Ko In
Ko In Mendengar, bersama mencari solusi

Berikan senyum pada dunia, gembirakan orang karena tidak sedikit orang yang berat beban hidupnya.

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Pilihan

Lipatan, Ikatan, dan Tarikan Dab Anto sampai Huston, Texas

7 Desember 2018   16:40 Diperbarui: 7 Desember 2018   19:18 305 4 1
Lipatan, Ikatan, dan Tarikan Dab Anto sampai Huston, Texas
Shibori dari Yogya karya Dabanto (Foto: Ko In)

Selembar kain putih polos dibentangkan di lantai rumahnya. Dilihat dan diamati barang sejenak. Tatapannya tajam ke atas kain putih. Sesekali kepalanya meleng ke kiri dan ke kanan. Solah melihat gambar di atas selembar kain katun. 

Tak lama kemudian matanya berbinar seperti memperoleh insiprasi atau ide akan kain katun putih dari jenis primisima. Tangannya mulai melipat sebagian kain, ditekan. Ditekuk , kemudian diikat kuat dengan karet atau benang. Bahkan adakalanya dengan rafia. Beberapa kali tangannya mengambil karet untuk mengganti karet gelang yang putus karena saking kerasnya dia mengikat.

Belum seluruh kain terlipat, Anto pindah ke ujung atau sisi kain yang lain. Dilipat, ditekan, diikat dan beberapa bagian ada yang dijahit dengan tangan. Setelah itu ditarik kuat-kuat.

Kain katun diikat, dijepit dan ditarik (Foto: Dabanto)
Kain katun diikat, dijepit dan ditarik (Foto: Dabanto)
Tenaga dikerahkan, agar ikatan tidak mudah lepas. Tidak heran jika karet atau benang  yang digunakan sering putus.

Ikatan harus kuat

"Ikatannya harus kuat, biar saat dicelup ke dalam cairan pewarna. Ikatan tidak kendor  dan lepas. Sekaligus untuk memberikan efek pola tertentu , sehingga warna dapat menyerap ke bagian yang kita inginkan. Dan supaya tidak masuk ke bagian yang tidak kita inginkan" jelas Arief Andrianto.

Saya hanya terdiam, sambil memagang dagu melihat tangannya terus melipat dan mengikat kain putih. Saya tidak memiliki gambaran sama sekali apa yang nanti nampak di atas selembar kain putih itu. Jujur saya bingung saat itu.

Sayang, rasa penasaran saya tidak terjawab sebab saat saya berkunjung ke rumahnya. Anto belum segera membuka lembaran kain yang telah diberi pewarna. Saat itu cuaca mendung. Nampaknya Anto tidak berani mengambil risiko kain celupan pewarnanya jika dibuka dan di jemur  tidak kering.

Kain katun sudah diberi warna (Foto:Dabanto)
Kain katun sudah diberi warna (Foto:Dabanto)
Anto demikian panggilan akrabnya. Pengrajin shibori dari Yogya yang belum lama menggeluti seni melipat,mengikat dan mewarnai kain. Atau lebih dikenal dengan shibori atau jumputan. Tetapi dalam soal karya atau produk jangan ditanya hasilnya. Ternyata mampu menarik tidak sedikit orang untuk membeli dan memesan karya-karyanya.

Kerja keras melipat,mengikat dan menarik sampai Huston

Orang yang tertarik dengan karyanya tidak hanya dari sekitar Yogya tetapi ada dari Kalimantan dan Papua. Alasan mereka memakai busana atau kemeja shibori karya Anto, untuk dipamerkan kepada kerabat, kenalan dan kolega di daerahnya. Sebab karya shibori Anto memiliki kekhasan dibanding karya shibori lainnya.

Bahkan shibori hasil kerja keras Anto dengan  melipat, mengikat, menjepit, menjahit dan menarik serta sentuhan seni dalam mewarnai kain. Memikat seseorang yang tinggal di Huston, Texas, Amerika Serikat untuk memesan sejumlah shibori karyanya. Tidak tanggung-tanggung 31 lembar kain shibori atau jumputan,  dalam satu bulan mesti Anto kirim ke Huston.

Selama ini Anto mempercayakan pengiriman lewat JNE. Saya bertanya mengapa memilih JNE. Menurut Anto yang memiliki brand produk atau karya dengan nama "Dabanto". Karena saat melakukan pengiriman, dirinya dapat memantau sampai dimana barang kirimannya. Sehingga dapat memberi tahu costumernya sebagai upaya menjaga kepercayaan dan menjaga relasi.

Foto : JNE.co.id
Foto : JNE.co.id
Rumah produksi dab Anto  terletak di Jl. KH. Agus Salim 26 Yogyakarta. Tidak jauh dari Kraton Yogya kira-kira 500 meter jaraknya.

Jika berkunjung ke Kraton atau Taman Sari Yogya dengan bus. Biasanya bus parkir di terminal khusus bus wisata Ngabean. Selanjutnya jalan kaki atau naik becak menuju ke Kraton melewati  Jl. KH. Agus Salim. Salah satu rumah di jalan tersebut,  rumah produksi Shibori karya Arief Adrianto dengan brand "Dab Anto" berada.

Brand Shibori Dabanto (Foto: Dabanto)
Brand Shibori Dabanto (Foto: Dabanto)
"Dab" itu bahasa slank remaja Yogya yang sempat populer tahun 1980an, yang diambil dari huruf Jawa "Ho no co ro ko" yang sudah dibolak balik dengan rumus tertentu. Sehingga kata "dab" itu sebenarnya berarti  "mas".

Anto mengaku belajar kerajinan tekstil shibori hanya coba-coba atau iseng karena ditawari ada pelatihan Shibori. Saya sempat ditunjukkan karya pertamanya. Muka Anto seolah berusaha menutupi rasa malu karena karya pertamanya  jauh dari kata sempurna.

Karya pertama Dabanto (Foto: Ko In)
Karya pertama Dabanto (Foto: Ko In)
Shibori karya Dabanto (Foto:Ko In)
Shibori karya Dabanto (Foto:Ko In)
Shibori teknik dye resist, teknik yang menggabungkan lipat, ikat, tekan atau jepit, jahit dan tarik pada kain. Awalnya dari Jepang. Untuk memanipulasi bentuk supaya warna tidak menyerap ke beberapa bagian kain. Teknik ini hampir sama dengan teknik jumputan di Indonesia. Bedanya, setiap  teknik shibori memiliki nama khusus yang memiliki arti tersendiri.

Saat menekan, menjepit, mengikat menggunakan media bantu dengan seperti stick kayu es krim. Terkadang dengan uang logam atau kelereng. Yang merupakan pengembangan teknik mengikat shibori. Bahkan Anto memanfaatkan serutan es batu untuk membuat pola-pola yang unik.

Standar dan improvisasi karya Dabanto (Foto: Ko In)
Standar dan improvisasi karya Dabanto (Foto: Ko In)
"Serutan es batu dimasukkan ke dalam plastik. Diselubungi kain putih kemudian diikat. Saat es  mencair, serapan kain terhadap warna akan membuat pola yang unik dan menarik," jelasnya dengan penuh antusias.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2