Mohon tunggu...
Muhammad Khoirul Wafa
Muhammad Khoirul Wafa Mohon Tunggu... Santri, Penulis lepas

Santri dari Ma'had Aly Lirboyo lulus 2020 M. Berusaha menulis untuk mengubah diri menjadi lebih baik. Instagram @Rogerwafaa Twitter @rogerwafaa

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Room, Saat Luasnya Dunia hanya Sepetak Kamar

15 Agustus 2020   04:30 Diperbarui: 15 Agustus 2020   04:28 103 10 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Room, Saat Luasnya Dunia hanya Sepetak Kamar
moonproject.co.uk

Emma Donoghue mungkin menyajikan imajinasi bagi kita. Sebab kita adalah umpama si kecil Jack yang telanjur percaya jika bumi hanya seluas kamarnya. Dan apa yang ada diluar jendela adalah luar angkasa. Atau bahkan si kecil Jack tak mengerti apa maksud "luar". Dia belum pernah melihat warna pelangi kecuali mungkin sekedar dari cerita ibunya.

Segalanya adalah permainan sulap, dan dia begitu percaya keajaiban. Makanan yang disantap dan semua hadiah itu, berasal dari kotak ajaib yang disebut televisi. Dan dia merasa nyaman tinggal di sebuah tempat yang bahkan tak bisa digunakan untuk bermain petak umpet.

Semua yang ada diluar sana baginya tidak nyata. Sebab bagi si kecil Jack, hanya ada dia dan ibunya di dunia ini. Juga Nick Tua yang selalu mengunjungi dia itu. Apakah Nick Tua juga nyata? Jadi, populasi manusia baginya mungkin cuma ada dua, hanya dia dan ibunya. Bahkan es krim adalah ilusi.

Apakah kita pernah menjadi seperti itu? Menganggap apa yang tidak kita ketahui adalah sesuatu yang semu. Kenyataan hanyalah sesuatu yang mampu kita jelaskan. Sementara yang tidak bisa didefinisikan, adalah mimpi. Tidak ada misteri, sebab kita terlalu percaya diri bahwa sudah mampu menjawab semua teka-teki di muka bumi.

Lalu mungkin ada yang merasa malu, saat akhirnya bisa melihat dengan mata kepala sendiri, bahwa "diluar sana" ada sejuta peristiwa yang bahkan tak pernah terlintas di benak kita. Bahwa "diluar sana", ada banyak kejadian ajaib yang sebelumnya cuma bisa kita saksikan dalam lamunan. Inilah dia kenyataan, selalu membuat manusia dipermalukan, oleh sikap angkuh akibat terlalu buru-buru menyimpulkan.

Apakah keegoisan, yang membuat seseorang menakar kenyataan berdasarkan persepsi yang dimiliki? Padahal bagi semesta, manusia yang kecil ini apalah artinya. Tapi kita telanjur menganggap bahwa yang diluar sana adalah tentang apa yang kita tahu. Manusia kadang terlalu egosentris.

Semesta demikian luas, hingga saat akhirnya kita memahami, mungkin kita tak akan mempercayai. Dan mungkin saat kita akhirnya menikmati keindahan yang sesungguhnya, kita tak mau kembali lagi ke tempat semula.

***
Mungkin saya tak bisa membayangkan rasanya, jika hidup hanya sebatas sekat kecil yang disebut "kamar". Lalu kita tak pernah keluar dari sana. Jika kita adalah benda seperti meja dan kursi, kita tak akan pernah mengeluh karena berada di tempat sempit. Tapi kita adalah manusia, dan beberapa dari manusia mengidap klaustrofobia.

Saya tak habis-habisnya berpikir, mengapa di tempat sekecil itu ada orang yang tak juga kehabisan ide untuk melakukan sesuatu. Tak merasa jemu, atau merasa bosan. Kegiatan sederhana seperti menggambar kucing dan berteman dengan seekor laba-laba. Menjelaskan filosofi makna "kuda gila" dalam lukisan Guernica?

Ataukah sebenarnya kepenatan hanyalah milik orang yang selalu melihat apa yang tak mereka miliki? Sebab jika itu kita, mungkin waktu akan terasa melambat. Karena meskipun mata kita melihat dinding yang mengelupas itu, ada warna tak kasat mata yang merefleksikan bayangan tentang kejadian diluar sana. Sesuatu yang sebenarnya ingin kita jalani. Tapi kita tak berdaya untuk berada disitu.

Kita merasa tak bahagia, sebab menginginkan sesuatu yang tak ada disini. Tapi pikiran kita telanjur mendambakan akan hal itu. Lelah hanyalah rasa yang dimiliki oleh orang-orang yang berlari. Mereka yang diam akan mati rasa. Kita kecewa, karena telanjur melihat dan menginginkan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x