Ang Tek Khun
Ang Tek Khun freelancer

Penduduk kota Yogyakarta • Sedang menyerap banyak hal, sedang belajar banyak hal.

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup highlight headline

Indi, Pengarang Novel Best Seller, Mengajak Anda Menulis

16 Januari 2017   03:15 Diperbarui: 16 Januari 2017   19:01 769 26 17

DISADARI atau tidak, salah satu kekayaan terbesar yang dimiliki Kompasiana, yang rasa-rasanya tidak akan mampu diikuti layanan media warga sejenis lainnya, adalah berkiprahnya sejumlah pengarang fiksi, senior maupun yunior, dengan dedikasi teramat tinggi.

Pada saat bergabung di sini pada 2013, saya menemukan nama-nama terkenal yang dengan mudah saya sebutkan namanya Thamrin Sonata, Isson Khairul, dan Syaiful W Harahap. Ketiga Kompasianer ini adalah senior saya saat menulis di Majalah Kumpulan Cerpen (Kumcer) Anita Cemerlang. Nama-namanya mereka tentu dapat pula dijumpai di sejumlah media lain selain Anita Cemerlang. Mereka terus menulis di Kompasiana, hingga kini, meskipun mungkin Anda lebih mudah menemukan tulisan mereka di ranah nonfiksi.

Itu hanyalah sekadar menyebut beberapa nama cerpenis sebagai contoh. Nama-nama lain yang menonjol sebagai pengarang fiksi, dengan mudah dapat dideretkan sedemikian panjang di halaman ini. Kesadaran akan antusiasme dan potensi tinggi pada ranah fiksi, tampak disadari sepenuhnya oleh Pengelola Kompasiana.

Tindakan pertama yang dilakukan Pengelola Kompasiana, sepengetahuan saya, adalah merentang tangan terbuka untuk menerima posting karya fiksi—yang pada era awal berdirinya Kompasiana Anda tidak akan menjumpai karya fiksi. Kedua, Kompasiana mendirikan seksi fiksi bernama Fiksiana sebagai penanda perlakuan istimewa yang selayaknya diberikan. Ketiga, adalah kehadiran lebih dari satu komunitas Kompasianer yang bergelut di kawasan penulisan fiksi—prosa maupun puisi.

Di sini bukan hanya ada komunitas berpanji-panji Fiksiana. Melainkan juga Rumpies The Club, dan kental pula dijumpai di sejumlah komunitas lain dalam lingkup Kompasianer semisal Planet Kenthir dan Koplak Yo Band. Dalam program layanannya, komunitas-komunitas ini kerap menyelenggarakan kontes menulis fiksi.

Di Sini Kisah Bermula

ITULAH alasan pertama saya dipenuhi dorongan yang teramat kuat untuk menuliskan posting ini. Alasan kedua, adalah karena nama seseorang bernama Indi. Hingga hari ini, saya tidak mengenal Indi. Saya sekadar tahu dan beberapa kali bertukar informasi melalui aplikasi pengiriman pesan yang tercangkok di media sosial.

Saya menemukan nama Indi, untuk pertama kalinya, tercantum di sampul sebuah buku fiksi berukuran mungil dengan desain cover unik. Buku ini tidak ramai dalam riuh perbincangan, demikian juga nama Indi bukanlah bintang percakapan di planet pengarang. Idem dito penerbit buku ini, Homerian, bukanlah penerbit yang mendapat lampu sorot di dunia perbukuan. Homerian lebih dikenal sebagai, saya sebut saja "balai baca" sederhana, yang di halamannya digunakan pihak lain berjualan Lotek, sejenis makanan terkenal, tempat saya kerap mampir di Yogyakarta.

Waktu Aku Sama Mika (Image: Homerian)
Waktu Aku Sama Mika (Image: Homerian)

Novel tipis dan sederhana itu, Waktu Aku Sama Mika, kelak melejit menjadi buku best seller yang mengalami cetak ulang belasan kali. Dari layar kertas, novel ini kemudian diangkat ke layar lebar oleh sutradara Lasja Fauzia Susatyo dengan judul Mika, yang rilis pada Januari 2013 dan dibintangi oleh Vino G Bastian dan Velove Vexia. Film ini, tak kalah dengan novelnya, turut menyedot perhatian banyak penonton dan sempat diputar di IFF Melbourne Australia. Sinopsis Waktu Aku Sama Mika dapat Anda baca di laman Wikipedia ini.

Instagram Indi
Instagram Indi

Tentang novel ini, Indi menulis di Goodreads.com:

Ini novel pertamaku yang diambil dari buku harianku ketika SMA. Novel ini berisi kisahku yang seorang scolioser dan Mika yang seorang ODHA (Orang dengan HIV/AIDS). Kami berpacaran selama 3 tahun yang menyenangkan dan novel ini mengabadikan salah satu moment terindahku yang pernah terjadi dalam hidupku :)

Mengenai Skoliosis, saya hendak mengutip Wikipedia:

Skoliosis adalah kelainan pada rangka tubuh yang berupa kelengkungan tulang belakang. Sebanyak 75-85% kasus skoliosis merupakan idiofatik, yaitu kelainan yang tidak diketahui penyebabnya. Sedangkan 15-25% kasus skoliosis lainnya merupakan efek samping yang diakibatkan karena menderita kelainan tertentu, seperti distrofi otot, sindrom Marfan, sindrom Down, dan penyakit lainnya. Berbagai kelainan tersebut menyebabkan otot atau saraf di sekitar tulang belakang tidak berfungsi sempurna dan menyebabkan bentuk tulang belakang menjadi melengkung.

Siapa Indi? Anda bisa membaca laman Wikipedia ini. Dan bila Anda ingin menyimak lebih jauh tentang pergulatan Indi dan Skoliosis, Anda dapat berkunjung ke kanal Youtube milik Indi.

"Guruku Berbulu dan Berekor"

USAI menulis Waktu Aku Sama Mika (2009), lahir buku kedua dari tangan Indi berjudul Karena Cinta itu Sempurna (2011), kemudian disusul Guruku Berbulu dan Berekor (2012). Buku terakhir ini menjadi unik karena memuat 36 kisah tentang hubungan manusia dan binatang peliharaannya. Indi dan para relawan—demikian ia menyebut para kontributor cerita dalam buku ini—yang baru dikenalnya. Pada halaman “Sebuah Sapaan” dalam buku ini Indi menulis, “Melalui buku ini aku ingin membagi kisah-kisah lucu, mengharukan, penuh cinta, dan juga menguatkan hati Anda, para pecinta binatang ataupun bukan”.

Rilis
Rilis

Kisah mengenai ihwal lahirnya buku Guruku Berbulu dan Berekor ini ditulis khusus oleh Indi dan bisa Anda baca di blog Indi ini.

Waktu sudah lama berlalu sejak saya membeli buku ini, hingga belum lama berselang tanpa sengaja di akun Instagram Indi [@indisugarmika] saya menjumpai rilis tentang perekrutan terbuka naskah untuk buku Guruku Berbulu dan Berekor Part 2. Di akun Facebook Indi [indi.sugar] pun Anda dapat menjumpai informasi ini.

Mengingat alasan pertama dan kedua saya sebagaimana terpaparkan di atas, inilah alasan ketiga saya menuliskan posting ini, yaitu hendak mendukung proses yang sedang dijalani Indi ini dengan mempertemukannya dengan Kompasianer, teristimewa yang berkecimpung atau kerap menulis fiksi dengan tanpa menutup peluang bagi yang rajin mem-posting buah pikir nonfiksi di sini.

Instagram Indi
Instagram Indi

Dorongan kuat saya ini, tak luput dari pernyataan pada alinea ketiga dari rilis yang diumumkan Indi, selain tentu hendak memberi peluang bagi para Kompasianeruntuk mengekspresikan rasa sayang terhadap hewan peliharaannya dengan tindak nyata berpartisipasi dalam projek menulis ini. Berikut, inilah rilis tersebut, saya ungkapkan sepenuhnya di sini sebagai bagian akhir dari tulisan ini.

Halo teman-teman, masih ingat dengan buku "Guruku Berbulu dan Berekor"? Tahun ini akan dibuat part 2 nya, lho. Sama seperti sebelumnya, aku mengajak kalian untuk menyumbang cerita untuk dimuat di dalamnya.

Caranya, kirimkan tulisan menginspirasi tentang kalian dan hewan peliharaan ke namaku_indikecil@yahoo.com ?? sebelum bulan Januari 2017 berakhir.

Royalti dari buku ini (berapapun jumlahnya) akan disumbangkan untuk membantu hewan-hewan yang membutuhkan. Update ke mana saja royaltinya disalurkan akan di share di blog Dunia Kecil Indi (link ada di bio).

Yuk, tunggu apa lagi. Salurkan hobi menulismu, bagi cerita menarikmu sekaligus membantu teman-teman berbulu dan berekor! ????

---

*Catatan: Saya tuliskan posting ini untuk Kompasianer dengan restu dari Indi.

[]

Twitter: @angtekkhun
Facebook: angtekkhun
Instagram: @angtekkhun1