Mohon tunggu...
Katedrarajawen
Katedrarajawen Mohon Tunggu... Anak Kehidupan

Merindukan Pencerahan Hidup Melalui Dalam Keheningan Menulis. ________________________ Saat berkarya, kau adalah seruling yang melalui hatinya bisikan waktu terjelma menjadi musik...dan berkarya dengan cinta kasih: apakah itu? Itu adalah menenun kain dengan benang yang berasal dari hatimu, bahkan seperti buah hatimu yang akan memakai kain itu [Kahlil Gibran, Sang Nabi]

Selanjutnya

Tutup

Hiburan

Semenit Sejuta Klik

24 Desember 2017   08:33 Diperbarui: 24 Desember 2017   18:55 421 9 7 Mohon Tunggu...

Tenang, saudara, ini cuma judulnya yang heboh. Kalau sampai ada kejadian tulisan di Kompasiana semenit mencapai sejuta klik pasti sudah heboh seantero jagat. Kemungkinan yang menaikan  klik tulisan tersebut jari-jarinya benjol segede bakpao.

Dahulu kala pernah ikut bantu jadi Admin Fanpage di Facebook kalau posting tulisan dalam beberapa menit paling banter sepuluh ribuan klik. Itu juga sudah berbunga-bunga. Kalau semenit bisa sejuta klik, saking senangnya semua kompasianer bakal saya ajak makan. Di rumah masing-masing pastinya.

Urusan jumlah pembaca atau jumlah klik sebuah  tulisan belakangan ini di Kompasiana memang sedang heboh. Disinyalir, atau pastinya _sesuai dengan laporan dari intelejen Kompasiana_ jumlah klik sebuah tulisan bisa terus bertambah dengan menekan tombol F5 atau bolak-balik klik tulisan. Kasihan saya yang hanya bermodalkan  menulis dan membaca dari  HP. Soalnya tidak ada tombol F5-nya.

Soal kehebohan, Kompasiana memang tidak pernah sepi dari kehebohan. Kalau tidak heboh tidak ramai. Ada heboh pasti ada beragam tanggapan yang heboh. Jadi makin tambah heboh. Asyik, kan?

Beginilah dunia, Kompasiana juga bagian dari dunia. Eh, ada yang menyeletuk. Bukan!

Siapa itu? Lah,  memang dunia, kan? Dunia maya!

Ada yang jujur, ada yang suka curang, atau pagi jujur siang curang. Ada yang diam ada yang suka usil. Ada yang tak peduli ada yang selalu mau tahu. Ada juga yang bingung-bingung. Ada yang mau mencari ketenaran ada yang kurang percaya diri.

Ada yang mau tenar tapi malu-malu. Ada yang bijak, sok bijak atau yang muak. Ada yang alim ada, sok alim atau bergaya preman. Ada yang rajin menulis senang memuji, ada yang malah iri. Selanjutnya tolong ditambahkan masing-masing.

Ada yang suka damai tentram, ada yang maunya gontok-gontokan. Cukup, ini tambahan dari saya.

Kalau menemui kenyataan ini dengan menggunakan perasaan pasti akan terombang-ambing panas dingin. Memengaruhi suasana hati. Pagi senang, siang bete, malam uring-uringan. Timbul penilaian macam-macam. Penuh pertanyaan. Mengapa begini? Mengapa begitu?

Namun bila mau sedikit memahami kebenaran bahwa dunia memang begini adanya. Semua akan diterima apa adanya. Karena semua adalah bagian dari kehidupan dan akan berlalu pada waktunya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x