Mohon tunggu...
KOMENTAR
Catatan

Kandas Sebelum Melangkah

4 Juni 2012   10:07 Diperbarui: 25 Juni 2015   04:24 669 1

Kandas Sebelum Melangkah…





Makasar, sebuah kota yang unik dan penuh dengan teka-teki bagiku. Di kota ini banyak sekali aku menemukan keunikan manusia-manusianya. Atau barang kali memang aku yang sedang dalam proses ini kini dalam fase keunikan hidup? Ah entahlah… aku masih teringat perbincanganku dengan seorang pria di pesawat beberapa menit yang lalu.

“Ah… siapa bilang gadis Manado itu cantik-cantik?” kelakarnya sesaaat setelah menenggak segelas minuman karbonasi.

“Kata teman saya begitu Pak,” aku tersenyum kecil.

“Dengar ya… hanya 1 gadis Manado yang cantik dari 10 gadis yang ada!” sahutnya sambil menatapku sedikit sinis.

“Loh? Iya to? Terus?”

“Dari 10 gadis Manado, hanya 1 yang cantik sementara sisanya itu cuaaannntik banget! Hahhahahaha….,”  tawanya mengejutkan beberapa penumpang lain yang sedang tidur tai ayam.

Aku menggelengkan kepala beberapa kali sambil berdecak kagum. Memang hampir semua pria di Indonesia ini mengakui perihal kecantikan gadis Manado, tapi barangkali memang argumentasi kali ini terlalu berlebihan. Ya sudahlah, lupakan saja kelakar pengisi waktu di pesawat itu. Aku harus kembali fokus pada klienku yang satu ini. Dari tadi dia masih memilih untuk diam membisu. Sementara aku? Aku masih memilih untuk menunggunya berbicara sembari menyandarkan tubuhku di kursi sofa yang ada di sudut loby hotel ini.

“Begini Mas… Hmmm… anu… pokoknya saya ini tidak mau terima, kalau masalah cinta saya selalu kandas sebelum melangkah! Dan saya harap anda mampu menyelesaikan masalah saya ini dengan segera! Saya malu kalau saya selalu menjadi jomblo seperti saat ini. Bahkan Mas… usia saya sudah 22 tahun dan saya belum pernah pacaran! Apa itu tidak memalukan?” dia melontarkan kalimat setengah marah padaku walau aku tidak tau menahu mengenai masalahnya.

Aku mengamati gadis di hadapanku itu, cantik dengan rambut agak kemerahan lurus di bawah bahu. Kulitnya bersih, matanya bening dan hidungnya mancung. Hmmm… aku menduga dia adalah gadis Manado. Karena memang dia cantik dan tingginya juga lebih dari cukup. Tapi apa ya mungkin gadis ini tidak pernah punya pacar? Sekilas melihatnya saja, sebagai lelaki normal aku pastinya tidak akan menolak seandainya dia mengajakku berpacaran. Pokoknya tidak memalukan deh kalau di ajak ke sebuah acara resmi. Uhuk… uhuk…

“Lalu?” kuberi sedekah singkat dengan diiringi anggukan kepala beberapa kali mirip kayak boneka mobil yang manggut-manggut terus itu.

“Cinta itu apa sih Mas sebenarnya?” tanyanya pelan sambil menyandarkan tubuhnya.

“Cinta adalah anu, anu itu bisa macem-macem… tergantung mereka berdiri dalam bidang apa? Kalau bagi olahragawan barang kali cinta adalah gerakan-gerakan original dari hati ke hati yang bisa menjadikannya semakin bersemangat dalam berolahraga. Bagi ahli Kimia cinta adalah senyawa unik yang bisa menyatukan ion-oin positif dalam tubuh sehingga menjadikan diri ini bersemangat dalam hidup. Kalau menurut Mbah Dukun, cinta itu mistis, seperti doa-doa dan mantra sakti yang bisa menyembuhkan berbagai penyakit hanya dengan segelas air putih yang di berinya doa,” aku berusaha tersenyum walau gadis di depanku itu menatapku dengan pandangan yang aneh.

“Huff… bingungku saya!!” celetuknya sekali lagi dengan logat Makasar yang kental.

“Intinya, cinta itu relative, tergantung kita menilainya dari sudut sebelah mana. Tapi bagi saya cinta itu kebahagiaan, ketika kita bertemu dengan seseorang dan berbahagia itulah cinta,” aku tersenyum kecil, “coba ceritakan masalahmu lebih detail lagi,” kali ini aku mulai mengajaknya untuk berbicara lebih serius lagi.

“Pertama kali aku naksir cowok itu namanya Vino, tapi kandas dan dia tidak pernah menerima cintaku. Kedua Sammy, eh sama saja, kami tidak pernah pacaran. Lalu Noe, eh ya gitu juga, nggak kesampaian. Pokoknya banyak deh, sekarang aku lagi mencoba untuk jatuh cinta lagi sama satu cowok tapi ya gitu deh, takut ga kesampaian jadi diam dulu aja!” dia menghela nafas panjang, ada bening tipis yang menitik dari matanya.

“Hmmm… “ aku menghela nafas panjang juga, ada beban berat dihatinya yang aku rasakan saat ini.

Aku menatap buku kerja kecilku, ada beberapa nama cowok di sana. Kenapa ini cowok-cowok tidak menerima cinta si gadis Manado? Duh… aneh juga ya? Aku mengamati tubuhnya lebih tajam lagi, dari ujung kaki sampai ujung rambut, dia sehat sempurna tidak ada cacat fisik yang dapat mengurangi kecantikannya.

“OK, kita coba analisis satu persatu. Vino? Kamu tau kenapa dia menolak cintamu?” aku mencoba menggal informasi.

“Nggak taulah kenapa!?” dia mengangkat kedua bahunya bersamaan.

“Sudah mengatakan pada si Vino ini kalau kamu jatuh cinta sama dia?” aku mengajukan pertanyaan susulan dengan cepat.

“Sudah berkali-kali, dan diresponpun enggak!” jawabnya lirih, matanya menerawang beruasaha mengingat masa lalunya itu.

“Oh… ya? Dia kamu pertama kali lihat Vino di mana?” aku mengerutkan dahi.

“Di bioskop!” katanya yakin.

“Ok… OK… coba ceritakan sedikit tentang pertemuan kalian itu,” aku menelan ludahku sendiri entah karena apa.

“Aku waktu itu sedang nonton rame-rame di bioskop! Terus aku lihat si Vino ini! Ganteng! Baik! Macho! Pokoknya cowok itu idamanku banget deh! Aku terus mencari tau tentang dirinya, semua informasi tentang dia aku tau! Bahkan dari ukuran sepatu sampai ukuran celana jeansnya aku tau! Makanan favoritnya juga aku tau! Bahkan parfum apa yang dia sukai aku tau! Kurang perhatian apa coba?” dia menyeka air matanya, “ketika aku bilang aku mencintaimu, dia jawabnya makasih ya… ketika aku bilang Vino aku sayang sama kamu dia juga jawab makasih ya… Sebel! Sebel! Sebel!” dia memukulkan kedua tangannya bersamaan ke pahanya sambil teriak-teriak.

“Hmmm… terus Vino itu pekerjaannya apa dan dia tinggal di mana?” tanyaku lagi.

“Dia itu aktor! Tinggal di Jakarta!” sahutnya yakin.

Aku menelan ludah sekali lagi setelah mendengar jawaban wanita ini, “maksudmu Vino itu Vino pemain film layar lebar? Anaknya Wiro Sableng itu?” aku menarik nafas panjang sambil menunggu jawaban.

“Bukan anaknya Wiro Sableng, tapi anaknya penulis buku Wiro Sableng,” dia membenarkan argumenku yang sedikit salah.

“Iya… iya… pokoknya Vino itu deh! Iya Vino G Bastian itu tow?” aku meyakinkan sekali lagi.

“Ya… dia itu!”

GUBRAK!

Hatiku seperti tercabik-cabik oleh masalah yang satu ini. Dari sekian banyak klien yang sudah aku temui wanita ini punya masalah yang paling aneh.

“Oh… kalau Sammy itu Sammy vokalisnya Kerispatih?” aku memastikan dengan sedikit ragu-ragu.

“Iya…” sahutnya pasti.

“Noe? Berarti dia vokalisnya Letto? Anakknya Cak Nun?” aku memastikan sekali lagi.

“Iya… kok kamu tau sih? Hebat juga ya kamu bisa mengetahui mereka tanpa aku bercerita lebih jauh?” dia menatapku seakan tidak percaya.

Ya siapa sih nggak tau mereka-mereka itu? Semua orang juga tau kali!? Kan mereka memang tokoh-tokoh muda idola, selebritis papan atas. Aku diam sejenak dengan masalah ini aku benar-benar tidak tau harus memberikan solusi apa? Belum terbayang bagaimana menyelesaikannya. Siapa yang tidak suka sama artis? Siapa yang nggak jatuh cinta kalau liat mereka di televisi? Ganteng, banyak duit dan terkenal. Lah kita ini siapa? Biasanya artis itu ya ketemu jodohnya dengan artis atau pengusaha atau minimal anak-anak publik figus dan tokoh-tokoh terkemuka. Mosok kita yang jualan tempe di pasar mau nikah sama artis? Seribu satu kalaupun ada.

“Hmmm… pernah jatuh cinta sama cowok selain artis?” aku menghela nafas panjang.

“Enggak!” sahutnya pelan.

“Eh… Anu… coba saja pedekate sama cowok yang bukan artis, siapa tau ada yang mau sama kamu. Coba saja dulu, baru kalau nanti merasa nggak cocok dengan tuh cowok yang bukan artis cari artis lagi deh,” aku berusaha tersenyum agar dia tidak tersinggung dengan kalimatku.

“Gitu ya?” sahutnya pelan.

“Ya… gitu deh… coba saja dulu… kalau ada cowok yang mirip-mirip artis boleh juga kok di pedekate, yang penting sesuai dengan selera deh,” lanjutku sembari menghela nafas kecil karena sepertinya dia setuju dengan ide kecilku itu.

“Gitu ya? Anu… hmmm… alasannya kenapa aku harus cari cowok biasa?” dia mengutarakan satu kalimat.

“Artis itu banyak penggemarnya… bisa-bisa kita sebagai pasangannya mati cemburu kalau nggak bisa menerima kenyataan kalau artis itu emang banyak yang suka. Kebanyang nggak kalau lagi pacaran tiba-tiba ada cewek penggemar yang nelpon? Kebanyang nggak kalau pas lagi berdua eh ada yang sms sama pasangan kita yang artis itu bilang sayang dan cinta? Kebanyang nggak kalau lagi jalan berdua di mall tiba-tiba ada fans yang nyium-nyium dia didepan kita? Mati cemburu deh!” aku nyerocos nggak jelas memberikan kata andai-andai yang emang sering terjadi dalam duania artis.

“Iya… ya!? Ya udah deh… aku coba cari orang biasa aja biar tidak mati cemburu,” katanya pelan sambil berdiri lalu melangkah pelan meninggalkan aku.

Aku bernafas lega, ternyata dia bisa memahami dan menerima bahwasanya tidak mudah untuk menjadi pacar seorang artis. Aku hanya bisa berharap dia menemukan cowok yang cocok dan baik. Sayang sekali gadis secantik dia kalau harus kandas sebelum melangkah seperti kejadian yang menimpanya selama ini. Dia tidak salah, tapi kebangeten saja kalau memaksakan diri untuk dapat pacar artis tanpa mau melihat siapa diri kita sendiri.

Diambil Dari Draf Novel PACAR ISI ULANG

@endikkoeswoyo

KEMBALI KE ARTIKEL