Mohon tunggu...
klement Adwitya
klement Adwitya Mohon Tunggu... Perasa

Seorang desainer grafis yang menyukai tulis menulis.

Selanjutnya

Tutup

Musik Artikel Utama

Musik City Pop, Musik Tahun 80-an Jepang yang Kembali Hits di Internet

28 Mei 2019   14:00 Diperbarui: 6 Juni 2019   03:13 0 6 0 Mohon Tunggu...
Musik City Pop, Musik Tahun 80-an Jepang yang Kembali Hits di Internet
mariyat.co.jp

Sekiranya hampir satu dekade ini, genre musik City Pop kian digemari seiring dengan terkenalnya nama Mariya Takeuchi lewat lagunya yang berjudul "Plastic Love" di kanal Youtube. Dengan sampul foto Mariya Takeuchi yang menggunakan seragam sekolah, serta rambut yang terhempas layaknya tertiup angin, sebenarnya foto tersebut bukanlah foto sampul asli untuk lagu "Plastic Love".

Pasalnya, foto tersebut merupakan sampul untuk albumnya yang berjudul "Morning Glory", sementara "Plastic Love" merupakan lagunya yang dirilis dalam album berjudul "Variety", yang rilis pada tahun 1984 setelah hiatus sejak menikah dengan dedengkot City Pop, Tatsuro Yamashita, pada tahun 1982.

City Pop sendiri semakin dikenal pada masa sekarang seiring dengan lahirnya musik vaporwave, atau yang biasa disebut sebagai musik future funk, yang sedang digandrungi oleh anak-anak muda penggiat internet dan pemuja kemudahan teknologi seperti sekarang.

Lewat lagu "Plastic Love" yang dinyanyikan oleh Mariya Takeuchi, internet, terutama Youtube, merekomendasikan sejumlah artis yang memainkan musik-musik City Pop, seperti Miki Matsubara lewat lagunya yang berjudul "Stay With Me", Taeko Ohnuki lewat lagunya berjudul "4:00 A.M.", serta sejumlah album dari Tasuro Yamashita yang dianggap sebagai ayah dari musik City Pop.

Musik City Pop sendiri hadir pada dekade tahun '80-an di Jepang, yang mana negara Jepang pada saat itu sedang terpengaruh dengan kultur pop Amerika, namun digabungkan dengan sejumlah karya seni Jepang, seperti anime dan manga yang juga menginvasi Amerika dan negeri barat lainnya.

Dalam visualisasinya, City Pop selalu digambarkan dengan susana kota pada malam hari, dengan lampu-lampu kota yang berwarna-warni, serta berbagai kemajuan teknologi yang ada pada era tersebut. Bahkan bagi penggemar anime bertemakan mecha atau fiksi ilmiah, sangat akrab dengan musik City Pop yang menjadi musik pembuka dan penutup dari serial-serial kegemaran mereka tersebut.

Secara kultur, musik City Pop merupakan musik bagi kaum sub-urban yang sangat akrab dengan kehidupan kota di senja hingga malam hari, seperti yang biasa ditemui oleh para pekerja yang pergi pagi dan pulang malam hari.

Secara musik, City Pop sendiri bisa dikatakan sebagai musik Pop Urban, yang mana jika di Amerika, musik tersebut dimainkan oleh Michael Jackson, Diana Ross, George Michael, serta musisi seangkatan lain yang menggabungkan musik seperti funk, blues, r&b, yang dibumbui musik techno, yang pada masa itu sedang mempengaruhi industri musik dunia.

Di Indonesia sendiri, terdapat musisi yang dianggap sebagai penyaji musik City Pop, diantaranya adalah Fariz RM, Candra Darusman, Keenan Nasution, serta Chrisye pada era '80-an. Jika disejajarkan dengan musik City Pop Jepang mereka memiliki kesamaan baik dari segi rasa, serta permainan sound dari lagu-lagu tersebut.

Bisa disimpulkan bahwa, musik City Pop sebenarnya adalah musik yang dimainkan dengan menggabungkan sejumlah unsur musik seperti funk, blues, r&b, serta techno yang khas pada tahun '80-an. Di mana pada masa itu, kultur pop atau masyarakat diseluruh dunia sedang lekat dengan kehidupan sub-urban, seperti yang dialami para pekerja yang sangat akrab dengan suasana kota di malam hari, lengkap dengan lampu-lampunya.

Selain itu, sifat dari musik City Pop berada pada rasa yang elegan dan berkelas, dengan musik yang sederhana dan mudah didengar serta dinikmati.