Mohon tunggu...
KOMENTAR
Humaniora Pilihan

Hari (Tak) Istimewa - Catatan Tepi

17 Oktober 2020   12:05 Diperbarui: 17 Oktober 2020   12:16 20 2

Sejak kecil saya tak memiliki tradisi merayakan hari istimewa, hari dimana ketika tanggal ini di hari jumat ibu dan bapak menyusuri jalan sepanjang Tebet, Pancoran dan Jalan Jendral sudirman diatas becak hingga tiba di Rumah sakit Mintoharjo.

Bertahun setelahnya satu peristiwa yang saya ingat mengenang hari ini adalah ketika kami berdua duduk bersama di bawah pohon jambu air dan beliau mengucapkan doa sekaligus bertanya pada saya:

"Selamat Ulang tahun ya! Tahun yang ketujuh belas, semoga kamu tambah dewasa." ucap ibu kala itu.

Buat ibu angka tujuh belas dari anak-anaknya adalah satu titik dimana kedewasaan telah selayaknya muncul karena menurutnya di tahun itulah setiap anak berhak memiliki Kartu Tanda Penduduk.

"Apa yang kamu inginkan, harapkan di hari ini, ibu akan mengaminkan!"

Saya tak menganggap hari itu adalah hari istimewa, hari yang dilalui dengan biasa saja seperti tahun-tahun sebelumnya sehingga untuk menjawab pertanyaan ibu saya tak memiliki kosa katanya.

"Apa keinginannya?" desak ibu.

"Saya cuma ingin ibu bangga bagaimana dan apapun nantinya saya!" jawab saya semaunya.

"Ya sudah kalau begitu, biar ibu yang mendoakan kamu untuk menjadi apa. Dalam hati saja ya!" ibu menjulurkan tangannya mungkin sambil mengumandangkan doa dalam hatinya.

Hari itulah hari dimana ibu pertama kali mengucapkan selamat ulang tahun kepada saya dan mungkin anak-anaknya yang lainnya.

Karena tak ada yang istimewa maka saya berusaha mengingat hari ini dengan berjalan saja. Mestinya malam tadi saya menyusuri jalan setapak, membelah belantara kering gunung sumbing dalam gelap, mensyukuri betapa saya masih mampu melangkah mendaki menuju satu titik ketinggian berkat dari kesehatan yang diberikan Allah penguasa semesta alam. Tetapi itu hanyalah sebuah rencana, Allah juga yang menentukan kami harus tetap berada di rumah.

Usai subuh tadi, di dalam kamar saya dikelilingi empat sosok yang menyampaikan rasa cinta mereka. Rasa cinta yang dibangun sekian tahun lamanya oleh anugerah Tuhan yang Maha besar. Peluk cium adalah harta yang tak ternilai lalu kami merayakannya dengan mengisi perbincangan mengenai apa arti usia.

Apa yang bisa dilakukan orang seusia saya? Itu pertanyaan besarnya.

Lalu kami merujuk pada sebuah film The Founder dimana Ray Kroc mengembangkan sebuah restoran kecil milik dua bersaudara di San Bernardino. Jatuh bangun ketika usianya serupa dengan saya, berusaha meyakinkan pada dunia bahwa revolusi penyajian makanan bisa dilakukan dengan cepat tanpa menimbulkan antrian panjang.

Dunia dikenalkan dengan konsep waralaba dimana satu merk bisa mendunia dengan standard yang sama. Ray Kroc adalah penjual mixer yang semula harus door to door menawarkan jualannya tetapi memang manusia memiliki masanya sendiri sehingga di usia awal lima puluh tahun ia menemukan konsep baru bisnis restoran tanpa harus mencontek atau mencurinya dari orang lain.

Dalam konflik bisnis yang menghiasi perjalanan usia, Ray Kroc menjadi pemegang hak untuk mengklaim bahwa Mc Donald adalah miliknya dengan memberi imbalan yang setara kepada pemilik aslinya dua saudara di San Bernadinho: Dick dan Mc Donald.

Sebagai penggemar film untuk mencari nilai moral, lalu kami membahas tentang film The Company Men. Ketika para eksekutif sebuah perusahaan besar mengalami kenyataan bahwa bisnis mereka mengharuskan mereka meletakkan jabatan, PHK. Hidup melenakan sebagai pegawai apalagi eksekutif besar telah membawa mereka gamang menghadapi kenyataan ketika status telah menghilang dan pekerjaan tak lagi digenggam maka segala kewajiban bulanan akhirnya menjadi siksaan.

Cicilan rumah jatuh tempo, kredit mobil tak lagi sanggup diteruskan, uang sekolah dan kuliah anak terus menagih,  juga segala kemudahan dan kemewahan lenyap seketika.

Tak mudah bagi sebagian orang yang berusia senior menghadapi itu semua, segaris dengan kondisi masa kini yang menghancurkan segala macam bisnis karena Pandemi.

Satu-satunya sikap yang dilakukan oleh para Company men untuk melanjutkan hidup adalah menghadapi kenyataan bahwa tak ada yang namanya situasi Darurat jika segala sesuatu telah dipersiapkan. Bobby Walker seorang manajer muda  akhirnya harus mau mendampingi kakak iparnya Jack Dolan untuk menjadi tukang pemborong bangunan sedang Phil Woodward senior manajer yang telah bekerja 30 tahun memilih mengurung diri dalam kendaraannya digarasi sampai gas CO merenggut nyawanya.

Seorang CFO Gene McClary yang pada awalnya adalah partner pendiri perusahaan juga akhirnya mengalami nasib yang sama, hilang segala kekuasaannya di Perusahaan. Dialah sumber inspirasi bahwa dalam setiap prahara selalu ada peluang.

Salah satu pesan yang saya tekankan pada ketiga anak yang pagi ini merayakan kelahiran saya adalah bahwa ayah mereka adalah orang yang tak lebih pandai dari mereka tetapi hanya memiliki kelebihan menjalankan sekian panjang perjalanan berbagai keberhasilan maupun prahara.

Mata kuliah terbaik di masa studi mereka adalah Pandemi dan laboratorium terbaik adalah pengalaman langsung saya bagi mereka. Saya mungkin akan terus menua hingga sampai suatu akhir dimana mereka tak lagi bisa menemui saya untuk mengucapkan sekedar selamat ulang tahun.

Setidaknya hari ini meskipun bukan di punggung gunung sumbing. Jalan masih terasa menanjak dan gelap serta kabut akan tetap terus membayangi sisa usia. Saya tak pernah takut menghadapi dunia karena Lelaki-lelaki yang mengiringi saya adalah lelaki yang tak mengeluh akan gerimis karena mereka telah mampu melalui badai.

Setua apapun usia, belajar dari pengalaman orang lain adalah suatu hal yang menguatkan. Semoga Allah SWT mengampuni segala kesalahan pada usia yang telah saya lalui.

Terima kasih anak istriku, terima kasih para sahabat.

17 Oktober 2020 - From the desk of Aryadi Noersaid

KEMBALI KE ARTIKEL