Ang Tek Khun
Ang Tek Khun digilifepreneur

A popular, psychological view and stories about daily life; a human, personal and community behavior and trends beyond tech.

Selanjutnya

Tutup

Muda Artikel Utama

Menemukan Peluru Untuk Menulis Review dari Kompas Klasika

13 September 2016   18:05 Diperbarui: 14 September 2016   14:15 27 23 16
Menemukan Peluru Untuk Menulis Review dari Kompas Klasika
Halaman Klasika Jateng & DIY harian Kompas (13/9) - Foto: Pribadi

Saya tidak punya kemampuan yang baik dalam mengulas (review) produk/brand. Kerap kali, saya kehabisan akal untuk menghidupkan benda-benda mati semacam ini. Itu sebabnya saat berjumpa dengan Riana Dewie (salah seorang pengelola KJOGKomunitas Kompasianer Jogjakarta), saya suka merajuk minta diajari olehnya.

Riana Dewie, sebagaimana kita ketahui, hampir selalu menjadi pelanggan dalam kompetisi mengulas produk—sepeda motor, museum, hingga yang paling sering: Smartphone. Ia sudah melalang hingga ke Negeri Singa untuk menghadiri peluncuran sebuah (merek) smartphone yang dibarengi dolan-dolan cuci mata (city tour), sebagai ganjaran atas prestasinya mengulas smartphone tersebut di Kompasiana.

Riana Dewie, ujung kiri dalam barisan belakang, di kopdar KJOG dan Admin Kevin Kompasiana (8/9) - Foto Kevin/Kompasiana
Riana Dewie, ujung kiri dalam barisan belakang, di kopdar KJOG dan Admin Kevin Kompasiana (8/9) - Foto Kevin/Kompasiana
Itu pula sebabnya saya terkagum-kagum saat membaca salah satu ulasan kuliner dari seorang Sarie Febriane lalu tak mampu menahan diri untuk tidak menuliskannya di Kompasiana. [Baca: Menikmati Puding Hangat Sarie Febriane] Perempuan wartawan harian Kompas dengan kompetensi ilmu antiteroris (cmiiw), kemudian saya jumpai juga bernas dalam mengulas film. “Kenal Sarie? ... Dia memang gitu,” kata Sri Rejeki, wartawan Kompas lainnya yang belum lama ini mengisi kelas Feature di event Belajar Bareng KompasTV di kampus Atma Jaya, Yogyakarta.

Artikel: Menikmati Puding Hangat Sarie Febriane pada laman Kompasiana
Artikel: Menikmati Puding Hangat Sarie Febriane pada laman Kompasiana
Di area ulas-mengulas lainnya, pastinya saya juga nenikmati dan belajar banyak dari cara berkisah Windy Ariestanty. Lama menjadi editor kantoran sebuah kelompok penerbit, kini pendiri dan pengelola Writing Table, Windy pernah menerbit sebuah travelogue bertajuk Life Traveler: Suatu Ketika di Sebuah Perjalanan.

Cara mencatatnya yang sangat kerap mendecakkan lidah, menyertai spot-spot image dalam rangkaian perjalanan yang ia abadikan dan bagikan di media sosial. Sebagai editor fiksi, tentu Windy mengenal Show Don't Tell (SDT) dengan baik dan mengoptimalnya dengan cara kreatif. Anda juga pengin belajar dari Windy? Tidak sulit kok, pantau saja akun IG miliknya.

Skrinsut salah satu posting IG Windy Ariestanty
Skrinsut salah satu posting IG Windy Ariestanty
Pelajaran Hari Ini

Dan pagi ini, saya kembali dikejutkan dengan ulasan ciamik atas sebuah resor yang muncul di halaman Klasika Jateng & DIY harian Kompas (13/9/16). Saat membuka lembaran harian Kompassection ketiga, pandangan saya tanpa sengaja bersirobok dengan artikel ini. Mula-mula saya tergoda oleh kerling "mata"nya, lalu tertawan tanpa perlawanan oleh semringah "senyum"nya—sebelum akhirnya menyantap tulisan ini hingga kalimat terakhir.

Judul adalah kerling mata bening beralis lentik dan first line (lead) tak ubahnya sungging senyum bibir ranum "seorang" rupawan. Itulah struktur wajah eksotik si penggoda. Diksi pada judul tulisan itu menuntun mata saya turun pada first line (lead), lalu lari ke nama penulis: Fellycia Novka Kuaranita. Hm, nama yang tak saya kenali.

Semilir
Semilir
Setelah dikerling oleh tajuk Semilir "Sihir" dari Pesisir... saya terpapar dengan first line ini:

Pagi pertama di daerah Bangsring, Banyuwangi, Jawa Timur, itu elok seperti puisi. Sinar matahari yang lembut jatuh memulas embun pada pucuk-pucuk daun. Angin mengajak dahan-dahan rimbun menari, menciptakan musik alam. Nun di arah timur, lautan membentang tepat di bawah sisi bukit dengan Pulau Bali di kejauhan.

Betapa visual!

Betapa romantik!

Sapuan kuas kata yang sederhana namun elok. Satu-satunya hal yang mengganggu alun baca saya adalah penggalan "Banyuwangi, Jawa Timur". Bagi telinga saya yang mendengarkan, itu terlalu "teknis" bunyinya dan agak menyendat bagi alir lancar alun baca. Mungkin, sekadar usul, perlu dipertimbangkan untuk digusur ke paragraf lain.

Dua foto yang menyertai tulisan tersebut - Foto: Pribadi
Dua foto yang menyertai tulisan tersebut - Foto: Pribadi
Paragraf kedua mendudukkan persoalan tentang keberadaan penulis. Ia berada di sebuah kamar dari sebuah resor yang hendak diulas. Tampak biasa saja, tapi Anda akan (kembali) menemukan penggalan yang dalam bahasa gaul disebut "kutip-able": Seperti sihir yang tak berhilir.

Sesuatu yang mengejutkan, muncul di paragraf ketiga. Ada telisip penggalan percakapan, yang membuat tulisan ini menjadi hidup. Jauh dari dugaan pembaca akan segera dihajar oleh paparan data benda mati dengan kalimat-kalimat pujian sebagai sebuah kewajiban bagi si pengulas—penulis review.

Selanjutnya, biasalah, penulis harus "jualan" produk. Namun, Fellycia pandai menyuguh dan memilin kata dengan keterampilan bertutur yang detail, sehingga Anda masih bisa membaca "kisah", bukan sekadar "data", tentang berbagai tipe kamar yang tersedia di resor tersebut.

Ketika hendak mengalihkan fokus bahasan, pada paragraf kedelapan, penulis kembali menyuguhkan penggalan percakapan:

"Oh ya, kami punya sepeda yang bisa dipakai untuk berkeliling desa. Di belakang penginapan ada ladang, kebun jati, dan kebun kopi," kata Tanti, salah satu pegawai Bangsring Breeze.

Penggalan percakapan untuk ketiga kalinya digunakan pada paragraf kesebelas, "Untuk dasar kolam renangnya, saya menggunakan batu alami yang menyerap panas pada siang hari. Di malam hari, batu-batu itu mengeluarkan panas yang disimpannya sehingga air [menjadi] hangat," terang Jannah.

Paragraf enambelas dari tulisan tersebut - Foto: Pribadi
Paragraf enambelas dari tulisan tersebut - Foto: Pribadi
Penulis masih menggunakan cara ini sekali lagi (paragraf enambelas) sebagai upaya untuk membuat tulisan sepanjang 19 paragraf ini menjadi "hidup"—usaha menjauhkan datangnya kantuk atau perasaan bosan atas suguhan teknis.

Sebagai penutup, Anda ingin tahu bagaimana Fellycia memungkaskan "umbar" promotif atau menyodokkan barang "jualan"nya? Saya layak mengutip penuh apa yang diungkap dalam paragraf penutup ini:

Rumah bernama Bangsring Breeze ini adalah tempat yang tepat untuktetirah. Tempat untuk mendaraskan syukur atas anugerah alam yang begitu indah, sembari berjanji merendahkan hati.

Paragraf penutup dari Fellycia Novka Kuaranita - Foto: Pribadi
Paragraf penutup dari Fellycia Novka Kuaranita - Foto: Pribadi
Hm... manis, kan?

Sebagaimana saya mendapat pembelajaran dari artikel ini, dan membagikannya di sini, demikian saya menghampar harapan agar Anda juga dapat memetik sesuatu dari bagaimana Fellycia Novka Kuaranita mengolah kata, mengantar rasa, dan menuliskan review ini. Kiranya berkenan.

"Hai, Fellycia. Salam kenal. Boleh salaman denganmu?" []