Mohon tunggu...
KOMENTAR
Cerpen Pilihan

Serunya Membaca dan Diskusi Buku Bersama Sahabat

7 September 2022   16:15 Diperbarui: 7 September 2022   18:07 297 24
"Danu, sedang baca buku apa?" tanya Ane sambil menggeser duduknya mendekat untuk melihat buku bacaan Danu.  

"Buku dongeng kisah persahabatan hewan-hewan di hutan", jawab Danu tanpa mengalihkan perhatiannya pada buku dengan kisah menarik itu.  

Ane semakin penasaran dan mencoba melihat halaman muka atau front cover buku dongeng yang dibaca Danu. "Aesop", baca Ane yang berhasil melihat sekilas bagian depan buku.  

"Aesop kan nama orang, kenapa kamu bilang cerita tentang hewan di hutan?" Ane semakin penasaran. "Apakah Aesop ini seperti cerita Narnia yang mengunjungi negeri khayalan atau bukan sesungguhnya?", Ane tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.  

"Nanti kamu boleh pinjam ya kalau aku sudah selesai baca. Tidak seru kan kalau aku ceritakan." Danu kembali melanjutkan membaca buku barunya. Ane yang kurang sabaran dengan rasa ingin tahunya mau tak mau harus menunggu.  

Dia kenal benar sahabatnya si kutu buku yang bisa naik pitam kalau diganggu kegiatannya sedang membaca buku baru.


Danu dan Ane sudah bersahabat sejak kecil. Cerita-cerita klasik anak sudah menjadi bacaan mereka sejak kecil. Papa Danu cukup berada dan mempunyai perpustakaan kecil di rumahnya. Danu beruntung sering mendapat kesempatan membaca buku baru hadiah dari papanya.

Ane tak kalah beruntungnya mempunyai sahabat Danu, meski Ane tidak punya buku bacaan sendiri namun kesukaannya membaca diawali dari keluarga Danu yang sering meminjaminya buku bacaan.

Danu membaca buku cepat sekali. Karena kemampuannya membaca dan merekam peristiwa dalam buku bacaan juga terbilang baik. Ini dikarenakan sudah terbiasa membaca buku sejak kecil. Boleh dibilang saat Danu masih dalam kandungan, mamanya juga sudah sering membacakan buku cerita untuknya.  

Ane hanya menunggu sekitar tidak sampai 1 jam untuk bisa membaca buku berjudul Aesop. Sesuai janji Danu, Ane menjadi orang pertama yang membaca buku tersebut. "Bagus ya ceritanya? Seru?" tanya Ane lagi.  

"Iya, bagus sekali. Bacalah, nanti kita mendiskusikannya setelah kau baca ya", jawab Danu singkat sambil memilih buku lain untuk menemani Ane membaca.  

Mereka berdua duduk di rumah pohon yang sengaja dibuat oleh papa Ane di belakang rumah. Terkadang mereka menghabiskan waktu membaca buku di rumah pohon jika cuaca cerah.

Terdengar suara mama Danu memanggil agar Danu mengambil makanan ringan yang sudah disiapkan untuk teman membaca. Danu sebenarnya tidak suka membaca sambil makan. Tapi kata mama, "Kan ada teman, ada baiknya kamu berbagi makanan dengan Ane. Siapa tahu nanti kalian mendadak lapar setelah lama membaca buku-buku."

Danu mematuhi mamanya, membawa sepiring kue dan minuman ringan untuk mereka. Ane sudah hanyut dalam kisah Aesop yang dibacanya. Seolah lupa pada Danu yang sedang mengunyah kue buatan mamanya.  

"Ane, makan dulu kue ini. Mama yang buat", Danu menawarkan kue yang diambilnya dari rumah. Tapi Ane tidak menjawab, terlanjur menikmati bacaannya.  

Danu ternyata cukup lapar dan menghabiskan dua kue. Waktu ia mau mengambil kue ketiga, teringat pelajaran di sekolah. Kamu harus membagi rata makanan dengan temanmu. Tidak boleh menghabiskannya sendiri. Danu pun urung mengambil kue tersebut.

Dia teringat satu bagian kisah fabel dalam buku Aesop yang baru dibacanya. Keserakahan akan merugikan diri sendiri. Setiap buku dongeng selalu ada nilai moral yang diambil dan bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Demikian halnya buku yang barusan dia baca.

Waktu berlalu, Ane membaca lebih lama dari pada Danu. Sambil menunggu, Danu membaca buku yang lainnya.  

"Selesai," kata Ane tiba-tiba. Danu menghentikan kegiatan membaca buku kedua. "Makan dulu kue ini, baru kita diskusi" kata Danu.  

"Wah, Tante baik sekali ya sudah membuatkan kue kesukaanku ini. Enak sekali. Terima kasih Danu, kamu tidak menghabiskannya semua dan membagi dua potong untukku" kata Ane ceria.  

"Aesop beruntung ya, dia mendapat kesempatan masuk ke negeri dongeng dan belajar banyak hal tentang kehidupan melalui kisah-kisah hewan-hewan di hutan", Danu memulai sesi diksusi buku seperti kebiasaannya.  

Ane mengangguk-angguk dengan mulut penuh kue. "Aku paling suka kisah anak gembala. Kebiasaan buruknya berbohong membuat dia tak bisa dipercaya saat menceritakan keadaan yang sebenarnya. Dia sudah membuat banyak orang tak mempercayainya ketika dia berbohong tentang serigala yang tidak ada.  

Akhirnya saat serigala sungguh datang menyerang domba-dombanya, tidak ada yang menolongnya. Sungguh kasihan. Mereka semua mengira dia berbohong lagi. Kita benar-benar harus menjadi orang yang jujur ya. Dengan demikian orang tidak akan meragukan kita."  

Ane menjawab panjang lebar setelah kenyang makan dua kue buatan mama Danu. " Iya ada di bagian enam buku itu. Aku ingat." Danu langsung menanggapi Ane. "Kalau kamu suka bagian kisah yang mana?" tanya Ane.

"Aku suka bagian 8. Ketika seekor kepiting berusaha berjalan ke depan dan membuat kakinya sakit. Dia sudah tahu kalau sejak awal diciptakan dengan gerakan berjalan menyamping, bukan berjalan ke depan seperti manusia.  

Menjadi seperti orang lain bagi kepiting ternyata menyakiti dirinya sendiri. Aku suka bagian ini, mengingatkanku untuk menjadi diriku sendiri seperti kehendak Tuhan." Jawab Danu dengan penuh semangat.  

Buku Aesop karya Andrew Bailey memang buku yang menarik. Kedua anak ini membaca dengan bahagia. Bahkan bisa menemukan nilai moral untuk diterapkan dalam kehidupannya masing-masing.  

Hari telah senja, waktu Danu dan Ane kembali ke rumah masing-masing. Mereka meninggalkan rumah pohon dengan bahagia. Rumah penuh kenangan saat masa-masa terhabiskan dengan buku bacaan dan diskusi. Ini hanya sepenggal kisah mereka.  

Masih amat banyak kisah lainnya. Hingga akhirnya menjadi kenangan manis di masa dewasa mereka. Mereka berjanji akan terus suka membaca dan mengembangkan budaya diskusi buku bacaan sampai dewasa nanti.  

....

Written by Ari Budiyanti

2 Agustus 2021


Pernah tayang di salah satu blog


Salam literasi

Merdeka

...


Note: Buku yang jadi acuan dalam cerita fiksi di atas adalah Aesop karya Andrew Bailey

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun