kematian yang memang melekat dengan virus tersebut bisa berhenti bekerja untuk barang sejenak.  Sebab mau tidak mau, virus tersebut akan selalu bersama dengan kematian itu –sebagaimana disampaikan oleh Afrizal melalui frasa keenam: “aku selalu bersamamu”.

Ya.. memang.. Virus corona akan selalu bersama kematian itu. Oleh karenanya, kita sebaiknya harus bisa tetap menjaga imunitas tubuh sebagaimana yang dipesankan oleh Afrizal secara tersirat melalui judul puisi yang ditulisnya itu: “Bau Jeruk di Lehermu” –yang kita semua tahu bahwa jeruk memang merupakan salah satu buah yang mengandung vitamin C yang begitu baik untuk menjaga daya tahan tubuh.

Dari sini, kita hanya bisa mengatakan bahwa, Afrizal memang merupakan penyair yang sangat cerdas dan sangat piawai dalam menyuguhkan pesan yang sangat sederhana untuk kemudian diolahnya hingga menjadi sebuah puisi yang terkesan begitu sublim. Sehingga cukup membuat setiap orang yang membacanya terkesima sekaligus merasa tertarik untuk menerka-nerka maksud dan pesan apa yang sebenarnya hendak disampaikan.

Dari sini juga, kita sebetulnya bisa melihat bagaimana sebaiknya puisi disuguhkan. Ya..!! Memang, seperti itulah seharusnya puisi disuguhkan. Tidak terkesan vulgar dalam menyampaikan pesan dan tidak terkesan rewel.

Galih M. Rosyadi, Tasikmalaya 10 Januari 2021.

KEMBALI KE ARTIKEL