Mohon tunggu...
Katherine Kat
Katherine Kat Mohon Tunggu... Wife, Mom & Self-employed

Tinggal di Toorak, VIC dan Jawa Tengah, Indonesia

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Penganiayaan Anak SD: Satu Lagi Indikasi Masyarakat Primitif

7 Mei 2014   02:36 Diperbarui: 23 Juni 2015   22:47 0 1 2 Mohon Tunggu...
Penganiayaan Anak SD: Satu Lagi Indikasi Masyarakat Primitif
1399379618116633287

Siapa yang tak terkejut ketika beberapa hari lalu mendengar seorang siswa SD tewas karena dianaya oleh kakak angkatannya? Beberapa orang melihat kejadian tersebut akibat dari tayangan film sarat kekerasan, sementara beberapa lainnya berpendapat bahwa budaya senioritas yang sesat adalah biang keladinya. Namun untuk saya secara pribadi kejadian tersebut adalah salah satu indikasi yang memperkuat keprihatinan yang pernah saya utarakan dalam sebuah tulisan beberapa waktu lalu.

[caption id="attachment_335012" align="aligncenter" width="337" caption="Ilustrasi: Getty Images"][/caption]

Penganiayaan seorang siswa SD oleh siswa SD lainnya baik pada kejadian kali ini maupun kejadian-kejadian sebelumnya adalah cermin perilaku sekaligus hasil pendidikan di Indonesia. Ketika saya bicara soal pendidikan yang saya maksud bukan semata pendidikan formal namun juga pendidikan oleh orang tua dan lingkungan.

Tayangan kekerasan memang layak dikutuk, demikian pula paradigma senioritas sesat yang turun temurun diwariskan oleh bangsa ini dari generasi ke generasi. Namun hal lain yang tak bisa begitu saja dikesampingkan adalah budaya kekerasan yang acapkali mula-mula justru diperkenalkan oleh orang tua kepada anaknya.

Berapa banyak orang tua melakukan kekerasan fisik maupun non fisik kepada anak ketika mereka dianggap tidak menurut? Mulai dari kalimat-kalimat seperti “Saya hajar kamu” “Tak ajar sisan” Dan sebagainya hingga sampai tindakan fisik.

Akui saja bahwa perilaku demikian sudah mendarah daging dan turun temurun hingga dianggap wajar dalam kehidupan kita. Bahkan para guru yang notabene adalah kelompok berpendidikan dan diasumsikan mengerti perilaku dan perkembangan emosi anak pun seringkali juga bersikap demikian.

Orang dewasa dengan bangga menceritakan kepada anak, cucu atau keponakannya mengenai kenakalan yang mereka lakukan ketika remaja atau muda. Aneh bukan? Bagaimana bisa seseorang membanggakan kenakalannya di masa lalu? Lebih aneh lagi ketika cerita tersebut disampaikan kepada anak yang belum mampu memilih dan memilah mana yang pantas diteladani dan mana yang tidak.

Tayangan kekerasan seringkali merupakan produksi bangsa barat, namun faktanya dalam kehidupan sehari-hari mereka justru berkali-kali lipat lebih beradab ketimbang kita. Lantas kita ini mau saja dibodohi dengan tayangan-tayangan tersebut yang ditelan mentah-mentah dan menggerogoti moral anak bangsa.

Berkali-kali saya singgung bahwa kata-kata kasar dan umpatan yang kita tonton di film-film barat itu nyaris tak pernah terdengar dalam keseharian masyarakat barat. Justru sebaliknya bangsa timur (bukan hanya orang Indonesia) begitu menjiwai hingga umpatan dan kata-kata kasar itu menjadi makanan sehari-hari. Kalau baru pada tahap kata-kata saja sudah begitu, bagaimana dengan tindakan kekerasan?

Soal senioritas pun demikian. Di Indonesia para senior dalam bidang apapun, baik di sekolah, di lingkungan bermasyarakat dan di kantor selalu menempatkan diri pada posisi yang mesti dihargai oleh yunior dan tak jarang berlagak susah didekati. Padahal di Australia pengalaman saya justru sebaliknya. Mereka yang senior biasanya justru membuka diri kepada yunior untuk membimbing, penghuni perumahan yang sudah lama tinggal dengan senang hati mendatangi penghuni baru untuk berkenalan dan membantu proses adaptasi, demikian pula halnya di lingkungan kerja. Apa gunanya menjadi orang yna g lebih senior, lebih berpengalaman atau lebih dewasa jika tak mampu memberikan bimbingan kepada yang membutuhkan? Apa kebanggaannya?

Lebih penting lagi: mau dibawa kemana bangsa kita jika sikap dan perilaku primitif terus dipiara dan diwariskan dari generasi ke generasi?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2