Mohon tunggu...
khumaediimam
khumaediimam Mohon Tunggu... Aja Liren Nggawek Apik

Penulis Buku Ayun-Ayun Badan (Himpunan Siir dan Syair bahasa Jawa)

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Habib Luthfi: Tunjukkan Kalau Kita adalah Bangsa yang Pandai Berterima Kasih

15 Desember 2019   09:03 Diperbarui: 15 Desember 2019   08:59 57 1 0 Mohon Tunggu...
Habib Luthfi: Tunjukkan Kalau Kita adalah Bangsa yang Pandai Berterima Kasih
dokpri

"Tunjukkanlah bahwa kita adalah bangsa yang pandai berterima kasih kepada para ulama dan para pendiri bangsa ini!" Demikian kalimat penutup yang disampaikan Maulana Habib Luthfi bin Yahya pada Gema Sholawat Babakan, Sabtu (14/12/19).

Ribuan jamaah hadir pada acara Gema Sholawat Babakan, Lebaksiu Tegal. Acara tahunan sekaligus peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW itu mengusung tema dengan kesatuan Polisi-TNI dan masyarakat, maka Indonesia semakin Jaya. Acara diawali dengan pembacaan Maulid Simtudduror yang dipimpin langsung oleh Khodimul Maulid sekaligus pengasuh Ponpes Ma'hadut Tholabah Babakan, KH. Mohammad Syafi'i Baidlowi.

dokpri
dokpri
Meski Habib Luthfi tak begitu lama, namun ceramah singkatnya begitu sarat pesan dan makna. Tersirat raut keceriaan jamaah atas hadirnya Habib Luthfi sang ulama kharismatik yang kini mengemban amanat baru sebagai Dewan Pertimbangan Presiden Republik Indonesia. Jamaah pun penuh hikmat mendengarkan pesan-pesan agama dan kebangsaan dari tutur mauidhoh khasanahnya. 

dokpri
dokpri
Diawal ceramahnya, Habib Luthfi membuka wawasan jamaah dengan mengajak untuk senantiasa bersyukur atas hadirnya kita semua dalam peringatan Maulid Nabi ini, selain mengurai riwayat Rosulullah yang mulia, tak lupa ia menegaskan juga untuk memuliakan para ulama yang telah mengajarkan kecintaan kepada baginda Rosul. "Apalagi para ulama Indonesia, mereka tak hanya mengajarkan tarikh, fiqih, tasawuf bahkan mereka juga berjuang susah payah untuk mendirikan bangsa ini" paparnya.

dokpri
dokpri
Beliau Habib Luthfi bin Yahya mengungkap bahwa ulama kita dahulu lah yang mengenalkan kita semua dengan para habaib. Mereka berjuang, di pelosok-pelosok desa, di kampung-kampung, di pegunungan. Bahkan rela mengorbankan harta benda demi perjuangan dakwahnya. "Bangunlah jiwanya, bangunlah raganya untuk Indonesia Raya, betul-betul telah dicontohkan para ulama kita terdahulu" tegasnya.

Maka sudah seharusnya, kita yang sekarang ini menikmati kemerdekaan bangsa Indonesia, harus mampu menjadi generasi yang pandai berterima kasih, bukan justru sebaliknya, mengkafirkan bahkan memecah belah persatuan bangsa." Tahun 1945, tahun 1947, tahun 1955 bahkan saat Repelita pun kita belum lahir!"

dokpri
dokpri
Pasca menyampaikan ceramah singkatnya, Maulana Habib Luthfi langsung berpamitan kepada jamaah untuk melanjutkan dakwahnya di Kudus, malam itu juga. Dan esok harinya di Jakarta. Pengawalan ketat pun mengiringi beliau. Namun, Gema Sholawat tetap berlanjut dengan ceramah dari KH. Subhan Ma'mun dan KH. Dirjo Abdul Hadi.

KH. Subhan Ma'mun mengurai perihal kriteria ilmu yang bermanfaat. Termasuk di dalamnya yakni menegaskan bahwa ciri orang yang berilmu adalah semakin tertanam sifat tawadhu dan taqwa kepada Allah SWT. Manakala ada saudara muslim yang salah, sudah seharusnya kita saling menasehati, bukan malah mencaci-makinya.

dokpri
dokpri
Sebagai pamungkas, KH. Dirjo dengan ceramahnya yang khas, lugas dan tegas membakar semangat jamaah." Siapa Kita? NU!. Pancasila? Jaya!. NKRI, Harga Mati!. tambahi...Bukan Basa-Basi!" pekiknya. Dai yang juga familiar disebut UJO alias Ustad Dirjo juga berpesan agar kita tetap menjaga keutuhan Bhineka Tunggal Ika. Partai boleh beda, Ormas boleh beda. NKRI Harga Mati, Bukan Basa-Basi. Jangan benturkan antara Kyai, Ustad dan Habaib. 

UJO melanjutkan pesannya, khususnya kepada para santri, agar senantiasa birrul walidain dan menghormati para guru-gurunya. Apalagi guru yang pertama kali mengajarkan ilmu kepadanya. "Sekalipun kalian pinter, lebih alim dari gurumu, tetap ingat dan ta'dzim lah kepada beliau, guru yang pertama kali mengajarimu ilmu!".

Gema Sholawat Babakan ditutup dengan do'a oleh KH. Khambali Utsman, Syuriah PCNU Kabupaten Tegal.

(Tulisan: Imam, Agus, Wadirin dan Feri, Alumni Ponpes Ma'hadut Tholabah Babakan Tegal.)

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x