Mohon tunggu...
KOMENTAR
Raket Pilihan

Menanti Final Hendra/Ahsan Vs Kevin/Marcus di Tokyo

26 Agustus 2019   22:49 Diperbarui: 26 Agustus 2019   23:40 67 0

Ketika ganda putra nomor satu dunia Kevin-Marcus terhempas di babak kedua Kejuaraan Bulutangkis Dunia BWF sebagian besar penggila badminton tanah air langsung patah hati dan mendadak malas mengikuti pertandingan selanjutnya. Pasalnya hanya di bahu duo minions ini harapan paling besar untuk mencicipi gelar juara pasca pensiunnya legenda ganda campuran, Liliana Natsir atau akrab disapa Ci Butet.

Banyak yang memprediksi kekalahan minions dari pasangan non-unggulan dari Korea Selatan, Choi Sol-Gyu/Seo Seung Jae, membuat Indonesia bakal pulang tanpa gelar juara. Tahun sebelumnya juga minions kalah cepat di babak perempat final dan Indonesia akhirnya nihil juara. Prestasi terbaik kala itu diraih ganda putri Greysia Polii dan Apriyani Rahayu yang berhasil meraih medali perunggu.

Ternyata dunia belum berakhir. Duet pelatih ganda putra Herry Iman Pierngadi dan Aryono Miranat masih memiliki amunisi lain yang siap diledakkan yaitu Hendra/Ahsan dan Fajar/Rian. Racikan mereka berhasil membuat kedua pasangan tersebut terus melaju dan dengan terpaksa harus saling berhadapan di babak semifinal karena sama-sama berada di pool atas.

Fajar/Rian yang prestasinya menurun akhir-akhir ini dan mendapat kritik dari pelatih karena terlalu aktif di media sosial seperti sedang terlecut. Kerja keras mereka pun akhirnya berbuah medali perunggu. Prestasi ini bisa dibilang cukup bagus karena ada peningkatan peraih medali perak Asian Games 2018 tersebut dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Keberhasilan Hendra/Ahsan menembus final mengingatkan para penggemar bulutangkis pada momentum kejuaraan All England beberapa bulan sebelumnya. Kala itu The Daddies yang sama sekali tidak diunggulkan berhasil meraih gelar juara. Lebih hebatnya lagi gelar juara itu direbut saat kondisi Koh Hendra sedang tidak fit 100%.

Namun kekhawatiran memuncak kala di babak kedua partai final kejuaraan dunia 2019, Hendra/Ahsan seperti sudah kehabisan bensin. Mereka tertinggal jauh dari pasangan muda Jepang yang tengah bersinar terang, Hoki/Kobayashi, dengan skor mencolok 9-21. Apalagi Hendra/Ahsan tak lagi berusia muda. Hendra tepat berusia 35 tahun saat partai final digelar sedangkan Ahsan sudah 32 tahun.

Legenda tetaplah legenda. Mereka punya berbagai cara untuk meraih juara.

Salah satunya dengan mengalah di babak kedua untuk fokus ngebut di babak ketiga. Hasilnya, di babak ketiga mereka menggila, sebaliknya ganda nomor tiga Jepang itu semakin kehilangan fokus. Hoki/Kobayashi banyak membuat kesalahan sendiri sehingga Hendra/Ahsan menutup skor babak penentuan dengan raihan angka meyakinkan 21-15.

Gelar juara dunia tersebut membawa The Daddies otomatis lolos ke World Tour Final 2019 yang akan digelar di Tiongkok Desember mendatang. Satu jatah lainnya akan menjadi rebutan bagi Kevin/Marcus dan Fajar/Rian.

Setidaknya kini beban Kevin/Marcus menjadi lebih ringan menghadapi Olimpiade Tokyo 2020 mendatang. Selama ini mereka sepertinya terbebani untuk selalu harus juara. Statistik menunjukkan memang gelar terbanyak tur BWF Super 500 ke atas kontingen Indonesia berasal dari sabetan raket mereka berdua.

Hal itu persis sama dengan yang dialami Hendra/Ahsan tahun 2016 lalu. Saat itu beban berat juga diletakkan di pundak mereka untuk membawa pulang medali emas melanjutkan tradisi cabor bulutangkis di ajang Olimpiade.

Hasilnya, pasangan juara dunia 2013 dan 2015 ini babak belur di babak awal. Skenario kacau-balau namun untungnya kala itu Owie/Butet tampil sebagai penyelamat. Mereka bisa menutupinya dengan emas dari sektor ganda campuran.

Hasil buruk tersebut juga sekaligus mengakhiri kebersamaan selama empat tahun kedua legenda. Mereka dipisah, bahkan Hendra memutuskan keluar dari pelatnas dan memilih berduet dengan pemain Malaysia. Portal kompas.com bahkan memprediksi tahun 2016 menjadi akhir kejayaan Hendra/Ahsan.

Tidak semudah itu Ferguso. Nah, rasa penasaran mereka terhadap emas Olimpiade yang gagal diraih tahun 2016 membuat mereka kembali bersatu. Kali ini suasananya berbeda jauh. Beban terberat justru bukan di pundak Hendra/Ahsan. Mereka bisa berbagi beban dengan Kevin/Marcus yang juga pastinya sangat ngebet untuk merebut meraih gelar di ajang empat tahunan tersebut.

Olimpiade 2020 memang masih jauh namun boleh-boleh saja kita memiliki harapan tinggi. Seperti kita ketahui, persaingan ganda putra memang sangat ketat. Selain pemain lama seperti duo Li/Liu dan  Kamura/Sonoda juga bermunculan nama baru seperti Hoki/Kobayasi, Satwiksairaj Rankireddy/Chirag Shetty, Choi Sol-Gyu/Seo Seung Jae dan Aaron Chia/Soh Wooi Yik. Tapi jangan lupa Indonesia tak pernah berhenti menelurkan jawara dari sektor ganda putra.

Jika bermain stabil Kevin/Marcus dan Hendra/Ahsan bisa menjadi unggulan pertama dan kedua pada Olimpiade 2020 mendatang. Artinya bukan hal yang mustahil kedua pasang jagoan ini bisa menciptakan all Indonesian final.

Tentu saja hal ini sangat memungkinkan karena ganda putra kebanggaan Indonesia ini telah mewujudkannya pada ajang Indonesia Master Super 500 dan Indonesia Open Super 1000. Sekali lagi, kondisinya berbeda dengan tahun 2016. Semoga saja....

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun