Imam Maliki
Imam Maliki Entrepreneur

Entrepreneur

Selanjutnya

Tutup

Analisis

Prabowo Tidak Akan Mampu Merebut Hati Warga NU, Karena Sebab Ini

13 September 2018   11:31 Diperbarui: 13 September 2018   11:55 699 0 0

Pilpres 2019 berbeda di banyak hal dibanding 2014. Pada waktu 2014 menjadi pendukung Prabowo atau Jokowi saat ini berkebalikan sebagai lawan. Mahfud MD dan Partai Golkar yang pilpres sebelumnya sebagai motor Prabowo saat ini berada di pihak Jokowi. Anis Baswedan, Sudirman Said dan lainnya pada pilpres sebelumnya mendukung Jokowi sekarang menjadi motor Prabowo.

Dalam politik berpindah arah dukungan menjadi hal yang lumrah. Politik cenderung cair. Maka tidak heran lobi-lobi dan silaturahim politik sampai saat ini masih gencar di lakukan.

Nahdlatul Ulama (NU) yang mempunyai massa terbesar di Indonesia menjadi salah satu organisasi yang jadi incaran para kandidat untuk mendulang suara. Maka bagi kubu Prabowo meskipun pada pilpres kali ini telah kehilangan 'orang dalam' di organisasi ini, dia tetap melakukan kunjungan. Pada pilpres 2014 ketua PBNU KH. Said Aqil Sirodj terang-terangan mendukung pasangan Prabowo Hatta Rajasa kali ini dengan terang-terangan mundukung Jokowi, bahkan ketua PBNU itu berhasil menskenariokan Rois Amm PBNU KH. Ma'ruf Amin sebagai Cawapres.

Safari politik menyasar kantong-kantong NU akan terus berlanjut sampai pencoblosan nanti. Untuk saat ini Jokowi masih unggul dalam mengambil hati warga nahdliyin. Tidak hanya factor KH. Ma'ruf Amin yang di gandeng sebagai cawapres, tapi Jokowi selama hampir 5 tahun kepemimpinannya memposisikan sebagai pengayom organisasi ini. 

Kegiatan-kegiatan kongres Badan Otonom di NU, Jokowi seringkali hadir membuka acara. Tidak hanya itu, Kongres Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) yang mengundang perwakilan sarjana NU di seluruh Indonesia pada 24-25 Agustus 2018, dilaksanakan di istana Negara. Secara langsung ketua umum ISNU menyatakan 2019 ISNU mendukung Jokowi untuk 2 periode.

Selain kedekatan Jokowi terhadap massa NU. Elit yang mendukung Prabowo kurang bersimpati dengan NU.  Dalam jajaran partai pendukung, PKS salah satunya. Menjadi rahasia umum di balik pembubaran HTI adalah karena campur tangan dari NU. HTI mempunyai afiliasi politik ke PKS. Maka tidak aneh, jika di kalangan nahdliyin muncul jargon "NU boleh berkoalisi dengan partai apapun, asal bukan PKS".

Konflik ini sebenarnya muncul sejak lama, di internal kampus (akademik) ketika SBY berkuasa, PKS yang di wakili organisasi ekstra kampus KAMMI begitu dominan di kampus-kampus negeri. Ketika itu yang menjadi lawan politiknya adalah PMII yang notabene dari NU. PMII mengalami kemunduran kader di semua kampus. Kepemimpinan nasional berganti Jokowi, PMII mulai mendapat ruang, KAMMI yang terdesak mundur. Maka tak aneh, hasil survey LSI menempatkan masyarakat terdidik (sarjana) lebih condong memilih Prabowo daripada Jokowi.

Silaturahim ke beberapa simpul massa NU, di pandang penulis kurang efektif, karena Prabowo masih menyimpan duri dalam daging. Ketika menjelang penentuan cawapres Prabowo pada bulan Juli Prabowo menjalin komunikasi dengan PBNU. Letjen (purn) Suryo Prabowo yang merupakan simpatisan Prabowo Subianto membuat twit yang mengatakan Hati-hati Prabowo masuk Jebakan Batman.

Beberapa hari lalu Fadli Zon membuat twit yang berisi foto dengan Sugi Nur (Gus Nur), isi twit_nya mengatakan salut dengan keberanian ulama korban persekusi Gus Nur. Padahal Gus Nur merupakan salah satu "musuh nomer satu" dari Banser NU. Gus Nur dalam ceramahnya memang seringkali menghina Banser, bahkan menantang.

Maka ketika Sandiaga Uno yang merupakan Cawapres Prabowo bersilaturahim dengan salah satu ikon NU yaitu istri Gus Dur (Shinta Nuriyah) dan di beri buah tangan tempe mendoan. Netizen menganggap buah tangan itu bermakna sanggahan istri Gus Dur terhadap Sandiaga Uno yang mengatakan tempe setipis ATM , karena kedelai mahal akibat krisis ekonomi.

Pilpres masih 10 bulan lagi, banyak kemungkinan yang akan terjadi. Prabowo harus menata tim pendukungnya untuk bersimpati dengan NU. Janji untuk menertibkan Fadli Zon yang sering membuat komentar miring terhadap NU harus di buktikan.  Jika timnya masih suka bersuara sumbang terhadap NU, silaturahim seribu kali pun akan sia-sia.