Khasbi Abdul Malik
Khasbi Abdul Malik Mengajar, Menulis.

Penulis Muda

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup Pilihan

Pengalaman Gagal Konferensi Luar Negeri

14 November 2017   22:56 Diperbarui: 14 November 2017   23:04 289 0 0
Pengalaman Gagal Konferensi Luar Negeri
ppidunia.org

Memang bisa ke Luar Negeri adalah sesuatu yang bergengsi menurut beberapa orang, tapi tidak bagi yang lainnya. Hal ini pun pernah saya rasakan ketika ikut serta dalam konferensi YEES (Youth Education & Intrepreneurship Summit) 2017 di Istanbul, Turki. Bangga sih bisa ikut, yakin juga bisa berangkat. Tetapi semua sirna sekejap.

Acara YEES diselenggarakan pada tanggal 21 -- 25 September 2017, saya sudah 3 bulan sebelum ini mendapatkan kabar abstrak yang dikirim diterima. Rasanya bangga, sampai saya mempromosikannya kepada teman-temen, spontanitas. Namun, ternyata gagal berangkat. Setelah selang waktu setelah acara, ternyata saya baru paham sistematika abstrak peserta yaitu pasti diterima, karena YEES didirikan masih tergolong baru dan membutuhkan banyak peserta.

Perjalanan Mencari Rupiah

Dalam acara ini, dibutuhkan sekitar 14 juta untuk pesawat pergi-pulang, hotel, dan lainnya. Nominal ini, bagi mahasiswa bukan jumlah yang sedikit tetapi tergolong banyak. Maka, saya pun terus berdoa dan istikharah untuk tetap maju hingga saya mengajukan Sponsorship ke berbagai perusahaan ternama di Indonesia, walhasil nihil. Tidak ada satu perusahaan pun yang memberi kesempatan sponsor untuk keberangkatan acara ini.

Kegagalan sponsor tersebut disebabkan karena kriteria sponsopship tidak sesuai dengan perusahaan. Maka, bagi yang ingin mengirimkan sponsorship ke beberapa perusahaan ternama pahami tentang visi dan misi, terutama dalam prihal penggalangan dana yang bersifat pribadi. Karena pengajuan proposal sponsorship saya bersifat pribadi, sulit untuk bisa diterima oleh perusahaan.

Ketika pengajuan di salah satu perusahaan, tidak ada respon. Saya pun terus optimis mengajukan lagi dan lagi. Namun, tetap saja nihil hasilnya. Ada beberapa perusahaan merespon seperti, mereka menganjurkan datang ke kantor pusat di Jakarta, tapi tetap saja ketika datang ke sana hasilnya nihil, mereka belum bisa mensponsori.

Saat itu, saya tidak sendiri. Saya memiliki patner penggalangan dana yaitu Fatturoyhan, sahabat satu perjuangan saya saat di pesantren. Saya dan dia terus mencari solusi untuk mencari dana sebesar yang tercantum. Habatnya, Fattur berhasil melangkah lebih dahalu saat acara tersisa 1 belum, dia sudah mempersiapkan; Paspor, Visa, Tiket, dan lainnya. Bagaimana dengan saya?

Masalah Mengajariku    

Saat patner saya sudah siap berangkat, saya masih mempersiapkan diri untuk paspor dan dana tiket. Sebelumnya, saya pernah mencoba ke Universitas, tapi belum bisa memberikan dana. Pada akhirnya, saya melihat ada sesuatu yang menarik pada web kitabisa.com. Di dalamnya tersedia untuk penggalangan dana apa-pun dengan syarat dan ketentuan yang terlampir. Kemudian saya coba.

Apa yang terjadi? Setelah selang beberapa waktu, link penggalangan dana saya share ke berbagai group Whatsapp. Naasnya, apa yang saya lakukan adalah kekeliruan yang luar bisa. Pertama, saya terlalu banyak menyantumkan nominal dana, sehingga sempat saya berdebat dengan rekan di group. Kedua, penggalangan dana ini terbilang mengemis. Ketika, saya membawa nama instansi atau universitas di dalamnya.

Akhirnya, kabar ini terdengar oleh wakil rektor universitas, dan langsung memberi peringatan lewat pembimbing saya di kampus. Waktu itu saya merasa jatuh-sejatuh-jatuhnya, sempat beberapa jam saya renungkan terkait hal ini. Kemudian, langsung saya membuat tulisan klarifikasi permohonan maaf kepada pihak-pihak instansi dan menghapus penggalangan dana di web kitabisa.com.

Dari kejadian ini mengajarkan saya untuk tidak gegabah dalam bertindak dikala belum mendapatkan solusi. Karena pada saat itu, saya berusaha terus mencari solusi dana dan menemukannya di web kitabisa.com. Tetapi, penggalangan dana via online terbilang mengemis apalagi mencantumkan nama instansi. Itulah pengalaman keteledoran saya dalam penggalangan dana.

Apa yang Terjadi Setelahnya?

Teguran yang baik adalah peringatan. Alhamdulillah saya masih ada yang mengingatkan terkait permasalahan di atas. Bagaimana dengan acaranya? Saya sudah niatkan untuk mundur satu langkah demi kebaikan hati saya, karena hati saat itu bergejolak tinggi di tengah-tengah tugas. Saya korbankan biaya awal 1 juta, dan itu tidak bisa dikembalikan karena sudah ada LOA (Letter of Agreement) dari pihak panitia, bahwa uang yang sudah dikirimkan tidak dapat dikembalikan secara utuh.

Maka, mau tidak mau, ikhlas tidak ikhlas, uang tidak akan kembali. Saya sudah menandatanganinya via materai 6000, itu asli tanda tangan saya. Pada akhirnya, saya sampaikan kepada panitia, "Bahwa saya tidak ikut melanjutkan acara YEES," dan panitia menyetujuinya. Dengan berat hati, saya tinggalkan acara di Istanbul, Turki. Padahal, Negara adalah idaman bagi saya karena tokoh hebat Syed Nursi, dan Recep Tayyib Erdogan.

Allah Memiliki Tujuan Baik  

Tidak ada rasa rugi, tidak ada rasa tersesali, dan tidak ada kata menyerah. Kejadian ini mengajariku; apa artinya kehati-hatian, apa artinya perjuangan, apa artinya uang, dan apa artinya niat. Semua itu adalah pengalaman terbaik yang Allah berikan untuk bisa mengembangkan diri lebih baik lagi. Uang bukan segalanya, karena Allah Maha Kaya. Walaupun tanpa uang kita belum tentu bisa pergi ke Turki, tetapi yakinlah bahwa Allah mampu memberangkatkan kita ke Turki bahkan ke Negara lainnya tanpa sepeser uang sedikit pun, Insyaallah.

Pesan untuk Temen-Temen:

  • Konferensi luar negeri Niatkan untuk belajar, bukan hanya sekedar jalan-jalan ke luar negeri.
  • Bagi yang baru ingin mengikuti konferensi Luar Negeri, pahami terlebih dahulu jenisnya, fully funded atau tidak. Jika tidak, harus mempersiapkan diri, dan finansial lebih besar lagi.
  • Jangan menyerah ditengah jalan seperiti saya. Jika itu terjadi, pertimbangkan baik-baik.
  • Tidak mengumbarkan kabar baik konferensi, ditakutkan ria, ataupun sejenisnya.
  • Fokus pada tujuan, nikmati proses, dan dekatkan pada Allah.
  • Hasilnya, bisa dilihat sahabat saya Fatturoyhan, setelah konferensi diundang ke beberapa tempat untuk menyampaikan pengalamannya, "Experience is The Best Teacher"