Katedrarajawen
Katedrarajawen karyawan swasta

"Merindukan Pencerahan Hidup Melalui Dalam Keheningan Menulis"____________________________ Saat berkarya, kau adalah seruling yang melalui hatinya bisikan waktu terjelma menjadi musik...dan berkarya dengan cinta kasih: apakah itu? Itu adalah menemun kain dengan benang yang berasal dari hatimu, bahkan seperti buah hatimu yang akan memakai kain itu...[Kahlil Gibran, Sang Nabi]

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Iksal

14 Juni 2018   11:43 Diperbarui: 14 Juni 2018   11:44 298 7 4

Apes nian. Baru habis servis motor dan ganti oli, motor malah mendadak mogok. Distarter dengan cara elektrik ada suara tapi mesin tidak mau menyala. Saya bantu dengan diengkol atau di kick starter. Tetap tidak ada tanda-tanda bisa menyala mesinnya.

Ada pengendara Gojek yang berbaik hati berhenti dan hendak membantu. Dengan triknya, namun tetap nihil hasilnya. Saya minta tolong untuk mendorong seperti yang pernah saya alami yang bisa membuat motor mesinnya hidup kembali. Ternyata tetap tidak berhasil.

Akhirnya dibantu mendorong ke bengkel terdekat. Sungguh terima kasih kepada Abang Gojek ini dan bersyukur motor bisa sampai ke bengkel. Harapan terbuka.

Namun apa daya, orang bengkel pun tak mampu menangani dan motor tetap membandel untuk bisa menyala. Alasannya mesin pompa bahan bakar mati dan disarankan ke bengkel resmi saja.

Bagaimana pula ini? Jauh kali!

Saya kuatkan hati untuk mendorong sejauh yang saya bisa. Beruntunglah, tak jauh mendorong kembali menemukan sebuah bengkel, harapan terbuka. Begitu saya kemukakan masalahnya, orang bengkel tidak bereaksi dan sibuk mengerjakan hal lain, yang sebenarnya bisa ditinggal.

Saya  bersabar dan berusaha mencoba engkol dan starter, siapa tahu ada keajaiban. Ternyata memang terjadi. Bukan mesin motornya yang hidup, tetapi ada "dewa penolong" yang tiba-tiba muncul. Yakni seorang pengendara ojek online, kali ini dari Grab.

Setelah tahu masalahnya, ia langsung menawarkan untuk "stut" motor saya. Maksud mendorong motor dengan bantuan kaki sambil mengendarai motornya.

Walaupun sudah dicoba pertama kali dan saya merasa kehilangan harapan, saya pikir tak ada salahnya dicoba lagi. Setelah mendorong cukup jauh, tetap tidak ada hasilnya.Sayabsudahbtinggal setengah hati, justru pengendara Grab ini yang terus berusaha.

Kami berhenti dan ia yang membantu mengengkol. Beberapa kali mencoba engkol, seketika saya dengar ada perubahan suara mesin. Langsung saya antusias karena sudah ada tanda-tanda mesin motor akan menyala.

Eng ing eng, ternyata benar sekali. Mesin motor saya bisa menyala kembali. Langsung saya salami dan mengucapkan banyak terima kasih kepada pengendara ojek online Grab yang telah membantu. Sebaliknya ia pun tidak lupa berpesan, agar saya hati-hati menempuh perjalanan pulang.

Saya tanyakan namanya dan pulang ke mana. Ya, Iksal, ia menyebutkan namanya, seperti judul tulisan ini, yang memang saya spesial untuk menuliskan.

Dalam perjalanan pulang, mengenang kebaikannya, hati saya sungguh terharu dan tak mampu membendung tetes-tetes air mata untuk mengalir melihat cerahnya dunia sore itu.

Di semaraknya kehidupan yang penuh dengan keegoisan dan rasa curiga yang berlebihan, dunia tetap menyisakan orang-orang yang masih berhati baik untuk menolong orang yang membutuhkan. Harapan saya yang terbesar adalah energi kebaikan yang ada pun merasuk ke dalam diri ini untuk melakukan hal yang sama di lain kesempatan.

Walaupun sebelumnya saya sempat menghibur atau berbangga diri dengan berbisik, beginilah nasib orang baik, selalu akan ada yang datang menolong bila dalam kesusahan. Yang sesungguhnya justru menunjukkan ketidaktahuan dan ketidakbaikan diri.

||Pembelajarandarisebuahperistiwa