Kandidat

Ketidakpahaman dan Serangan Politis Kubu Oposisi terkait dengan Pelemahan Rupiah

6 September 2018   18:15 Diperbarui: 6 September 2018   18:30 203 0 0

Melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap USD menjadi bahan 'gorengan' pihak oposisi untuk menyerang pemerintahan Presiden Joko Widodo. Tanpa ada upaya untuk duduk bersama menyelesaikan masalah bangsa ini, para pendukung kubu Prabowo-Sandi itu justru gemar menyalak.

Bagi pendukung kubu oposisi, momen melemahnya Rupiah ini dijadikan samsak untuk menghantam pemerintah. Mereka memanfaatkan momen ini seperti mengail di air keruh dengan mempolitisasinya sehingga bisa dijadikan peluang untuk menggaet suara pada Pemilu 2019.

Hal itu seperti yang dilakukan oleh Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Ferry Juliantono ini. Ia menyampaikan pendapat soal melemahnya Rupiah ini sebagai kesalahan Presiden Jokowi dan tim ekonominya.

Menurutnya, nilai tukar rupiah yang kembali merosot ini adalah bukti pemerintahan Presiden Joko Widodo menerapkan paket kebijakan ekonomi yang salah. Kita semua menjadi korban nafsu keinginan dua periodenya presiden

Bagi mereka yang awam, mungkin akan menerima informasi itu secara mentah-mentah sebagai sebuah kebenaran. Namun, seharusnya itu perlu diluruskan karena pernyataan Ferry Juliantono sendiri tidak tepat, dan cenderung subyektif karena kepentingan politiknya saja.

Saat ini, Rupiah memang melemah. Namun, itu lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal. Melemahnya nilai tukar mata uang tersebut tidak hanya dialami oleh Indonesia saja, melainkan dialami oleh hampir semua negara berkembang.

Bahkan, meskipun nilai tukarnya merosot, namun pergerakan Rupiah saat ini masih lebih baik dibandingkan nilai tukar mata uang negara berkembang lain. Tingkat depresiasi juga masih tergolong wajar, bahkan relatif rendah dibandingkan negara lain di Asia Tenggara.

Pelemahan Rupiah ini adalah gejala global, sebagai gelombang yang tak terhindarkan bagi seluruh negara di dunia. Oleh karena itu, bila penyebab pelemahan ini karena paket kebijakan ekonomi Jokowi, maka itu adalah ngawur dan telah terbantahkan.

Fundamen ekonomi Indonesia masih sangat baik. Pertumbuhan ekonomi masih relatif tinggi, dan daya beli juga cukup baik. Maka, kondisi ini tak bisa disebut akan mengarah ke krisis. Apalagi menyebutnya sebagai kesalahan pemerintahan Jokowi semata.

Sungguh sangat disayangkan dalam momen seperti ini, isu perekonomian dijadikan bahan 'gorengan' oleh pihak oposisi, baik dari lingkup tokoh partai seperti Ferry Juliantoro maupun media partisan seperti eramuslim.com.

Tanpa proses kreatif sedikit pun, mereka terus memanfaatkan situasi melemahnya ekonomi Indonesia untuk menaikkan eksistensi dan menurunkan elektabilitas pemerintahan Jokowi.

Dalam momen seperti ini, kualitas pihak oposisi diuji. Apakah mereka berani mengajukan usul kebijakan yang alternatif, atau hanya sekadar nyinyir dan menyalahkan pemerintahan saja. Dan, tampaknya oposisi di Indonesia sekarang lebih memilih opsi yang kedua. Itulah mengapa kita berani sebut tak ada oposisi yang kredibel di Indonesia dewasa ini.