Mohon tunggu...
Kang Jenggot
Kang Jenggot Mohon Tunggu... Karyawan swasta

Hanya orang sangat biasa saja. Karyawan biasa, tinggal di Depok, Jawa Barat

Selanjutnya

Tutup

Politik

Tugas Wakil Rakyat Itu, Jika Tak Bolos, Ya Melancong ke Luar Negeri

21 Oktober 2015   15:31 Diperbarui: 21 Oktober 2015   16:01 124 0 0 Mohon Tunggu...

Kemarin malam, saya baca tulisan-tulisan jenaka nan menghujam dari Mas Agus Mulyadi di blog personalnya, www.agusmulyadi.web.id. Mas Agus ini blog terkenal. Sudah lumayan sering tampil di televisi, bahkan di blognya juga diceritakan, ia sempat main film, jadi aktor utama pula. Yang lebih hebatnya lagi, Mas Agus telah menelorkan beberapa buku. Buku ya, bukan album, seperti Pak SBY.

Nah di blognya itu, ada satu tulisan yang mampu membuat saya tercenung. Artikelnya bercerita tentang kisah studi bandingnya anggota DPRD Riau ke Norwegia. Seperti biasa, artikel ditulis dengan gaya yang jenaka, namun cerdas menohok. Di artikel Mas Agus itu disebutkan, anggota DPRD Riau studi banding ke Norwegia. Katanya, studi banding tentang peternakan. Entahlah, peternakan apa. Mungkin peternakan ikan Patin, ikan yang banyak di Riau. Padahal, Riau tengah disekap asap.

Setelah membaca itu, saya tercenung. Rasa marah tiba-tiba menggelegak. Ingin rasanya saya menggebrak meja. Tapi kawan saya, yang sedang menyeruput kopi tak jauh dari tempat saya tercenung seperti tahu, gundah marahnya perasaan saya. Ia menepuk bahu saya.

" Sudahlah kawan, tak usah marah. Marah di republik ini tak akan ada yang dengar. Apalagi marahnya kamu, yang bukan siapa-siapa," katanya.

Saya hanya diam. Hanya gemerutuk gigi menahan emosi. Kok tega, mereka yang dipilih rakyat, terus diberi mandat untuk berjuang demi rakyat, tiba-tiba dengan gampangnya pergi meninggalkan rakyat, di saat rakyat yang diwakilinya tengah menderita karena asap. Ini namanya wakil tak bertanggung jawab. Wakil rakyat keblinger.

Melihat saya diam, menahan emosi, kawan saya hanya tersenyum. Sekali lagi ia seperti sudah menebak, apa yang disuarakan hati saya.

" Tak usah marah. Ini biasa kok. Bukan luar biasa. Wakil rakyat meninggalkan rakyatnya, tak mendengar aspirasi serta derita rakyatnya, sudah biasa. Dan memang sepertinya ini sudah jadi konsensus wakil rakyat kita, bahwa mereka harus bersebrangan terus dengan rakyatnya. Kalau dia memperjuangkan rakyatnya, ya itu baru luar biasa," katanya.

Saya terdiam. Kembali ia melanjutkan perkataannya. Kata dia, hukum politik kita memang mengharuskan wakil rakyat berbuat seperti itu. Karena kiblat mereka bukan kepada rakyat, tapi berkhidmat pada partai dan juga diri sendiri plus keluarga. Bukan pada yang memilihnya. Politik di Indonesia, bukan ruang untuk berjuang. Namun, alat untuk mencari 'uang'. Politik, adalah cara cepat untuk bersenang-senang. Jadi tak usah marah, tak usah gusar, apalagi misuh-misuh.

Kata kawan saya lagi. Biarkan mereka senang-senang. Mereka ke sana, memang untuk senang-senang. Studi banding itu hanya label. Mereka kesana, ingin menghirup udara segarnya Norwegia, sekalian berfoto dan belanja. Dan, ini penting. Setidaknya dengan pergi ke Norwegia, mereka dapat banyak foto untuk diunggah di fesbuk dan di instangram. Ya, kayak anak-anak alay, yang selalu gatal mengupdate status dan foto. Apalagi foto dengan pemandangan sudut-sudut Norwegia bro, lain bobotnya, daripada foto-foto di ruang rapat.

" Dan saya yakin, yang mereka dapat, ya hanya foto dan suvenir. Soal ilmu peternakan, ah itu bisa dicari nanti di Majalah Trubus," kata kawan saya.

Dan, mereka akan berbisik, stttt..di Norwegia tak ada asap. Pemandangannya indah-indah. Belum lengkap rasanya jadi wakil rakyat, bila belum pergi ke luar negeri. Toh, Ketua DPR saja begitu antusiasnya berfoto selfie dengan Pak Donald Trump. Masa, kami tak boleh foto-foto di Norwegia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x