Mohon tunggu...
KOMENTAR
Cerpen Pilihan

Balon

20 Maret 2021   09:02 Diperbarui: 20 Maret 2021   09:12 150 10

Tukang balon gas itu menyisir perumahan mewah, kebetulan si Kino, budak dua tahun sedang titah-titah dengan para susternya. "Mau balon!" tangan gendutnya menunjuk. Suster yang menyuapi bubur menggelengkan kepalanya, suster kedua, yang menggandengnya berlaku sama menggeleng. Mereka melarang karena mainan Kino bukan balon mamang sepeda, mainan Kino mobil listrik. Jadi suster taat untuk tidak membeli balon gas. Tapi Kino berteriak saat mamang balon mulai menjauh. Badannya menggeliat-geliat, dalam dekapan suster. "Mau balon!" Kino menangis menatap mamang sepeda balon yang melaju jarak, menyisakan warna-warni balon yang terlihat mengambang beralun. Mata budak kecil itu terlihat pedih dan berurai linangan.
"Kenapa gerangan, Suster?" Mami Kino keluar rumah menyongsong.
"Minta balon Nyonya.." jawab Suster.
"Nggak boleh, sayang. Kan Kino mainannya mahal, main mobil listrik aja ya?" bujuk mominya. Tapi dia rupanya sudah patah arang dan menolaknya, budak cilik itu membuang mukanya dalam gendongan suster. Dia sangat menginginkan balon gas kampung itu.
Malam hari Kino tidur gelisah, bibir bonekanya komat-kamit, bulu matanya kelap-kelip, kadang menangis sambil ngelindur. "Balon, balon.." nadanya merengek. Membuat kedua orang tuanya terbangun memperhatikan, keduanya malah tersenyum melihat putra kecilnya tremor.
"Tadi dia minta balon mamang yang lewat, pah" bisik istrinya. Sang suami nyengir mengangguk-angguk. "Yaudah, besok kita beliin aja.." jawab bapaknya. "Balon mamang itu kotor pah, lagi enggak safety kan?". "Bener juga yah.." suaminya komen sambil bablas molor. Mama Kino memandang suaminya maklum mungkin kecapean seharian shooting konten.
Pagi hari menjelang, matahari membentur tembok rumah lima lantai mereka, terlihat diidalam rumah sudah terjadi kesibukan keseharian dari tim pencari konten menyiapkan skenario.
"Gimana pah, Kino dibeliin balon gas enggak?" mama Kino menagih jawaban pasti.
"Terserah mama deh, aku kan mau kerja nih nyari orang miskin buat konten kita kan?" Jawab papa Kino, sambil melompat kedalam mobil mewah dan supir langsung ngegas.
Kino sendiri tampak lesu pagi itu, dia duduk di kursi pengaman sambil disuapi suster. Wajahnya kelihatan masih benci kepada mamanya, nampaknya peristiwa balon kemarin masih membekas di hati anak bayi ini.
"Habiskan makannya ya Kino!" mamanya memerintah. Kino tidak menjawab, mulutnya yang penuh bubur bayi terlihat beku. Kino sengaja menahan makanan didalam mulutnya sebagai tanda protes.  
"Jangan dimarah nyonya, dia perasaannya halus.." Suster memberanikan diri membela. Wajah mama Kino tampak sengit lalu menyambar bayi lelakinya untuk digendongnya sendiri. Membuat Kino kaget dan menangis. "Udah cup, cup, cup. Nanti mama beliin balon untuk Kino". Tangis bayi besar itu berhenti mendengar ada balon disebut. Dia senyum dan jari gemuknya menunjuk keluar, maksudnya untuk menghadang tukang balon kemarin. Lalu ibu beranak melangkah keluar rumah, diikuti dayang dayangnya. Tak lama mamang balon sepeda menjelang, terdengar dari suara tet-tot bel sepedanya, Kino meronta-ronta gembira di gendongan.
"Balon mamang, balon mamang..." jeritnya lucu."Sini bang!" mama Kino dan suster suster bareng berteriak sambil mengayun tangan. Dan mamang balon berhenti. Kino meloncat dari pelukan mama dan berlari menyongsong kerumunan balon gas yang terikat sambil bergirang hati.
"Itu mama, itu.." jeritnya sambil menunjuk keatas pada himpunan balon.
"Saya beli semua ya, bang" kata mama Kino. Mamang balon terbengong. "Aku mau yang melah yang besal, mamah.." jerit Kino. "Iya ini mama beli semua buat Kino". "Enggak mau mama, Kino mau yang melah itu.." Kino menunjuk. Lalu si abang menjumput tali pengikat balon berwarna merah dan memberikan kepada budak subur itu. Kino sangat hepi, kakinya lunjak-lunjak dan tangannya menaik-turunkan benang pengikatnya sehingga balon gas merah beralun bergoyang-goyang.
Mama Kino menyodorkan seratus ribu, abang tua itu garuk garuk kepala, tidak punya duit kembalian.
"Ini untuk abang semua.." kata Mama. Si abang  melongo dan menolak halus, dia tidak merasa pantas menerima uang yang jauh lebih besar dari ikhtiarnya. "Limaribu aja neng.." katanya lugu. Mama Kino menatap abang balon, lalu berbisik ke suster untuk memanggil team untuk standby. Tak lama team kreatif keluar dari kantor rumah lengkap dengan kamera. Tukang balon terlihat kikuk mau di shooting konten.
"Abang punya hutang?" Mama Kino memulai dialog. Sang abang balon menggeleng.
"Punya sembako?"
"Beras mah ada neng sedikit tapi cukup" Jawab mamang.
"Seragam sekolah? HP untuk PJJ anak? Sneakers?"
"Anak-anak saya sudah pada keluarga, Neng.."
"Mmm..Modal buat usaha?". Lagi-lagi mamang balon menggeleng.
"Terus sekarang, apa yang dicita-citakan abang?"
"Jual balon, neng..". Wajah abang bertambah heran.
"Abang harus menerima, ini saya ada sedikit rejeki.." Mama Kino menarik tangan si abang, bermaksud memberikan segepok duit ratusan ribu. Tapi si abang menarik tangannya kembali. "Jangan neng, saya enggak mau.." dia ketakutan dan segera mendorong sepeda balonnya grasa-grusu, lalu melompat ke sadelnya dan mendayung sekencang-kencangnya.
"Yah.. gimana sih tu orang? Gagal deh. Bubar.. bubar" Mama Kino memerintah semua kru konten, yang bergegas beberes.
Kino sendiri begitu sibuk dengan balon gas merahnya yang telah diikatkan pemberat supaya tidak terbang. Hingga sore hari papa Kino tiba di rumah dengan wajahnya yang lelah.
"Papa balon melah.." Kino pamer kepada papahnya. Papanya ikut gembira diikuti mamanya nimbrung bertiga. "Hadeeh, papa cape ini ma, mencari orang miskin yang tepat untuk konten kita". Papa Kino curhat yang disambut belaian istrinya. "Tadi juga mama gagal ngonten si abang balon, sebel ih..". Sementara sang bocah tak hirau, dia asyik bermain balon hingga lelah dan terlelap disamping balon merahnya. Kedua pasangan itu melepaskan bocah Kino ke peraduan bersama balon idaman disisinya.
Hari-hari selanjutnya, kembali dilewatkan dengan dunia konten dan prank keluarga bahagia ini, team kreatif juga bekerja makin sibuk menyiapkan 'talkshow' untuk beradu rekor pendapatan antara kelompok ngeprank dengan kelompok jualan orang miskin. Sementara Kino tampak kurang berbahagia memegangi balon merahnya yang mulai pucat. Bocah dua tahun ini mondar mandir gelisah lalu berjalan keluar rumah memeluk balon gasnya. Mama Kino dan suster mengikutinya sambil menenteng kamera.
"Balon telbang mama.." tangan gemuk Kino memberikan tali pengikat balon. "Kino mau terbangin balonnya?" Mama meyakinkan bocahnya.
"Iya, iya.. Kecian mamang balonnya .." kata Kino dengan kepala mantuk-mantuk. Lalu mereka memutus tali pengikatnya dan melepaskan balon merah itu terbang melewati awan sampai menghilang di telan langit. Kino bocah, tertawa gembira "Lumah mamang di atas.." katanya sambil menunjuk langit.

KEMBALI KE ARTIKEL