Jakarta

Miras Oplosan Campur Jengkol Tewaskan 4 Warga Cipayung

10 Januari 2018   04:15 Diperbarui: 10 Januari 2018   04:35 263 0 0

Miras atau disebut dengan minuman keras ini merupakan minuman beralkohol yang sering disalah gunakan untuk media mabuk-mabukkan. Terlebih minuman keras ini kerap dioplos dengan bahan-bahan yang berbahaya seperti autan, bensin, dan pada kali ini dicampur dengan jengkol yang terjadi di kawasan Cipayung, Jakarta Timur. Minuman keras yang dioplos ini telah menelan korban jiwa sebanyak 5 orang dan mulanya berkorban 6 orang kritis namun, 5 orang tidak dapat bertahan melewati fase kritisnya.

Bayu (43) salah satu pedagang minuman keras di salah satu pasar Cipayung, Jakarta Timur mengungkapkan bahwa minuman yang bermerek memang cukup mahal berkisaran harga 50 ribu hingga jutaan rupiah perbotolnya. Berbeda dengan minuman keras yang kerap dikenal dengan Ciu atau Arak yang murah dan dioplos agar mendapatkan kenikmatan yang tinggi jika meminumnya, namun hal ini dikerjakan secara rahasia dikarenakan jika ada petugas yang mendatangi dan sedang inspeksi maka dapat dipidanakan.

Sabtu (18/11) sekitar pukul 19.00 WIB saya bersama rekan saya hanif, fauzi. Berkeliling dan melihat beberapa toko penjual minuman keras yang berada di kawasan Cipayung, Jakarta Timur. Dalam penelusuran kami bahwa rata-rata pembeli minuman keras yaitu berkisar umur 12-21. Kami mewawancarai beberapa pembeli dan hasil jawaban terbanyak yaitu minuman oplosan atau minuman keras yang dijual di tukang jamu yaitu "mudah didapat", "harga yang murah" .

Kami pula sempat mewawancarai seorang kerabat korban yang bernama Primus, korban masih dapat bertahan setelah fase kritisnya yang bertempat tidak jauh dari TKP di Cipayung, Jakarta Timur tentang minuman keras oplosan yang ada, kami bertanya tentang bagaimana dampak setelah kejadian tersebut pada korban ? beliau menjelaskan bahwa dampak yang ditimbulkan pada korban yaitu korban sering mengeluh kan perut nya sering sakit dan terkadang sering masih muntah-muntah seperti keracunan.

Berlanjut, dengan pertanyaan apakah korban sebelumnya sering membeli minuman keras oplosan ? kerabat korban menjawab bahwa korban membeli sekitar dua sampai empat kali hingga yang keterakhir korban merasakan dampaknya minuman keras oplosan hingga korban kritis di rumah sakit. Kami bertanya kembali kepada kerabat korban tersebut kapan tepatnya korban melewati fase kritis ? beliau menjabarkan bahwa dua hari setelah korban masuk rumah sakit korban telah sadar dari masa kritisnya.

Kami masih bertanya tentang korban namun kali ini kami bertanya kepada warga sekitar yang menjadi saksi mata di TKP. Seorang lelaki yang bernama Roni (40) menjadi saksi mata ketika melihat beberapa pemuda tergeletak di pinggir jalan. Pada Roni (40) kami bertanya dimana pertama kali melihat korban tergeletak ? Roni (40) menjawab bahwa pemuda-pemuda berjumlah enam orang itu tergeletak di pinggir jalan arah pasar Cipayung, Jakarta Timur. Kami melanjutkan dengan apa saja yang pertama kali lihat bahwa korban mengalami fase kritis ? narasumber menjelaskan bahwa ketika dia melihat pemuda-pemuda itu tertidur di pinggir jalan itu terlihat plastik yang berbau alkohol menyengat dan beberapa terlihat telah muntah dan berbau jengkol.

Dampak yang ditimbulkan oleh minuman keras oplosan ini terdapat dua yaitu yang pertama jangka pendek dan jangka panjang. Jangka pendek yang terjadi yaitu muntah-muntah hingga kematian dan jangka panjang yaitu kerusakan pada lambung, ginjal dan berakhir kematian. Selain itu minuman keras oplosan dengan minuman keras yang resmi memang susah dibedakan jika dengan sekilas mata, tetapi dengan perbedaan harga akan secara jelas berbeda antara minuman keras resmi dan minuman keras oplosan.

Kemungkinan penyebab dari kematian 5 korban tersebut, adalah karena mereka menenggak minuman beralkohol itu sambil  ngemil jengkol. Pasalnya, beberapa saksi yang diperiksa menyebut selain minum miras para korban makan jengkol menurut saksi,  keterangan itu juga didapat dari pemeriksaan awal yang dilakukan petugas. Di antaranya ada bau makanan khas itu terus keluar dari mulut dan dubur korban. "Namun pemeriksaan lebih mendalam masih terus kami lakukan, untuk bukti penyelidikan," ujarnya.

Kami masih belum dapat percaya apakah dengan mengkonsumsi minuman keras dengan dibarengi memakan jengkol bisa menyebabkan kematian?, apakah ternyata bukan itu penyebab kematian korban? apakah si penjual miras tersebut yang harus bertanggung jawab atas kematian korban? kami pikir ini akan menjadi teka teki yang menarik sekali dan harus di buktikan kebenarannya. Lalu sekarang kami akan melihat berbagai macam sudut pandang efek apa saja yang bisa mengakibatkan kornban meninggal dunia. Sekarang yang pertama saya akan mencari data di internet mengenai efek pengaruh jengkol terhadap miras, akhirnya kami dapatkan data tersebut dari detikHealt.

"Dihubungi oleh detikHealth, ahli pencernaan dari RS Cipto Mangunkusumo, dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH mengomentari masalah tersebut. Pasalnya, terlalu banyak mengonsumsi jengkol memang dapat menyebabkan efek kejengkolan atau keracunan asam jengkolat.

"Saya enggak tahu kenapa oplosannya pakai jengkol. Mungkin karena dia pakai miras, kan bikin tidak sadar. Efek kejengkolan tersebut jadi tidak terasa," ujarnya, Jumat (13/10/2017)." Sebelumnya Dr Ari mengatakan, ada satu laporan kasus dari Kalimantan yang dipublikasi pada jurnal internasional melaporkan seorang laki-laki berumur 32 tahun mengalami keracunan setelah memakan 10 buah jengkol. Menurut dr Ari, orang yang sudah merasakan efek kejengkolan seperti mual, muntah, mulas, serta susah buang air kecil harus sesegera mungkin ditangani oleh dokter."Nanti dikasih obat untuk meluruhkan urine atau diuretik, tergantung kondisi pasien," imbuhnya. 

Di akhir, dr Ari pun menyarankan untuk tidak terlalu banyak mengonsumsi jengkol dan diimbangi dengan banyak minum air putih setelahnya agar terhindar dari efek kejengkolan. Menurut detikHealth belum menemukan ada pihak yang memastikan oplosan jengkol sebagai penyebab kematian para korban. Alkohol sendiri, dalam dosis besar juga bisa memicu efek letal atau mematikan tanpa perlu dioplos dengan bahan lain.Sedangkan jengkol sendiri, meski jarang dilaporkan sebagai penyebab kematian, memang memiliki efek toksik atau beracun, khususnya jika dikonsumsi berlebihan. 

Makanan ini terkenal dengan efek kejengkolan, atau keracunan asam jengkolat (jengkolic acid). Racun ini terkandung dalam biji jengkol, dan bisa mengendap sebagai kristal di ginjal maupun saluran kencing. Efeknya antara lain nyeri saat kencing. Bisa juga memicu mual muntah dan nyeri di sekitar perut."Karenanya makan jengkol jangan sampai langsung habis satu piring. Jumlahnya dikurangi dan jangan lupa minum air putih yang cukup agar kristalnya nggak gampang nyatu dan bisa dikeluarkan," kata dr Akbari Wahyudi Kusumah, SpU dalam wawancara dengan detikHealth beberapa waktu lalu. 

Walau beracun, bukan berarti jengkol tidak ada manfaatnya. Dalam takaran yang wajar, jengkol punya kandungan bermanfaat seperti sayur pada umumnya yakni serat. Seperti halnya kacang-kacangan yang lain pula, jengkol juga kaya akan protein."Selain itu juga seperti sayuran pada umumnya lah, ada vitamin juga di sana. Mineral dan segala macam," kata dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, ahli pencernaan dari RS Cipto Mangunkusumo. Dr Akbari di sela-sela live chat 'Ginjal dan Permasalahannya' di markas detikcom, Jl Warung Jati Barat Raya, Jakarta Selatan, Rabu (8/3/2017), berpesan untuk makan jengkol jangan sampai langsung habis satu piring. Jumlahnya dikurangi dan jangan lupa minum air putih yang cukup agar kristalnya nggak gampang nyatu dan bisa dikeluarkan".

Seseorang bisa dicurigai mengalami keracunan jengkol jika:

*Merasakan nyeri perut

*Mual-muntah

*Susah buang air kecil atau disebut juga 'anyang-anyangan'.

*Pada tingkatan yang lebih parah, volume air kencing yang dikeluarkan berkurang dan kadang-kadang disertai bercak darah.

Cara mengatasi kejengkolan:

Jika hanya merasakan nyeri perut, muntah dan suah buang air kecil, pengatasannya cukup dengan minum air putih sebanyak-banyaknya. Ada juga yang menyarankan gerusan arang yang ditambahkan dalam air putih, untuk diminum agar bisa menyerap racun jengkol yang masih berada di saluran pencernaan. Namun jika sudah disertai kencing darah dan tidak doyan minum, maka sebaiknya dibawa ke dokter atau rumah sakit terdekat. Biasanya dokter akan memberi infus natrium bikarbonat untuk menyeimbangkan komposisi kimia dalam tubuh usai keracunan asam jengkolan.

Lalu apakah benar jika kejengkolan menjadi penyebab utama kematian 4 korban tersebut, atau oplosan miras yang menjadi penyebabnya?. Oplosan miras menjadi idaman para penikmat miras yang mencari harga murah, alasannya? Ya karena banyak minuman yang berlebel itu memiliki harga yang cukup mahal, karena rata" impor dari luar negri dan pajak yang saat ini sangat tinggi, membuat para peminum miras mencari solusi yaitu dengan membeli produk lokal. 

Miras lokal terkenal dengan harganya yang sangat murah meriah, Karena membludaknya permintaan para penjual makin terdorong untuk mencari inovasi baru, yaitu mencari bahan yang murah dan bisa memabokan, lalu di jual dengan harga murah. \Para peracik tidak peduli dengan bahan apa saja yang mereka gunakan, dari spirtus, autan dan masih banyak asalkan itu menjadi minuman yang memabokan. 

Para penjual tidak peduli dengan takaran berapa persen alcohol yang mereka buat, yang penting intinya memabukan. Pada takaran alkohol diatas 50% itu sebenernya sudah sangat membahayakan bagi para pengkonsumsi, tetapi para penjual masih banyak yang membuat miras oplosan dengan kadar alkohol 70% ke atas seperti minuman ciu dan itu sangat membahayakan bila dikonsumsi.

Ke esokan harinya kami pun mencoba mencari sudut pandang lain dengan cara bertanya ke salah satu nasumber bernama Ade Angkasa yang akan menjelaskan pengalamannya saat meminum miras oplosan, bagaimana cerita ia saat mengkonsumsi miras oplosan? Dan ini pernyataan dia saat di tanya dirumahnya.

Beberapa tahun lalu waktu tinggal di kota Yogyakarta saya tinggal di kampung Gedong Kuning. suatu malam saya diajak tema-teman untuk "Tenggo" (itu istilah mereka untuk teler gan) terus saya ngikut aja. waktu itu kami ada 12 orang, sambil ngobrol, main video game sambil kami minum wedang oplosan. rasanya sih enak gan, kagak ada pahit-pahitnya. habis neguk gelas pertama rasanya badan jadi enak,..beberapa menit kemudian lanjut gelas kedua, eehh kepala mulai puyeng dan pandangan serasa kabur gak jelas.... terus lanjut gelas ketiga , tiba-tiba kepala terasa berputar, perut mual dan pandangan gelap.... dan saya gak inget lagi nif.

gak tahu dah berapa lama saya gak sadar alias pingsan...tapi yang saya ingat waktu saya sadar, ternyata ada di ruang ICU rumah sakit DR. Sarjito Jogja. setelah beberapa lama sadar dan mulai bisa ngomong saya tanya sama suster kenapa saya di rawat di ICU rumah sakit, susternya bilang katanya saya sudah 2 hari gak sadar alias pingsan

2 hari setelah sadar dari pingsansaya baru dikasih tahu bahwa dari kelompok kmi yang malam itu minum-minum oplosan ternyata 9 orang pingsan, ada yang koma sampai 4 hari, ada yang 3 hari dan sayang sekali...Inalilahi wa Inalillahi rojiun 2 teman kami meninggal dunia.

Itu saja sih nif pengalaman saya minum oplosan terakhir kalinya... oh iya sebagai tambahan bahwa 1 teman kami menjadi lumpuh dan 2 orang menjadi buta/rabun parah. Beruntung sekali saya bisa pulih lagi tanpa kekurangan apa-apa, hanya kadang-kadang saya merasa jadi Oon.  

Lalu selanjutnya jika kami melihat dari segi pembunuhan berenca sepertinya tidak ada. Karena dari berbagai macam narasumber yang kami dapat seperti polisi,saksi mata kerabat korban, dan beberapa orang, mereka tidak menyebutkan bahwa ada indikasi pembunuhan berenca yang membuat korban hingga meninggal, itu semua murni penyebabnya adalah karena mengkonsumsi. Tapi permasalahnnya ialah bagaimana kita tau penyebab sebenarnya adalah karena od miras oplosan atau karena kejengkolan.

Kami coba mencari informasi kronologi korban saat itu,istri korban bernama Nuri menjelaskan kronologi setelah korban menenggak miras oplosan dicampur jengkol tersebut di warung milik Namun, Jalan Raya Setu RT. 02 RW 03 Kelurahan Setu Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, Selasa malam, 10 Oktober 2017 sekitar pukul 20.00 WIB. "Pas pulang dia tidur dari pagi ampe sore, nah malemnya dia muntah-muntah, sempet bilang keracunan apa gimna nih. Kemudia tidur lagi jam 5 subuh, dia bilang ga kuat, minta dibawa kerumah orangtunya untuk berobat, sampai ke sana dibawa ke Puskesmas, kemudian di rujuk ke rumah sakit" ujarnya.

Polisi saat ini menetapkan nama inisial OM menjadi tersangka kematian 5 korban tersebut, karena melanggar UU Pangan, Kapolres Metro Jakarta Timur Kombes Pol Andry Wibowo mengatakan, pemilik toko minuman keras oplosan berinisial OM melarikan diri. Saat ini polisi masih menunggu hasil uji laboratorium untuk membuktikan penyebab kematian korban. "Kalau miras saja, ini persoalan paling tidak kena pasal pembunuhan, kalau miras dicampur jengkol, ini jadi urusan berbeda lagi, ini inisiatif dari yang minum, tapi akibatnya fatal," ujar Andry.

Andri mengungkapkan analisa penyidik untuk menemukan penyebab kematian korban mengarah pada perbuatan pelaku yang mencampur miras dengan jengkol."Kalau miras dicampur jengkol, nah variabel jengkolnya mempengaruhi, ini jadi urusan berbeda lagi," ujarnya.Langkah polisi kini masih mencari keberadaan pelaku yang berhasil kabur. "Dia tidak menggunakan handphone, tidak terdeteksi di mana. Istrinya nggak tahu juga," kata Andri. 

Sebelum kejadian pelaku berinisial OM yang menjual miras sudah mendapat peringatan dari istrinya agar tidak nekat mengoplos yang bisa berakibat fatal."Pelaku sudah diomelin jangan buat miras begitu, masih aja. Sama seperti makan duren sama soda, kalau makan duren sendiri nggak akan meninggal, kalau sama soda jadi meninggal, ini variabelnya," katanya. Kejadian bermula saat pelaku mencampur miras dengan jengkol dan minuman itu dikonsumsi enam orang.

Dari bebearapa informasi data yang kami telusuri dan kami dapatkan, kami menduga bahwa kematian korban tersebut ialah karena keracunan miras oplosan yang sudah dicampurkan jengkol oleh pelaku, pelaku mencampurkan jengkol tersebut ke dalam miras, yang akan menjadi sangat berbahaya bila dikonsumsi. Karena saat korban memakan jengkol dengan jumlah yang tidak banyak, korban tidak akan mengalami seperti ini. Kandungan-kandungan yang terdapat dalam jengkol mungkin akan membahayakan jika dicampur miras, dan akan menyebabkan tumbuh sel racun dalam minuman tersebut. 

Kemungkinan korban juga tidak akan minum miras sama makan jengkol, pasti disitu ada unsur kesengajaan yang dilakukan penjual dengan tujuan mendapatkan banyak keuntungan dari harga bahan yang murah meriah,sebelumnya pelaku juga sudah dilarang oleh sang itri atas tindakannya tersebut, tapi karena ngelyel dengan sang istri sekarang OM melarikan diri karena ketakutan apa yang terjadi pada dirinya. OM melarikan diri karena tahu pasti ia akan menjadi tersangka dan masuk penjara. 

Bila OM tidak melakukan pencampuran jengkol ke miras, kasusnya tidak ada sama seperti ini. Dugaannya bukan jengkol saja minuman yang ia racik tetapi tidak ada takaran yang sesuai dan melebihi dosis yang aman. Jadi bukan karena korban mengemil jengkol tetapi karena ada unsure kesengajaan penjual untuk mencampur jengkol ke miras yang ia jual.Dari data informasi barang apa saja yang disita, ada alkohol, cocala dan jengkol di tempatnya om. Sekarang semakin membuat dugaan kami yakin bahwa inisial OM adalah tersangka yang tepat dalam kejadiaan ini. Ada cukup banyak bukti yang kuat dari barang bukti hingga pernyataan dari istri tersangka.