Kartika Kariono
Kartika Kariono Advokat

Mengalir mengikuti kata hati dan buah pikiran

Selanjutnya

Tutup

Ceritaramlan

Insting Pemburu saat Belanja Lebaran

9 Juni 2018   17:47 Diperbarui: 9 Juni 2018   18:41 666 3 2
Insting Pemburu saat Belanja Lebaran
Sumber :Foursquare.com

"Berapa Dek harga daging ikan gabus?"tanya salah satu Ayuk (penyebutan kakak perempuan di Palembang).
"Kata temanku harga ikan gabus sekitar 80 ribu, jadi kalo daging gilingnya bisa 100 ribuan"jawabku lagi.
"Harga dimana tuh?"tanyanya.
"Pasar Kuto"sahutku lagi.
"Kamu belanja di Kuto?"tanyanya.
"Nggak Yuk, di Pasar Satelit Perumnas, aku juga gak beli banyak tahun ini. Aku gak kirim kemana-mana"sahutku lagi.
"Itu harga hari ini?"tanyanya lagi.
"Nggak Yuk, kemarin. Entah kalo di Pasar 26 Ilir, kalo 7 Ulu sudah 80 ribuan, pasar perumnas 60 ribu per kilo yang hidup ukuran setengah kilo per ekor, jadi kalo ikan giling sekitar 75-85 ribu, eh di Jakabaring aja ukuran 1 kg/ekor sudah 100 ribu, Yuk"sahutku lagi.
"Ok, tapi stok gimana ya?"tanyanya.
Mau ketawa, lah aku kan bukan distibutor ikan gabus di kota Palembang.
"Kalo aku aman Yuk, tinggal ambil. Ha ha udah WA langganan" sahutku.
Demikianlah pembicaraan emak-emak Palembang. Pempek itu juga seolah sajian wajib di hari raya. Salah satu bahan pokoknya adalah ikan gabus. Beberapa emak-emak memilih ikan gabus karena pilihan kesehatan, karena ikan laut seringkali menyebabkan alergi bagi orang-orang tertentu, sedangkan makanan ini akan dihidangkan kepada siapa saja, jadi memilih bahan baku utama yang relatif aman menjadi pertimbangan. Selain itu?, pempek berbahan ikan gabus lebih lembut dan baunya tidak terlalu kuat. Sehingga yang tidak terlalu suka ikan akan tetap suka.
Persoalannya, kadang stok ikan gabus pun dapat hilang menjelang hari raya.
Selain ikan gabus, telur itik juga menjadi buruan emak-emak di Palembang yang hendak membuat aneka lapis khas Palembang.
Saya sendiri  bukan fanatik membuat kue khas Palembang itu dengan telur itik. Jika tidak ada stok, saya tidak akan sibuk berburu telur itik.  Saya ganti resep dengan telur ayam. Cerita lebih lengkap soal persiapan hidangan apa di hari raya akan saya ceritakan nanti.
Bukankah banyak penjual makanan di Palembang, mengapa harus buat.
Pertama, ada rasa bangga jika membuat dan saya yang tomboy membuktikan soal kue Palembang itu gampang, kebanggaan gak penting ya?, tapi ini trik paling jitu buat cari perhatian ibu mertua.

Kedua, saya bukan berasal dari golongan old money, jadi mau beli istighfar berkali-kali lihat pricelist  hidangan lebaran itu, sedangkan kami keluarga besar artinya perlu banyak. Jadi, memasak sendiri adalah sebuah keterpaksaan juga dilihat dari sisi budget rumah tangga.

Tantangan memasak makanan sendiri  dimulai dari proses purchasingnya. Harus jago mulai dari memilih kualitas dan harga. Memang tidak dapat dipungkiri, ada harga ada kualitas. Tetapi untuk emak yang budgetnya perlu kecerdasan khusus  dalam pengelolaannya (mau tulis "terbatas" berat banget ya?, abaikan ketidak efektifan kalimatnya).

Harga daging ikan gabus giling saja dapat berbeda-beda jauh. Jangankan berbeda pasar. Berbeda penjual dalam satu lokasi pasar saja selisih harga bisa jauh sekali. Terkadang pedagang tertentu pun memberi selisih harga untuk langganan dengan bukan langganan.

Jadi pilihan untuk belanja pada langganan dan pergi ke pasar saat masih sangat pagi adalah salah satu strategi untuk mendapatkan barang kualitas baik dengan harga bersahabat.

Saling bertanya dengan teman seperjuangan pun menjadi tips baik, termasuk pilihan rekomendasi penjual. Apalagi daging ikan giling yang tingkat kesegaran mempengaruhi kualitas makanan yang akan dihasilkan.

Untuk ikan gabus, bisa dipastikan harus membeli di pasar tradisional. Karena saya belum pernah melihat mall di Palembang menjual ikan gabus hidup. Jika pun ada yang menjual, tersedia daging ikan gabus giling, yang tentu sudah di freezer.

Jadi, untuk menjamin kualitas rasa pempek yang enak itu, bahan bakunya adalah ikan gabus yang  hidup, yang langsung disiangi, dikuliti, difillet dan digiling di pasar.
Emak-emak menggunakan tunjuk saktinya untuk memerintahkan eksekusi kematian puluhan makhluk tak berdosa itu demi sepiring pempek plus senyuman lebar penikmatnya.

Bukankah perlu insting hunter yang kuat bukan untuk sanggup melihat pembantaian sedemikian sadisnya oleh sang algojo (penjual ikan).
Alasan budget juga membuat saya bukan pelanggan pasar tradisional garis kelas.

Seperti daging sapi, saya lebih memilih di mall. Karena harganya lebih bersahabat buat kami. Jika di pasar tradisional harga daging sapi dapat mencapai 135 ribu hingga 160 ribu per kilogram. Di supermarket, harganya 80 ribu-100 ribu per kg. Cukup lumayan selisihnya buat kami. Meski kami membelinya tidak sampai berkilo-kilo, secukupnya saja.

Memang jika hendak dimasak rendang perlu perlakuan khusus agar bumbu meresap dan olahannya tidak hancur.
Bagaimana dengan baju lebaran?. Lebaran indentik dengan baju baru. Saya dan suami entah sudah tahun ke berapa sengaja tidak membeli baju baru di hari lebaran.

Tetapi untuk putra kami tentu baju baru menjadi prioritas meski kami membelinya tidak menjelang hari raya.
Saya paling tidak sanggup melihat tempat yang begitu penuh sesak. Apalagi untuk memilih baju anak itu butuh perhatian khusus, baik model dan bahan harus nyaman buatnya yang memang sangat aktif.

Terkadang suami memilihkan berdasarkan merk baju anak tertentu. Bukan karena merknya tapi memang bahan dan modelnya paling sesuai untuk anak.
Belinya di Matahari, di pusat perbelanjaan yang cukup tua di Palembang, International Plaza.

Di tahun akhir 90-an, ini lokasi favorit anak muda loh. Meski antusias anak muda makin bergeser ke mall-mall baru di Palembang.
Belanja sebelum lebaran itu butuh stamina dan insting khusus, jika tanpa strategi tentu dapat membuat anggaran kebobolan.

Makanya saya lebih memilih mundur di ajang perburuan belanja ramadan meski tawaran midnight sale begitu menggiurkan. Kuatir kehabisan amunisi. He he