Ang Tek Khun
Ang Tek Khun digilifepreneur

A popular, psychological view and stories about daily life; a human, personal and community behavior and trends beyond tech.

Selanjutnya

Tutup

Media Artikel Utama

Menjadi Blogger, Ibarat Memasak Nasi Goreng

16 September 2015   01:23 Diperbarui: 16 September 2015   14:28 678 43 38

[caption caption="Foto: Pixabay.com"][/caption]

Belum lama berselang, tanpa sengaja saya berkesempatan membaca sebuah posting yang (ingin) menjabarkan (ulang) pengertian tentang "blogger". Ada semangat untuk melakukan tafsir ulang atas pengertian "blog" dan "blogger" yang selama ini sangat cair dan masif beranjak ke pemahaman yangg lebih elitis.

Pengertian cair dan masif yang saya maksudkan di atas mengacu pada pemahaman yang amat kita kenali secara asali bahwa blogger adalah seseorangg menulis secara teratur, berkala, atau berkelanjutan di sebuah ranah bernama weblog. Ia dipadankan sebagai menulis diari, yang hanya dibedakan berdasarkan ranah. Sementara dalam hal ukuran jumlah kata, yang masuk dalam kategori lebih pendek sebagaimana format Facebook atau Twitter, boleh disebut sebagai microblogging.

Usai membaca artikel tersebut, menggiring pembaca, setidaknya saya seorang, bertanya-tanya, "Jadi, Blogger Itu Apa?" Atau, "Jadi, Blogger Itu Siapa?" Pertanyaan yang menimbulkan kegelisahan kecil dan mendorong saya menuliskan posting ini dengan mengabaikan topik lain yang sejatinya menjadi gilirannya.

Jika artikel tersebut bergerak ke arah "absolut", maka saya tertarik untuk membawa tulisan ini ke arah "relatif". Dan sebagaimana kebiasaan berpikir saya yang selalu tergoda untuk menggunakan amsal, perumpamaan, atau komparasi, maka saya ingin menganalogikan menulis blog ibarat membuat nasi goreng.

* * *

Setiap orang sejatinya bisa membuat nasi goreng, dalam pengertian memasukkan nasi putih ke dalam wajan dan menyanggrainya. Seseorang yang melakukannya untuk pertama kalinya, akan dengan bangga berkata kepada anggota keluarganya: Aku bisa masak nasi goreng. Demikian pula seseorang yang dalam beberapa kali klik berhasil membuka akun blog lalu menuliskan artikel pertama, tentu berhak untuk ngomong ke teman sekelasnya: Aku bisa nulis blog.

Namun apabila kita mengharuskan seseorang untuk secara berkala memasak nasi goreng agar berhak memeroleh predikat "pemasak nasi goreng", ya silakan saja.

Enak Atau Tidak Enak?

Apakah setiap orang yang kerap atau suka memasak nasi goreng otomatis adalah "penghasil" nasi goreng yang enak? Belum tentu. Baik secara kualitas maupun alasan taste, tidak pernah ada seorang pun yang mampu menghasilkan nasi goreng dengan satu rasa yang boleh ia klaim sebagai rasa nasional.

Dalam kasus pemasaran yang pernah saya baca, kisah produsen kecap manis merek tertentu pernah diangkat menjadi topik bahasan. Perusahaan ini membeli sebuah usaha kecap manis merek tertentu lalu melakukan kampanye besar-besaran secara nasional agar menjadi taste nasional. Dalam kurun waktu tertentu saat di-review, ia "gagal" merebut market share yang memadai. Ternyata pada kota atau daerah tertentu, ia kalah dengan kecap lokal.

Ini padanan jelas bila kita bicara tentang content blog. Genre tulisan, gaya penulisan, dan topik yang ditulis membentuk matriks yang kompleks. Atau untuk memudahkan, bila kita menderetkan segaris dalam track kualitas dari blog yang berisi wacana-wacana ilmiah hingga yang dicibir nyinyir, maka dengan lapang dada kita harus menerima bahwa penulis dari tulisan-tulisan nyinyir itu ya blogger juga.

Melek Teknologi Atau Lugu Lugas?

Nasi goreng yang baik harus menggunakan jenis beras tertentu dengan tingkat kelembekan tertentu. Jenis minyak goreng yang digunakan haruslah baru dengan komposisi tertentu yang diakomodasi oleh mereka tertentu. Pula dalam menggoreng, dibutuhkan wajan kualitas A antilengket dengan tingkat panas api sekian derajat menggunakan elpiji, bukan kayu bakar atau arang. Durasi kematangannya haruslah sekian menit, dan bla-bla-bla.

Barangkali ilustrasi di atas bisa menganalogikan seorang blogger yang canggih berteknologi. Ilmu SEO harus hapal di luar kepala dengan kemampuan menggunakan kata-kata yang berintensitas nilai tinggi di hadapan mesin pencari. Tak tertinggal penguasaan trik-trik viral dan sejenisnya sebagaimana tercatat dalam kitab-kitab panduan teknis.

Pada nasi goreng, siapa yang peduli? Wajan usang dengan kerak di sana-sini dan menggunakan minyak goreng bekas ini-itu, tentu tidak akan lolos standar ISO. Nasi goreng dengan kategori "amburadul" seperti ini, dalam banyak kasus, sering kali kita jumpai sebagai nasi goreng favorit banyak orang.

Berbayar dan Menghasilkan Uang?

Berbayar dan menghasilkan uang sebagai kasta tertinggi seorang blogger? Jangan pernah membuat skala ini, karena mungkin Anda akan kecewa saat mendapatkan jawaban: Uang? Siapa Peduli?

Tidak semua orang yang jago masak nasi goreng akan membuka warung nasi goreng. Keduanya adalah dua hal yang berbeda, tidak dalam perbandingan lurus. Demikian pula terbuka peluang untuk hal sebaliknya: Tidak semua yang membuka warung nasi goreng jago dalam membuat nasi goreng enak. Itu sebabnya terkadang kita dibuat bertanya-tanya, kok warung mewah itu tidak selaris pedagang nasi goreng kaki lima yang pembelinya antre semenjak sore hingga larut malam?

Menjadi blogger berbayar atau menjadikan blog sebagai mesin uang adalah keputusan dan hak pribadi yang merdeka. Dan setiap keputusan, sepanjang tidak melanggar hukum, adalah pilihan yang legal.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2