Mohon tunggu...
Renita Yulistiana
Renita Yulistiana Mohon Tunggu... Literasi

Gerakan Suka Baca -- Yayasan Taman Baca Inovator

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Belum Saatnya Mengomentari Pendidikan

29 Juli 2020   12:12 Diperbarui: 29 Juli 2020   12:16 49 7 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Belum Saatnya Mengomentari Pendidikan
Youtube.com

Hari ini, tepat setahun saya bekerja di bidang literasi dan pendidikan. Dulu, saya sangat keranjingan akan gagasan #MerdekaBelajar yang diusung oleh Kemendikbud. Sejak saya menyaksikan pidato Nadiem dalam episode 1, saya mencium aroma yang segar sekali. Presentasinya membuat kagum dan tidak terhitung berapa kali saya menganggukan kepala. 

Namun, itu tidak bertahan lama. Sebab, saya mulai teracuni oleh Pendidikan Kontekstual yang diusung oleh Sokola Rimba binaan Butet Manurung, dkk. Terlebih, saya berkesempatan mengikuti kuliahnya secara online sebanyak 7x pertemuan dengan berbagai materi yang menyenangkan.

Di masa pandemi, saya menerima berbagai curahan hati. Mulai dari guru, siswa, dan orangtua. Mereka mengadukan keresahan betapa sulitnya melakukan pembelajaran tanpa melakukan tatap muka. Mulai dari masalah akses internet, kehabisan ide membuat kegiatan belajar, hingga sulitnya mengatur emosi saat mendampingi anak belajar-sementara sang ibu juga melakukan Work From Home (WFH). Ditambah beberapa berita di media yang juga membahas hal serupa.

Saya sangat menunggu, ada terobosan apa yang dilakukan Mendikbud? Cukup lega, ketika mendengar ada upaya melibatkan Radio Republik Indonesia dan Stasiun TVRI untuk mendukung proses belajar. Namun, apakah efektif? Rasanya belum, hanya sedikit "menyelamatkan". Makin ke sini dan memasuki Tahun Ajaran baru, terobosan yang diharapkan semakin tidak terdengar. Atau saya yang tidak mengikuti updatenya? Namun, saya harus akui, Mendikbud kalah peka ketimbang gerakan-gerakan komunitas, seperti: Gerakan donasi hp yang diinisiasi para wartawan. Atau kemuliaan Zenius, sebuah perusahaan pendidikan berbasis teknologi yang menggratiskan akses pembelajaran sejak Desember 2019 hingga sekarang.

Lalu, bagaimana cara menyelamatkan pendidikan? Sayapun masih mencari tahu. Menurut saya, menerapkan secara penuh #MerdekaBelajar ataupun kontekstual juga bukan cara yang tepat. Banyaknya kasus dan hal baru yang saya temui dan pelajari. Justru malah membuat pandangan saya terhadap pendidikan semakin tidak kokoh. Saya merasa seperti manusia yang tidak berprinsip. Atau mungkin, kapasitas otak saya memang tidak sanggup. Saya kesal jika menjawab suatu masalah secara kondisional. Seolah-olah, saya tidak mempelajari apapun di dunia ini. Mungkin ini maksud "multa non multum" (Ada sedikit-sedikit, tidak terlalu dalam) pada buku Max Havelaar. 

***

Semalam, sepulang kerja saya melewati lampu merah Arif Rahman Hakim Depok. Sambil mengendarai motor Honda Beat biru kesayangan. Saya melihat salah satu siswa asuhan sedang mencari uang dengan menjadi "manusia silver". Tadinya, saya ingin berhenti dan bertanya kenapa beberapa minggu ini tidak belajar? Namun, saya urungkan meskipun sudah menepi. Sebab, saya belum bisa menjamin. Apakah dengan dia belajar dengan saya, kebutuhan hidupnya bisa terpenuhi? Nyatanya, saya harus lebih banyak mendengar dan bertanya kepada anak-anak apa yang mereka butuhkan. Kenapa mereka lebih suka mencari uang ketimbang belajar?

Saya takut, apa yang saya lakukan selama ini bukan membantu mereka. Tapi, hanya sebuah balas dendam atas pelarian masalah orang dewasa. Curang kan? Sepertinya, saya harus menyelesaikan masalah ini dulu. Sebelum membahas pendidikan terlalu jauh. Tapi Maaf Pak Nadiem, saya punya pesan dari Amigdala: Kau yang Singgah Tapi Tak Sungguh.

Renita Yulistiana
29 Juli 2020

VIDEO PILIHAN