Mohon tunggu...
Khoirurrizqiam
Khoirurrizqiam Mohon Tunggu... Masih Sekolah

Menulis segala hal

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Kembali ke Daratan Lumpur, Merayakan Idul Adha

19 Agustus 2019   23:28 Diperbarui: 19 Agustus 2019   23:29 0 1 1 Mohon Tunggu...

Tak dikenal siapapun, tak mengenal apapun, adalah pengalaman paling aneh sekaligus menjengkelkan ketika pulang ke kampung halaman.  Kebingungan justru menyeruak ke dalam pikiran tentang "Apa yang harus dirindukan?", atau mungkin "Bagaimana rasanya pulang ke kampung halaman?", apakah hanya aku, atau semua orang mengalaminya, entahlah.  

Hal tersebut terjadi bertepatan dengan hari raya idul adha ini, ketika aku mencoba pulang lagi ke masa kecilku di perumahan Tanggulangin Anggun Sejahtera (TAS) yang kini sudah rata dengan tumpukan lumpur.

Saat pertama kali mencapai lokasi, barisan tanggul yang memagari danau lumpur lapindo menyapa.  Aku mungkin akan lupa pintu masuk, jika saja tidak ada bekas palang kereta yang dulu sering kulewati ketika pulang.  Itulah satu-satunya patokan terdekat yang tersisa, seakan memanggil memori lama "Disini, dulu kamu lewat sini."

Aku lupa kapan terakhir kali menyambangi tempat ini, saat itu bersama beberapa anggota keluarga kami masih bisa mencapai lokasi rumah yang hanya tersisa atap.  

Sekarang, beberapa tahun kemudian, semuanya rata tenggelam tertutup lumpur dan aku hanya mendengar sedikit penjelasan dari Pak Samuji, ojek yang mengantarkanku berkeliling, yang berkata "Disini mas, dulu perum TAS di daerah sini", sambil tertawa sendiri, aku berusaha membayangkan bentuk perumahan, namun gagal karena lemahnya ingatan, dan hanya menjawab "Oh gitu njih pak." 

Maklum, sudah memiliki ingatan yang lemah, aku juga harus pergi dari rumah pertama keluargaku tersebut sejak kelas 2 SD, yang menyisakan memori setipis embun pagi.  

Diganggu sedikit saja saat konsentrasi mengingat, maka tidak akan tergambarkan bagaimana kedaan rumah itu, dulu.  Beberapa yang paling melekat adalah memori saat bermain bersama kawan satu RT, atau ketika pipa gas meledak yang menyebabkan langit malam terang benderang mengalahkan lailatu qadr itu.

Selepas pergi dari sana, acuan untuk membentuk kembali ingatan masa kecil semakin rapuh akibat beberapa kali pindah rumah kontrakan, hingga mendapat rumah tetap 'hadiah' dari tenggelamnya rumah pertama tersebut.  Mau tidak mau, langsung ataupun tidak langsung, pengalaman itu menyisakan jarak dengan kawan sepermainan, hingga tidak ada yang pernah benar-benar 'akrab.'  Mau gimana lagi, kenal sebentar, pindah rumah, ya kan.

Lekas, aku dan keluarga, juga beberapa keluarga lain mulai bersyukur mendapat keadilan dengan tergantinya lingkungan yang hilang, tenggelam, menyisakan tumpukan lumpur tersebut.  Aku mengira semua korban dapat memilikinya.  Namun ketika berkunjung kembali, ternyata beberapa orang masih belum mendapatkannya "Susah mas, apalagi kalau surat rumahnya sudah hilang.  

Sudah tidak bisa diurus lagi." Tutur Pak Samuji sambil memperlihatkan keahliannya mengatasi permukaan tanggul yang panas dan berbatu.  Aku sendiri memutuskan untuk tidak menggunakan sepeda motor pribadi yang ban nya kembang kempis setelah melihat tajamnya ujung batu-batuan diatas tanggul, belum lagi panasnya, sudah pasti ban ku akan mengempis seiring perjalanan.  Kalau kata Pak Samuji, "Bocor alus itu mas."

Ketika melewati salah satu sudut tanggul yang bersebelahan dengan seutas sungai kecil, aku melihat beberapa bapak-bapak sedang mencuci isi perut hewan qurban, yang sebenarnya dari bau di sekitar area tersebut saja sudah menunjukkan betapa tercemarnya lingkungan mereka.  Namun, mau gimana lagi kalau rumahnya belum tenggelam, ya tidak dapat rumah baru dong! meskipun mereka mereka ikut merasakan 'ampasnya', yang berarti sungai tersebut sudah tidak sejernih dulu. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN