Mohon tunggu...
Nur Hasanah
Nur Hasanah Mohon Tunggu... Evalutor

Evaluator - Educator - Entepreneur - Writer

Selanjutnya

Tutup

Kandidat

Membangun Kota Urban Berdasarkan Kearifan Lokal

7 November 2019   12:18 Diperbarui: 7 November 2019   12:36 0 0 0 Mohon Tunggu...
Membangun Kota Urban Berdasarkan Kearifan Lokal
dokpri


oleh : Beben Nurpadillah (Cawalkot Tangsel 2020)

Kota Tangerang Selatan (Tangsel) menjadi etalase perkembangan pembangunan dan teknologi masyarakat urban Indonesia. Sebagai penyangga ibukota, Tangsel memiliki daya tarik tersendiri. Karena itu, jika kami diberikan kepercayaan untuk menakhodai pemerintahan di Tangsel, terdapat empat prioritas program sebagai berikut.

Pertama, Tangsel merupakan kota pendidikan. Hal ini terlihat dari merambahnya lembaga pendidikan tinggi seperti UIN Syarif Hidayatullah, Universitas Terbuka, Swiss German University, STAN, UMJ dll. Kampus-kampus tersebut mesti menjadi center of exellence dalam membangun kota urban yang humanis. Mereka akan dilibatkan sebagai "pemain" dalam berbagai program kebijakan sesuai dengan spirit kearifan lokal sebagai basis pembangunan baik pembangunan Sumber Daya Alam (SDA) maupun infrastruktur seperti pemukiman, pendidikan, kesehatan, ruang terbuka hijau, dan lapangan pekerjaan.

Kedua, Tangsel merupakan kota urban yang kolaboratif membangun dengan kekuatan gotong royong. Semua elemen anak bangsa akan dilibatkan tanpa terkecuali selama sesuai dengan spesifikasi keahlian. Mahasiswa dan remaja urban banyak melahirkan kota kreatif yang bisa mendongkrak penghasilan daerah. Contoh konkret urban tourism atau wisata kota yang pruduknya antara lain: eat, play and shopping yang signifikan memberikan penghasilan bagi pendapatan daerah.

Ketiga, pembangunan yang merata antar kecamatan. Periode Bu Airin dan Bang Ben telah meletakan fondasi bagi pembangunan Tangsel namun masih terdapat kesenjangan di kawasan-kawasan tertentu. Ini perlu perhatian serius mengingat pada ada gap yang sangat lebar antara masyarakat menengah bawah dengan masyarakat atas. 

Ini pun mulai dirasakan sekarang, dimana harga property di Tangsel sangat tinggi, fasilitas kesehatan yang bagus sulit terjangkau dan pendidikan yang berkualitas bertebaran di Tangsel tapi sulit diakses masyarakat kalangan bawah. Bagaimana kota ini disebut cerdas, bila dalam membangun jalan selalu tidak memerhatikan drainase. 

Sehingga, jalanan kerap tergenang oleh air hujan yang menyebabkan umurnya sangat singkat. Saya cermati, pembangunan di Kota Tangsel 80%-nya dibangun oleh pengembang. Ini menjadi titik krusial yang harus segera dibenahi untuk memangkas kesenjangan yang menganga tersebut.

Keempat, menciptakan home made industry secara luas. Dengan APBD yang mencapai Rp 4 triliun, pemda akan membangun jejaring home made industry dan menyiapkan mulai modal, pelatihan, pembinaan hingga pemasaran yang dapat dijangkau oleh masyarakat luas termasuk dari luar Tangsel. 

Pada sektor ini bisa berkolaborasi dengan penyediaan layanan pemasaran peer to peer melalui aplikasi start up. Kita akan terus mendorong usaha kecil dan menengah (UMKM) berbasis teknologi selain tetap memerhatikan dan mendorong UMKM konvensional agar terus berkembang.

Kualitas masyarakat urban Kota Tangsel ini terbilang sangat baik bila dilihat dari statistik. Ukuran yang bisa dipakai adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Tangsel yang mencapai angka 81,17 berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2018. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata nasional yang hanya 71,39. 

Kita berharap bahwa IPM Tangsel tak berhenti di sini. Kita akan terus berupaya secara maksimal agar IPM Tangsel senantiasa meningkat selain pembangunan kota yang merata dan humanis.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x