Agus Supriyatna
Agus Supriyatna karyawan swasta

Hanya orang sangat biasa saja. Tukang ngopi.

Selanjutnya

Tutup

Kandidat Artikel Utama

"Adios Jokowi", Begitu Kata Kubu Prabowo, Bisakah?

9 Januari 2019   20:57 Diperbarui: 10 Januari 2019   13:35 1330 3 0
"Adios Jokowi", Begitu Kata Kubu Prabowo, Bisakah?
Suasana diskusi di halaman kantor Seknas Prabowo-Sandiaga di Jakarta|Dokumentasi pribadi

Ada pemandangan dan suasana lain dari sesi diskusi rutin bertajuk, "Topic of The Week" yang digelar Seknas Prabowo-Sandi. Diskusi Topic of The Week kali ini tak lagi digelar di dalam ruangan kantor Seknas Prabowo-Sandi. Tapi dihelat di luar ruangan kantor Seknas. Tema yang diangkat pun cukup bikin heboh yakni, " 2019, Adios Jokowi?"

Para pembicaranya pun tak kalah heboh. Para pembicara yang dihadirkan dalam diskusi adalah Fahri Hamzah, Wakil Ketua DPR, Rocky Gerung, pengamat politik yang tengah naik daun dan Chusnul Mariyah, eks anggota KPU yang juga pengamat politik dari Universitas Indonesia. Siapa pun tahu, Fahri Hamzah adalah politikus yang kerap bikin panas telinga. Pun Rocky Gerung.

Diskusi sendiri dimulai dengan diawali sambutan dari Ketua Seknas Prabowo-Sandi, Muhammad Taufik yang juga Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta. Dalam sambutannya Taufik mengatakan, diskusi mingguan yang digelar Seknas Prabowo-Sandi adalah ajang untuk menyerap masukan. Terutama bagi pihak Prabowo dan Sandiaga menyerap segala aspirasi, sehingga bisa dijadikan bahan untuk memenangkan pertandingan politik dalam pemilihan presiden.

"Ini untuk memberikan masukan pada pasangan calon bagaimana caranya mengungguli pasangan calon nomor 01, sekaligus memberi semangat kepada para relawan bagaimana meng-adioskan Pak Jokowi," katanya.

Tema Adios Jokowi, kata Taufik, bukan bentuk provokasi. Bukan pula bentuk euforia. Tapi semacam untuk membangun optimisme. Karena Taufik melihat ada semacam gairah untuk melakukan perubahan kepemimpinan nasional di pemilihan presiden 2019.

"Ini respons publik atas perubahan yang terasa betul," katanya.

Pihaknya sendiri sebagai penantang petahana lanjut Taufik sudah sangat siap memenangkan Prabowo dan Sandiaga. Jaringan Seknas Prabowo-Sandiaga misalnya sudah tersebar di Jawa, ada di 15 kabupaten dan kota. Dan yang bikin ia makin optimistis adalah banyak muncul permohonan dari masyarakat yang ingin rumahnya dijadikan tempat Seknas untuk memenangkan Prabowo dan Sandi.

"Minggu depan kami akan resmikan di daerah Jatim. Seknas ini memang kami ciptakan seperti ini. Aturannya bebas. Orang 24 jam boleh sampaikan di sini," katanya.

Diskusi pun dimulai. Narasumber pertama yang angkat suara adalah Rocky Gerung, pengamat politik yang tengah naik daun dan langganan tampil di acara ILC di TV One, salah satu stasiun televisi swasta milik Bakrie Group. 

Rocky seperti biasa langsung menggeber paparannya yang bikin panas telinga. Ia menyentil tema diskusi. Katanya, kenapa Adios Jokowi harus diakhiri dengan tanda tanya. Kenapa tidak tanda seru. Kalau tanda tanya itu, seakan masih ragu, bahwa 2019 adalah era berakhirnya Jokowi. Tapi kalau tanda seru mengisyaratkan keyakinan.

"Adios Jokowi pakai tanda tanya kenapa bukan tanda seru? Apa masih ragu? Adios amigos lagu perpisahan sepasang kawan," kata Rocky.

Rocky sendiri melihat, ada tren dari keinginan besar publik untuk mempunyai neo amigos, karena yang adios mengkhianati. Jadi ada semacam gairah untuk melihat pemimpin yang baru. Bukan yang lama. Dan, itu segaris lurus dengan makin menurutnya elektabilitas Jokowi. Kata Rocky, Jokowi menurun karena timnya sendiri. Dalam kata lain, Jokowi dikeroposi timnya sndiri.

"Sebab tiap kali para buzzer menyerang saya elektabilitas Pak Jokowi turun 0 koma sekian persen per detik, karena menyerang personal, di serang, disebut pembully, pemfitnah. Karena dari dalam sendiri yang melakukan itu, bukan saya yang membuat elektabilitas Pak Jokowi turun," kata Rocky.

Saat ini, kata Rocky, petahana dalam posisi menyerang. Seluruh energi dikeluarkan. Ini ajaib katanya, karena yang harusnya menyerang adalah oposisi. Mungkin karena elektabilitasnya yang turun.

Rocky pun kemudian menyentil soal debat capres yang akan digelar Komisi Pemilihan Umum (KPU). Katanya, tak ada yang bisa dibanggakan Jokowi dalam debat nanti dari kinerjanya selama memimpin. Misal kalau membanggakan angka pertumbuhan ekonomi 5 persen, bagi Rocky itu bukan prestasi. Padahal di era SBY, pertumbuhan lebih dari itu.

"Seluruh prestasi yang diklaim oleh rezim hanya pertumbuhan 5%, dibawah SBY. Kalau dibawah yang sebelumnya berarti tidak lulus. Pertumbuhan 5% kita tak perlu kabinet karena dihasilkan oleh emak-emak dan ojek online," kata Rocky, cukup menyengat.

Pun soal jalan tol. Kata Rocky, siapa pun bisa membangun jalan tol. Bedanya gratis atau enggak. Jadi konsep jalan tol itu tugas negara membangun jalan.

"Pemimpin itu adalah dia yang visioner. Mampu mendeteksi masa depan. Karena itu perlu visi misi. Bukan yang ada di teks tapi yang ada di otak," katanya.

Jadi kata dia, tidak bisa hanya sekedar baca visi dalam debat. Tapi bahasa tubuh tidak visioner. Itu sama saja, menonton kecengengan. Sebab kalau tubuh tidak visioner otaknya tidak bisa mengucapkan visi.

"Pemimpin itu dituntut duel sampai tingkat dunia. Itu ya g membutuhkan pengetahuan. Amerika, RRC, Australia akan ikut pemilu. Ada di surat suara? Tidak. Jadi capres harus mampu antisipasi arah pikiran partai republik apa, buruh apa, partai komunis Cina apa. Itu tidak boleh sekadar ditulis. Dia harus diulas. Panelis bukan tanya tapi tukang ulas," kata Rocky lagi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3