Mohon tunggu...
KOMENTAR
Novel

Misteri Kematian Gadis Titipan (4)

14 April 2012   11:59 Diperbarui: 25 Juni 2015   06:37 478 2

(Sebelumnya ....) Eno menunduk tanpa alasan yang jelas ketika memasuki pintu rumah kontrakan Adam. Pintu itu memang tidak begitu tinggi tapi Adam yang kenyataannya sedikit lebih tinggi dari polisi itu tak perlu menunduk untuk masuk. Ia terheran-heran melihat kelakuan tamunya itu, dan juga nasibnya, mengingat beberapa hari sebelumnya ia juga menerima tamu yang aneh. "Siapa tahu ada ramat atau laba-laba. Aku alergi," kata Eno sambil melempar senyum kambing. "Kamu atau rambutmu yang alergi?" "Rambutku." Lalu kata-kata itu tak berbalas lagi. Eno langsung melepas sepatunya ketika Adam menuju kompor kecil di sudut ruangan, dan lemari kecil tempatnya meletakkan panci dan beberapa gelas berisi bubuk kopi dan gula. Eno mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan sambil terheran-heran. "Kapan persisnya kapal ini karam?" "Hm?" Adam meminta kejelasan atas pertanyaan barusan. "Kamarmu ini, kapan karam? Ini lebih parah daripada lambung kapal pecah," kata Eno sambil mengelus-elus salah satu bidang dinding yang ditutupi kertas koran hampir di semua bagiannya. Kali ini Adam yang menggeleng. Tidak menyangka teman lamanya itu bisa selurus dan sejelas itu mengejek tempat tinggalnya. Tak berapa lama ia bangkit dari dapur sambil membawa dua gelas kopi panas yang kemudian ia letakkan di atas meja rendah yang berada persis di depan televisi. Eno sibuk mengambil beberapa buku untuk sekadar ia lihat sampulnya dan baca beberapa halamannya. Di situ ia juga temukan beberapa mainan boneka perempuan berambut pirang, boneka plastik kecil bergaya tentara, dan beberapa benang yoyo yang sepertinya sudah lama terlantar. "Ada apa dengan hidupmu, bos?" kata Eno lirih ketika tangannya mencoba memainkan sebuah rubik enam kali enam. Komposisi warna yang membuatnya berkali-kali mengernyitkan dahi dan menggaruk rambut Jepangnya. Adam memandang jauh ke langit-langit. Seakan-akan masa lalunya ia biarkan melayang-layang dan bersatu dengan ramat dan sarang nyamuk di atas sana. Gelap, dan tak perlu ia lihat lebih dekat. Ia menggeleng beberapa kali tanpa diperhatikan Eno yang sudah menyelesaikan sisi warna putih rubik. "Kalau kamu mau, aku bisa menceritakan kisah konyol bagaimana ku dan Alina bisa bercerai. Tapi jangan sekarang." "Konyol? Maksudmu?" Lagi-lagi Eno bertanya tanpa memandang. "Ya ... Jelas konyol kalau kamu bercerai dengan istrimu dengan syarat berjanji rujuk kembali suatu hari." Kali ini Eno melihat ke arah temannya. Adam yang merasa akan ada suatu serangan pertanyaan, buru-buru mengalihkan perhatian. "Nah! Kita ada pekerjaan. Bagaimana kalau kamu minum seteguk dulu kopi itu, dan kita pecahkan sama-sama teka-teki di balik empat gelas anggur ini. Oke?" Lalu investigator pribadi itu bangkit dari kursinya kemudian mengambil tasnya, mengambil empat gelas dari sana, kemudian dengan hati-hati ia letakkan di atas meja bundar yang sebelumnya telah dibersihkan dari beberapa barang tidak perlu. "Keempat gelas ini nampak seperti keluarga di mataku," kata Adam. "Tidak salah lagi. Dan dua cangkir kopi ini adalah pengacau satu keluarga?" hardik Eno sambil mengarahkan dengan serius telunjuknya ke dua mug berisi kopi milik mereka. "Ya. Itu aku dan kamu, polisi berkacamata. Dan kita bukan pengacau. Kita pendatang. Seperti malaikat yang turun dari langit ...." Adam tak menyelesaikan kata-katanya karena melihat ekspresi ngenes dari rekannya itu, duduk menopang dagu di meja rendah. Sorot mata yang kosong. "Baiklah." Ia melanjutkan. "Kamu tahu aku selalu memunculkan sisi lainku ketika berhadapan dengan kawan lama. Seakan semua kelemahan dan kekanakan keluar tanpa sadar." "Ayo mulai penjelasanmu. Bagaiamana kita memakai gelas-gelas ini?" "Oke. Pertama-tama." Adam lalu bangkit dan menggapai saklar lampu. Terdengar bunyi ketukan yang diikuti padamnya semua cahaya listrik di ruangan itu. Kemudian dari atas meja, perlahan-lahan berpendar empat cahaya yang menjadi satu-satunya pusat perhatian bagi mereka berdua. Eno mendekatkan wajahnya ke gelas itu sejenak ketika Adam hanya menyilangkan kedua lengannya di depan dada. Ia tersenyum puas. "Inilah, sahabatku Eno. Kunci dari kasus kita." Eno menggeleng beberapa kali ketika memperhatikan dengan seksama cahaya itu. Begitu indah, seperti diukir dengan rapi oleh sepasang tangan artis. Dilingkupi perasaan cinta dan ketegasan akan sikap. Ekspresi Eno berubah lebih serius dan muram ketika ia melihat sisi lain dari keempat gelas itu, nampak ia menyaksikan kegalauan, kesedihan, kesengsaraan, dan amarah. "Dua dalam dua. Menjadi kuat justru karena keduanya bertentangan." Sekitar setengah jam ruangan itu hening tanpa banyak suara. Satu-satunya bunyi yang paling sering kedengaran adalah lembar-lembar kertas yang terlempar, tersobek, dan teremas kemudian jatuh ke lantai. Juga corat-coret alat tulis dan beberapa kali bunyi buku ditungkupkan. Gang Kamboja nyaris sepi. Mesin mobil Altis itu pun telah dingin. Dua cangkir kopi itu diletakkan di atas meja nyaris bersamaan. Keduanya telah kosong, habis terminum dengan perasaan lega dan puas. "Ini pertama kalinya dalam hidup aku menyaksikan dari dekat alasan-alasan kematian seseorang. Kasus ini, Adam, bisa menggemparkan sebuah kelurahan, bahkan institusi kepolisian. Kamu tahu?" Adam membalas pernyataan itu hanya dengan senyuman. Baginya, setelah membagi apa yang ada di dalam pikirannya berdasarkan benda-benda yang menjadi petunjuk pemecahan sebuah misteri, ia sudah puas. Tinggal menunggu orang-orang membuat kesimpulannya sendiri. Mereka menghabiskan sisa malam dengan membaca buku, berbincang tentang sisa-sisa misteri, lalu kemudian mengobrol tak jelas arah tentang Kasus Ketua KPK yang akhirnya masuk penjara, sejarah listrik, kemudian berdebat lama tentang bahan utama penyusun lilin. "Kamu mau menemaniku besok di sana, Eno?" Adam bertanya ketika mereka sama-sama disergap kantuk. "Tentu. Besok aku day-off." "Sempurna." Kemudian mereka hening selama beberapa jenak. Televisi itu berpendar tanpa suara. Mereka menontonnya dengan pikiran yang sama-sama melayang ke banyak tempat, dan banyak kejadian. "Ada satu hal lagi, Eno. Kalau kamu masih ingin membantuku." "Tentu." Keesokan paginya mobil sedan itu sudah kembali terparkir di depan kontrakan kecil di sudut Jalan Gejayan. Eno datang, bersandar di pintu kiri sambil melipat kedua lengannya. Kemeja kotak-kotak yang kedua lengannya digulung sampai setengah lengan dan kacamata minus yang bening agak kehitaman menyempurnakan penampilannya yang selalu sempurna. Yang berbeda hanyalah rambutnya yang kini ditata agak tinggi di beberapa bagian. Adam yang baru saja menutup pintu dari luar dengan susah payah harus berhati-hati jangan sampai terdengar induk semangnya. "Kamu belum pakai uang itu untuk bayar kontrakan?" Eno bertanya tanpa merubah posisinya. "Uang dari Pak Thomas? Tentu belum. Statusnya masih pinjaman bagi aku, belum jadi bayaran sebelum pekerjaanku selesai." Eno mengangguk. Ia tipe pria yang mempercayai integritas, sesuatu pilar penting yang diajarkan padanya sejak akademi. Mobil itu masuk dan berbaur dengan keramaian akhir pekan menuju bagian timur Kota Yogyakarta. Adam merapikan tasnya yang terisi penuh sementara Eno menyesuaikan tinggi bunyi dari pemutar musik di kabin kemudi. "Kamu sudah bawa yang kupesan tadi malam?" tanya Adam. "Tentu. Itu di jok belakang." "Sudah kamu hubungi semuanya?" "Sudah. Pak Thomas sudah keluar dari Bethesda sejak semalam. Aku yakin dia akan sangat bersemangat menantikan jawab dari kita. Bisa kutebak sekarang dia sudah duduk tenang di ruang tamu rumah itu, menunggu." Akhirnya rumah itu membuka pintunya sekali lagi. Sejak kematian gadis anak penghuni rumah, tak banyak tetangga yang berkunjung. Cuma ada ketua RT dan beberapa anggota jamaah masjid yang menyampaikan simpati. Tapi ketika Thomas Hariri sering tidak di rumah, para tetangga hanya bisa menunjukkan rasa hormat, empati, dan terkadang hanya berakhir dengan saling menggunjing terkait masalah yang melilit keluarga di dalam rumah itu. Hari yang cukup sejuk. Mendung menggantung meski tak ada tanda-tanda penting hujan akan turun. Adam dan Eno disambut oleh Jonas dengan keramahan seperti biasa. Di ruang tamu, seperti dugaan, sudah duduk Thomas Hariri, meski dengan kursi roda yang dikawal seorang perawat pribadi yang  baru. Adam bersalaman dengan seisi rumah, memperkenalkan rekannya,  kemudian memohon izin keluar sebentar. Eno yang disambut dengan hangat oleh tuan rumah hanya tersenyum dan menjawab beberapa pertanyaan basa-basi dari orang tua itu. Tak banyak bicara, ia malah lebih sibuk membalas anggukan dari perawat yang tak bisa menahan senyum ketika mengantarkan minuman untuknya. Adam kemudian masuk kembali dengan membawa seorang perempuan paruh baya, yang ternyata adalah tetangga depan rumah itu. Tetangga itu mengangguk hormat, menyalami tangan Thomas kemudian mengambil posisi duduk di sofa terjauh. Adam menjelaskan mengapa ia harus mengundang Martini, seorang tetangga yang tidak begitu akrab dengan tuan rumah, untuk bergabung. Thomas sempat terdiam dengan alasan itu hingga menerima juga pada akhirnya. "Baiklah. Karena semuanya sudah berkumpul." Adam kemudian memilih berdiri dan menangkupkan kedua telapak tangannya. Thomas, Jonas anaknya, dan seorang tetangga itu memperhatikan dengan saksama. Eno baru saja membalas sebuah pesan singkat dari telepon genggamnya ketika akhirnya ikut menyimak. "Pak Thomas, saya kira Anda sudah paham mengapa saya harus mengumpulkan kalian di sini. Yang, saya merasa sedih karena ada orang-orang yang semestinya bergabung juga bersama kita di sini, namun tidak bisa karena beberapa hal di luar kemampuan kita." Kalimat itu meluncur begitu tertata seperti telah dikonsep dan dihapalkan malam sebelumnya. Eno menyimak dengan penuh simpati. "Sayang sekali kita tidak bisa menghadirkan Daud, pacar almarhumah, karena ia masih berstatus tahanan di Kepolisian. Saya tidak memberi jaminan bahwa hasil temuan fakta saya tentang kasus ini, yang oleh Pak Thomas diminta secara profesional, akan memuaskan banyak pihak. Pun, saya tidak menjamin kepada Anda, Pak Thomas, bahwa pemecahan segala pertanyaan atas semua rasa penasaran Bapak selama ini, akan menjadi jalan keluar yang berujung perubahan status legal seorang tersangka." Kalimat itu seperti mengurangi harapan Thomas. Air mukanya sedikit lebih muram. "Tapi kabar baiknya adalah ...," kata Adam lagi. Yang disambut muka bersemangat oleh semuanya tak terkecuali tuan rumah. "Kita masih bisa mengajukan temuan ini nantinya kepada kepolisian, sebagai bahan tinjauan ulang atas BAP saudara Daud. Bukan begitu, Inspektur Eno?" "Ya. Itu ada dalam KUHAP. Jika ada temuan baru ataupun alat bukti baru yang mengarah pada perubahan status tersangka ataupun status sebuah kasus, kepolisian wajib mempertimbangkannya." Adam mengangguk puas. "Nah, kalau begitu. Pak Thomas, adik Jonas, Mba Martini, dan perawat cantik, mari kita mulai." Tentu tak terdengar, namun jelas ada jantung yang berdegup lebih kencang dari biasanya. (Selanjutnya ...)

KEMBALI KE ARTIKEL