Kertas Putih Kastrat
Kertas Putih Kastrat

Kumpulan intisari berita aktual dan terkini yang ditulis dan disusun oleh Departemen Kajian dan Aksi Strategis BEM IKM FKUI 2018. Narahubung: Faris (LINE: farisrizqhilmi)

Selanjutnya

Tutup

Keamanan

Terorisme Surabaya, Wujud Eksistensi Masalah Laten Indonesia?

12 Juni 2018   16:42 Diperbarui: 12 Juni 2018   19:32 511 1 0
Terorisme Surabaya, Wujud Eksistensi Masalah Laten Indonesia?
Sumber gambar: metro.tempo.co

Terorisme di Surabaya memang sudah lewat hampir sebulan saat artikel ini diluncurkan. Namun, tidak pernah ada kata terlambat untuk membahas masalah terorisme, karena sepertinya, terorisme yang terjadi belakangan ini merupakan wujud  masalah laten di Indonesia  yang perlahan menunjukkan eksistensinya.

Laten didefinisikan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sebagai "tersembunyi; terpendam; tidak kelihatan (tetapi mempunyai potensi untuk muncul)".

Aksi terorisme yang melanda tiga gereja di Surabaya pada Minggu, 13 Mei 2018, tidak dapat dipungkiri mengejutkan bangsa ini. Pada hari Minggu pagi, terjadi tiga ledakan dalam kurun kurang dari satu jam. Ledakan pertama terjadi pukul 07.30 WIB di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela Ngagel oleh dua orang yang menggunakan sebuah motor. 

Lima belas menit berselang, tepatnya pukul 07.45 WIB ledakan terjadi di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jalan Diponegoro yang pelakunya adalah seorang perempuan bersama dua anak kecil. Kemudian, pukul 08.00 WIB, hanya lima belas menit berselang dari ledakan kedua, terjadi ledakan ketiga (dan terakhir) di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) Jemaat Sawahan di Jalan Arjuna menggunakan bom di dalam mobil.

Kejutan kemudian datang ketika diketahui bahwa pelaku ketiga ledakan yang terjadi berasal dari satu keluarga. Ledakan di Gereja Santa Maria Tak Bercela dilakukan oleh Yusuf Fadil (18) dan FH (16), anak dari pasangan Dita Oepriato (47) dan Puji Kuswati (43). Kemudian, ledakan di GKI Diponegoro dilakukan oleh sang ibu, Puji Kuswati, bersama kedua anaknya, FS (12) dan PR (9). Puji membawa bom di pinggang, dan kedua anaknya ikut membawa bom bersama Puji. Lalu, sang ayah, Dita Oepriato, setelah mengantar istri dan anaknya ke GKI Diponegoro, meledakkan bom mobil di GPPS Jemaat Sawahan.

Kejutan kembali datang ketika malam harinya, ledakan terjadi di Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo. Ledakan terjadi karena ketidaksengajaan. Bahan yang digunakan untuk membuat bom dikatakan kurang stabil dan bisa meledak tanpa detonator. 

Hal tersebut terjadi pada ledakan ini di mana sang pembuat, Anton Febrianto (47) pada saat terjadi ledakan ditengarai sedang membuat bom di tempat tinggalnya. Anton tewas bersama istrinya dan anak pertamanya. Sedangkan, ketiga anaknya yang lain luka-luka dan dibawa ke rumah sakit.

Keesokan harinya, bom bunuh diri terjadi di Polrestabes Surabaya. Bom bunuh diri dilakukan oleh satu keluarga beranggotakan lima orang yang menggunakan dua sepeda motor. Dari kelima pelaku, hanya satu yang selamat, yaitu anak kecil yang duduk dihimpit di salah satu sepeda motor.

Ketiga ledakan yang terjadi di Surabaya dalam kurun kurang lebih 24 jam ini merenggut nyawa 12 warga. Jumlah tersebut tidak termasuk pelaku bom bunuh diri yang total berjumlah 13 orang.

Pola Baru Terorisme: Eskalasi Masalah Laten Indonesia?

Ketiga ledakan yang terjadi di Surabaya tidak dapat dipungkiri melibatkan entitas keluarga. Walaupun tidak secara langsung melibatkan keluarga, ledakan di Rusunawa Wonocolo ini tetap dapat dijadikan penunjuk bahwa saat ini, aksi terorisme tidak lagi jauh dari keluarga, terbukti dari dibuatnya bom di tempat tinggal dalam posisi tidak jauh dari keluarga. Sisanya, dua ledakan lainnya terjadi dengan sangat melibatkan keluarga.

Keterlibatan keluarga dalam terorisme dikatakan bukan sesuatu yang baru. Sebelum terjadinya peristiwa rentetan ledakan di Surabaya yang melibatkan keluarga, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) sebelumnya mengaku telah memulangkan 18 deportan yang merupakan satu keluarga besar, dengan 15 di antaranya adalah perempuan dan anak-anak. 

Secara spesifik, BNPT mengatakan bahwa pelibatan perempuan dalam aksi terorisme dapat membuat anak (bahkan suami) untuk ikut dalam terorisme. Terdapat pula analisis lain yang mengatakan bahwa peran bapak dalam keluarga juga dapat memiliki andil yang penting dalam tumbuhnya terorisme dalam keluarga.

Terlepas dari mengapa perempuan menjadi sasaran radikalisasi, atau dalam aspek lebih umum, mengapa teroris memikat keluarga, hal yang patut diperhatikan adalah fakta bahwa terorisme sangat dekat dengan keluarga saat ini. 

Komunikasi dapat terjadi tanpa media alat komunikasi (misal telepon seluler, sosial media, dll.), membuat sel-sel terorisme bisa menjadi sulit untuk diantisipasi. Dari luar, komunikasi juga dapat terlihat sangat wajar dan tidak dicurigai karena pelaku komunikasi adalah anggota keluarga, yaitu suami-istri dan orangtua-anak.

Inilah yang membuat terorisme penulis katakan sebagai masalah laten. Perlu kita khawatirkan bahwa rentetan ledakan yang terjadi di Surabaya dan secara kebetulan ketiganya melibatkan keluarga merupakan eskalasi masalah laten di Indonesia yang kini perlahan menunjukkan eksistensinya. Masalah laten tersebut adalah tumbuhnya bibit-bibit terorisme di dalam keluarga, suatu entitas yang seharusnya menjadi tempat tumbuh dan berkembang paling kondusif bagi para anggotanya.



Seperti yang sudah kita lihat bersama, keluarga dapat menjadi tempat cikal bakal terorisme tumbuh. Bukan hanya berbicara masalah anak, melainkan keluarga sebagai sebuah kesatuan bersama anggota di dalamnya. Kini, tugas kita adalah menjaga keluarga (dan orang sekitar) kita dari bahaya bibit-bibit terorisme.  


- Nico Gamalliel


Referensi:

Tiga Keluarga Pengembom Meledakkan Diri di Rentetan Bom Surabaya

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2