Mohon tunggu...
KASTRAT DEMA FEB UIN JAKARTA
KASTRAT DEMA FEB UIN JAKARTA Mohon Tunggu... KASPER (Kastrat in Paper)

KASPER merupakan sebuah program yang berisikan essay yang disalurkan oleh kementrian Kajian dan Aksi Strategis Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) FEB UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang isinya merujuk tentang pembahasan isu yang tengah hangat di masyarakat, menolak lupa akan sejarah yang lampau, maupun yang belum lama terjadi seputar politik, sosial, dan ekonomi

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Konflik Palestina-Israel Kembali Meletus, Apa Kabar Dampak Ekonomi dari Hal Tersebut?

18 Juni 2021   07:08 Diperbarui: 18 Juni 2021   07:14 74 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Konflik Palestina-Israel Kembali Meletus, Apa Kabar Dampak Ekonomi dari Hal Tersebut?
Konflik Palestina-Israel menyebabkan kerugian besar bagi kedua belah pihak, baik dari segi korban maupun ekonomi, sumber: The Economist

Antara 1948 dan 1968, Israel sudah ada di Palestina dan cukup kuat Timur Tengah rata-rata. Terbukti pada perang tahun 1967, beberapa negara Islam seperti Mesir, Yordania, Suriah, Beirut, Arab Saudi, Irak, dan Palestina menghadapi Israel sendiri-sendiri, namun nyatanya hubungan umat Islam dengan negaranya masing-masing tidak bisa berbuat apa-apa. Pertanyaan-pertanyaan mulai bermunculan terkhusus bagi umat muslim, mengapa pendirian negara Israel ini seolah aman terproteksi tanpa adanya tindak lanjut dari hukum atas kesewenang-wenangan Israel yang sudah sangat memunculkan jutaan korban akan konflik yang tengah terjadi? Jawabannya tidak jauh dari para pemeran yang ada dibalik suara internasional. Bahkan, Persekutuan Bangsa-Bangsa pun berada "dibalik" kendali Dewan Keamanan. Relasi kuat antara para Zionis dengan world's leader merupakan sebuah alasan paling kuat yang menjadi pengukuh serta proteksi bagi Israel.

Adapun salah satu dampak daripada konflik berkepanjangan di antara kedua negara tersebut adalah dampak secara ekonomi. Masalah ekonomi tidak terbatas pada pertukaran barang dan jasa, atau transaksi ekonomi lainnya antara satu negara dengan negara lainnya. Masalah ekonomi jauh lebih rumit dari sekedar masalah perdagangan. Meningkatnya interaksi antarnegara dan antarbangsa dalam bidang ekonomi menunjukkan betapa pentingnya ekonomi dalam percaturan politik internasional. Ekonomi mempunyai sifat yang kompleks dalam pengertian bahwa ekonomi memiliki hubungan yang erat dan pengaruh yang kuat dalam bidang politik, baik yang berskala nasional, internasional maupun global.

 Konflik antara Palestina dan Israel terus meningkat. Tidak hanya secara politik, kondisi ekonomi kedua negara juga terpengaruh oleh sengketa ini, khususnya Palestina. Salah satu dampak dari perang ataupun konflik memang pasti ada dampak ekonomi, baik dari negara yang terlibat ataupun negara disekitarnya. Israel bertekad untuk melanjutkan serangannya ke Palestina sampai menghancurkan kemampuan militer Hamas. Uni Eropa mendesak gencatan senjata antara Israel dan Palestina. Dengan kata lain, kedua belah pihak berhenti menyerang satu sama lain. Ini mendapat dukungan dari 26 negara anggota Uni Eropa. Namun, Hongaria, sebuah negara di Uni Eropa, menolak seruan untuk gencatan senjata antara Israel dan Palestina. Konflik ini sangat disayangkan bagi banyak pihak. Masalahnya, selama krisis pandemi COVID-19, perselisihan antara Israel dan Hamas akan semakin menahan ekonomi kedua belah pihak. Dengan tidak adanya konflik, Israel dan Palestina harus "jatuh bangun" untuk menghidupkan kembali ekonomi dan kembali ke keadaan pra-pandemi.

Dampak ekonomi akibat konflik berkelanjutan Palestina-Israel

Kini, seiring dengan meningkatnya konflik, proses pemulihan ekonomi di Israel dan Palestina akan semakin sulit. Pada saat yang sama, menurut laporan yang berjudul "April 2021 Palestine Territory Economic Update" oleh Bank Dunia, ekonomi Palestina akan mencatat negatif 11,5% pada tahun 2020. Dibandingkan dengan Israel, ini berarti ekonomi Palestina mengalami kontraksi lebih parah selama pandemi COVID-19

Lalu bagaimana dampaknya bagi perekonomian negara disekitarnya atau yang memiliki hubungan diplomatik di antara Israel dan Palestina?. Penulis mengkhawatirkan bila konflik masih terus berlangsung berlarut-larut kemnungkinan dapat mengancam stabilitas keamanan kawasan Timur Tengah dan bisa meluas terhadap naiknya harga komoditas salah satu energi paling penting di dunia, yaitu minyak bumi dan gas. Seperti yang kita ketahui negara kawasan Timur Tengah merupakan penghasil minyak dan gas terbesar di dunia. Memang ideologi politik atau hubungan diplomatik negara-negara Timur Tengah berbeda-beda, namun ketika sudah berbicara soal kemanusiaan yang menyangkut Palestina bukan tidak mungkin sikap frontal atau tegas dari negara kawasan Timur Tengah bisa berdampak pada naiknya harga komoditas tersebut.

Selang beberapa hari pascaserangan Israel di Al-Aqsa, Rusia langsung mengutuk keras serangan tersebut dan menganggap Israel sudah melampaui batas hukum internasional. Respons yang keras dari Rusia tersebut langsung disambut oleh Presiden Turki Recep Tayyep Erdogan dengan meminta Presiden Rusia Vladimir Putin untuk memberi pelajaran kepada Israel. Melihat semakin rumitnya konflik antara Israel-Palestina di tengah konstalasi geopolitik yang memanas antara kekuatan-keuatan utama dunia membuat skenario terburuk bisa saja terjadi. Konflik dapat meluas ke beberapa wilayah di Timur Tengah seperti Suriah, Iran atau Selat Hormuz yang merupakan jalur penting dari 30% total perdagangan minyak dunia. Konflik yang sengit akan segera mendongkrak harga minyak dunia yang saat ini sedang melonjak naik. Dengan perekonomian Indonesia yang masih belum pulih dari Covid-19, kenaikan minyak dunia dapat memperburuk kondisi ekonomi Indonesia dan memperpanjang pemulihan ekonomi nasional, Nilai tukar rupiah Indonesia dapat melemah, diikuti oleh peningkatan inflasi.

Muhammad Rafli

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x