Mohon tunggu...
Muhammad Khoirul Wafa
Muhammad Khoirul Wafa Mohon Tunggu... Santri, Penulis lepas

Santri dari Ma'had Aly Lirboyo lulus 2020 M. Berusaha menulis untuk mengubah diri menjadi lebih baik. Instagram @Rogerwafaa Twitter @rogerwafaa

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

Goenawan Mohamad dan Catatan Pinggir

14 Juli 2020   05:14 Diperbarui: 14 Juli 2020   05:19 38 8 2 Mohon Tunggu...

Kalau ditanya apa buku yang paling berkesan pernah kau baca? Banyak. Banyak buku memiliki kesan masing-masing. Semua memiliki tugas yang intens untuk mengubah pandangan hidup para pembacanya. Dan salah satu yang membekas dalam ingatan saya adalah buku catatan pinggir.

Bukan masalah apa. Tapi setidaknya penulisnya mewakili gaya tulisan yang ingin saya baca. Mas Goenawan Mohamad itu, dengan cakap bisa memadukan antara insting jurnalistik dan bakat seniman pujangga. Gaya penulisan Mas Goenawan Mohamad yang tegas dan tak pernah terduga alurnya sungguh menarik buat saya. 

Tulisannya hampir seperti citarasa tulisan pak Kuntowijoyo. Walaupun gak bisa senikmat mengalirnya tulisan-tulisan Umar Kayam atau Emha Ainun Najib. Dalam hal sastranya, cukup mengingatkan saya pada karya-karya Ayu Utami dan Dewi Lestari. Tapi keduanya tadi sama sekali tidak mewakili dunia jurnalistik. 

Dan keduanya lebih junior. Hanya cita rasa sastra yang kental dan tegas. Dalam hal ini, silahkan menilai, pembawaan Seno Gumira Ajidarma memang agak jauh, namun kental dengan bumbu yang hangat. Mungkin benar apa kata Hamid Basyaib, banyak sekali penulis dan esais era modern ini yang sulit lolos dari pengaruh tulisan-tulisan mas Goenawan Mohamad.

Ciri khas tulisan mas Goenawan itu, biasanya sangat unik dalam membuka esai. Dia bisa memulai kalimat dengan kata-kata yang sulit ditebak. Kata-kata yang membuat ketagihan untuk melanjutkan ke paragraf selanjutnya. Itu yang selalu saya pegang. Kalau menulis, buatlah intro sebaik mungkin. Agar pembacamu tak bosan, bahkan saat memulai di kalimat pertama.

Dan satu lagi yang saya suka. Mas Goenawan Mohamad ini tak pernah tergoda untuk menulis sesuatu yang sedang hangat. Peristiwa yang sedang geger-gegernya. Meskipun kolom di majalah Tempo saya yakin punya power untuk itu, tulisan yang menyinggung peristiwa terkini kebanyakan hanyalah sampah. 

Opini pribadi yang semakin menambah panas suasana. Dan mas Goenawan Mohamad ini mengajak kita memaknai kembali peristiwa hari ini dengan kejadian masa lalu. Agar kita lebih belajar. Mengambil posisi ngadem-adem. Misalnya saja saat heboh ujaran kebencian mantan Gubernur Jakarta itu. Apa yang mas Goenawan Mohamad tulis? Tidak banyak. Hanya "menyuruh kita" untuk membaca kembali dongeng Harper Lee, dalam To Kill A Mockingbird. 

Ada kemiripan setidaknya. Gubernur Jakarta itu, setidaknya sudah seperti mockingbird, burung tiru. Yang amat mudah dibunuh. Maksudnya, dengan isu rasial yang sedang menggema kala Harper Lee masih hidup, burung tiru adalah mangsa empuk. Dia lemah. Dan dia dihadang dimana-mana. 

Sekarang isunya bukan rasial, tapi isu keagamaan. Orang dengan agama minoritas akan jadi mangsa empuk para penganut agama mayoritas, saat mereka melakukan "sedikit" kesalahan. Apapun itu kesalahan minoritas tak termaafkan.

Dan saya lebih senang, ada penulis seperti mas Goenawan Mohamad. Yang menulis untuk dirinya sendiri. Bukan karena uang, bukan karena tuntutan pekerjaan, untuk memuaskan suatu komunitas, atau menulis atas permintaan seseorang. Kita, sebaik apapun, tidak mungkin bisa membahagiakan semua orang. 

Tak bisa membuat sesuatu yang disukai semua orang. Maka, setidaknya kita bisa membahagiakan diri sendiri dengan apa yang bisa dilakukan. Walaupun itu hanya bercerita tentang keluh kesah, tentang kesenangan, atau tentang hal menarik yang baru saja didengar.

Masih ingin cerita tentang mas Goen, terlebih selain menulis kolom catatan pinggir yang konon adalah salah satu rubrik terpanjang di dunia, dalam arti tidak pernah libur sejak lahirnya Tempo hingga sekarang, ia juga menulis novel dan kumpulan sajak. 

Menulis kata pengantar juga. Saya ingat salah satu pengantar buku yang dia tulis untuk pak Sapardi Djoko Damono, atau siapa, agak lupa. Menarik sekali penyampaiannya, sudah lama saya cari-cari, tapi belum ketemu juga. Karena bukunya adalah cetakan lama.

Untunglah Facebook tidak membatasi, bisa berpanjang-panjang bercerita. Tidak seperti Twitter yang mengharuskan bercerita tentang hal penting saja. Disini kita bisa basa-basi. Tidak seperti website, yang walaupun juga bisa berpanjang-panjang, namun sepi. Dan rentan. 

Punya website masih ada risiko down, dan semua tulisan bisa hilang. Tapi di Facebook lebih aman. Hacker mana yang sanggup membuat Facebook lumpuh total, lalu semua filenya hilang? Pastilah hanya model peretas yang bisa mematikan server Pentagon.

Ide seperti penyakit, yang mengganggu pikiran jika tak dikeluarkan. Jadi maaf jika pagi ini saya mengganggu.

08 Maret 2020 M.
Pagi yang gerimis, untuk hati yang sepi...

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x