Mohon tunggu...
Kezia Grace L
Kezia Grace L Mohon Tunggu... Mahasiswi Ilmu Komunikasi

Tulisanku adalah aku

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Memangnya Benar, Diam Itu Emas?

8 Oktober 2020   00:47 Diperbarui: 8 Oktober 2020   07:34 177 9 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Memangnya Benar, Diam Itu Emas?
Photo by Ket Quang from freeimages.com

"Diam tak selalu emas," begitu kata dosen yang mengajar mata kuliah Lobi dan Negosiasi di kelas saya. Dan saya percaya itu.

Toh, kita hidup di dunia ini bersama 7 miliar manusia lainnya, dengan karakteristik dan pemikiran yang berbeda-beda. Bagaimana mungkin kita tahu sikap, sifat, dan pemikiran satu sama lain jika kita hanya berdiam diri saja?

Seperti pacarmu yang tidak akan tahu kamu mau makan apa , saat kamu ditanya "mau makan apa?" hanya merespon dengan mengangkat bahu atau sekadar bilang "terserah". Begitu pula dengan orang tuamu, tidak akan pernah mengerti cita-citamu dan mungkin hanya akan menyuruhmu mengikuti ambisi mereka, jika kamu tidak pernah menceritakan cita-citamu pada mereka.

Temanmu yang meminjam uangmu, yang bilang "besok gue ganti", namun kemudian melupakannya, mungkin akan terus lupa jika kamu tidak menagih uang itu  hanya karena kamu takut dibilang "perhitungan". Orang yang terlalu nyaman bertamu di rumahmu mungkin akan tetap  di rumahmu hingga larut malam, jika kamu tidak menyuruhnya pulang dan memberitahu alasan bahwa kamu sedang kecapekan atau tidak enak badan. Dan masih banyak  lagi contoh 'diam' lainnya yang jika terus kamu pelihara akan merugikan dirimu sendiri.

Sebenarnya, ada banyak penyebab orang menjadi 'diam' saat seharusnya ia berbicara, seperti: ngga enakan, ngga suka ribut-ribut alias menghindari konflik, takut salah ngomong, takut dianggap tidak sopan, dll. Nah, kalau kamu relate banget sama ciri-ciri tersebut, berarti kamu tipe orang yang cenderung berkomunikasi secara pasif.

 Seorang komunikator yang pasif cenderung menghindari untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya secara jujur dan lebih memilih untuk  memendam perasaan dan berpura-pura. Saya pun dulu termasuk orang yang terbilang sangat pasif. Mau saya ceritain, ngga?

Saat masih SD dulu, saya sangat suka membaca manga-manga Jepang diantaranya yaitu Hai Miiko!, Detective Conan, One Piece, dan juga Doraemon. Btw, saya tidak mengeluarkan uang sepeser pun untuk membaca manga manga tersebut. Manga Hai Miiko! saya pinjam dari adik saya, sedangkan Detective Conan dan One Piece saya pinjam dari sepupu saya. Makanya saya lancar baca setiap chapter-nya, ada yang "sponsorin" sih hehehe.

Singkat cerita, saat saya menduduki bangku SMP, saya sadar ada yang salah pada diri saya, yang ternyata disebabkan oleh hobi saya membaca manga, namun saya tidak mengerti apa itu. Di dalam kelas, saya bertanya pada teman yang duduk tak jauh dari saya.

Saya: "Meg, lo kelihatan ngga sih tulisan di papan tulis?"

Mega: "kelihatan kok, Grace."

Saya bingung, yang saya bisa lihat hanya cahaya yang terpantul di papan tulis. Sedangkan tulisannya sama sekali tidak bisa terbaca.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x