Mohon tunggu...
KOMENTAR
Humaniora Pilihan

Pentingnya Karakter: Pelajaran dari Foto Cantik dr Fika

9 Juni 2020   20:40 Diperbarui: 10 Juni 2020   12:54 24 1

Lini masa Twitter digegerkan oleh postingan seorang dokter yang mengunggah swafoto dirinya dengan latar mobil sedan hitam di sebuah halaman. Di situ, dia menulis caption, "Pilih mana mas, akunya apa mobilnya".

Ribuan komentar membanjiri postingan tersebut.  Nama sang dokter "Fika" pun menjadi trending di Twitter selama seharian ini, Selasa(9/6/2020).

Warganet bukan memberi jawaban sesuai pertanyaan. Malah sebaliknya, mereka memberi komentar tajam.

Apa yang menjadi keberatan warganet? Ada yang mengatakan postingan tersebut memberi kesan cringe, ada yang menyalahkan dirinya yang memarkir mobil lantaran memperhatikan adanya rambu dilarang parkir tak jauh di sekitar mobil tersebut.

"Dilarang Parkir Bu. Tapi jujur saya lebih suka mobil Bu," tulis dr Tirta di postingan tersebut.

"Area dilarang parkir mba," tulis warganet lainnya, yang kemudian dibalas dr Fika dengan berkata, "Wong Ayu bebas mas." Tak ayal, perkataan ini pun mendapat ribuan balasan.

Sebenarnya tidak sukar memahami fenomena ini. Dr Fika bukanlah orang pertama yang menuai kritik atas postingannya di media sosial.

Dia dicibir bukan karena pekerjaannya, melainkan perilaku atau sikap kepatutan dirinya.

Sebulan lalu, seorang polisi juga sempat membuat geger lewat postingan video yang tersebar di media sosial. Dalam video tersebut, dia mengokang senjata laras panjang sambil berkata, "Pacarmu ganteng, kaya, bisa gini ga?"

Fenomena semacam ini terus terlihat di media sosial. Seseorang akan memosting kemewahan dirinya apakah karena keunggulan fisik, profesi, jabatan atau status lainnya, lalu warganet akan memprotesnya.

Apapun yang kalian posting dan tuliskan sangat berpotensi dikritik. Itulah media sosial.

Lantas, apa itu berarti Anda yang menyandang status 'istimewa' harus mundur dari media sosial demi menghindari kehebohan?

Tentu tidak. Sejatinya penilaian salah atau benar, patut atau tidak patut, merupakan perdebatan yang akan selalu terulang sepanjang masa kehidupan manusia. Manusia tidak akan bisa melepas dirinya dari kesalahan. Tak ada manusia yang sempurna.

Media sosial selalu memberikan kejutan. Seperti yang saya singgung, perkara benar atau salah suatu postingan selalu datang terakhir. Bisa jadi, hal sederhan menjadi luar biasa dan memberikan dampak positif bagi pengguna lainnya.

Barangkali di antara kita menganggap postingan dr Fika merupakan hal biasa: seseorang berfoto dengan mobilnya. Adanya pelanggaran karena larangan parkir tentu bukan suatu musibah besar. Dokter juga manusia biasa.

Lalu postingan itu menjadi viral karena dipersepsikan negatif. Artinya ada yang meleset dari perkiraan bahwa itu adalah postingan biasa.

Efeknya merembet ke segala lini. Beberapa saat setelah postingan itu viral, sebuah akun mengungkap praktik tersembunyi di dunia kedokteran di mana terjadi 'akad' antara oknum dokter dan sales obat untuk menambah pundi-pundi pendapatannya.

Semua orang bisa bersalah dan memperbaiki dirinya. Syaratnya adalah kepekaan yang diperoleh dari pergumulan individu lewat pendalaman pengetahuan, pendalaman nilai religiusitas dan sikap rendah hati.

"Hire character, train skill," kira-kira kalimat dari akun Twitter Kementerian Perdagangan @Kemendag pagi ini perlu kita resapi.

KEMBALI KE ARTIKEL