Mohon tunggu...
KOMENTAR
Puisi Pilihan

Puisi: Takhta Kedamaian Jiwa

4 Juli 2020   17:06 Diperbarui: 4 Juli 2020   17:05 303 47
Tertuju pada satu titik, di mana itu menjadi fokus dalam mengolah rasa.
Berbait-bait cerita terangkai dalam diam.
Dialog dalam kesendirian, mematangkan sebuah jalinan mesra antara diri dan Dia.
Di mana dalam diam, hujan pesan begitu deras,  hingga tak cukup sempurna dalam menyediakan wadah.

Malam sonyaruri menjadi pilihan jika hendak beradu.
Malam pun menata ruangnya sedemikian rupa demi terwujudnya keutuhan kasih.
Ribuan bisikan menyentuh dasyat hingga raga tak mampu menahan.
Meski semua berakhir dengan damai yang menyebar di setiap sisi raga.

Bisikan setiap malam yang mengguncang nadi, menjadi sebuah candu.
Mengusik hati kala kesempatan itu terhempas, bagai asap yang bersatu raga dengan angin.
Jangan ada penyesalan yang menumpuk, hingga mengetuk pintu air mata.
Karena setiap detik, ia menunggu sentuhan hangat secara hening.

Mengolah sebuah rasa yang berdetak dalam diri, membutuhkan sebuah kerelaan.
Saat dunia begitu kuat menarik dengan segala perhiasan semu, diri ini limbung hingga menghujam setiap alirah darah.
Dan menang akan menjadi pilihan, kala mampu tersenyum tanpa mahkota dunia.
Dan kemenangan ini, mata manusia tak mampu menyimpulkan.
Tetapi mata jiwa yang mampu melihat tahta kedamaian.

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun