Mohon tunggu...
Rudy Kakaby Kilonressy
Rudy Kakaby Kilonressy Mohon Tunggu... NGURKANDUNG

CINTA, BUKU DAN MUSIK

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Sepenggal Kisah Pendidikan Pramoedya Ananta Toer

8 Juni 2020   14:35 Diperbarui: 8 Juni 2020   14:37 33 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Sepenggal Kisah Pendidikan Pramoedya Ananta Toer
https://tirto.id/pramoedya-ananta-toer-di-antara-sastra-dan-politik-cJfQ 

Ia lahir sebagai sorang bayi belum cukup bulan (premature), sehingga sangat berpengaruh dalam pertumbuhan fisik maupun mentalnya. Terlambat dalam pertumbuhan berpikir maupun berbicara membuatnya merasa minder terhadap teman-teman sebaya dan lingkungan sekitar. Dikisahkan oleh Pram dalam Vilem dokumenternya, saat Ia berada pada bangku pendidikan kelas tiga Sekolah Dasar ia tahan kelas sedangkan teman-temannya telah berpindah pada kelas empat. Hal tersebut membuat ayahnya marah dan kurang percaya padanya.

Ayahnya Mastoer, seorang guru, kepala Sekolah Dasar (SD) Budi Oetomo Blora, sangat displin dan temperamen. Pram selalu dipandang sebelah mata bila dibandingkan dengan adiknya yang aktif dan pandai. Dalam masa pendidikannya ia sangat pasif, tidak dapat mengemukakan ide atau pendapatnya. Kelurganya berasal dari kalangan bangsawan, namun ia tidak berteman dengan anak-anak bengsawan seusianya karena minder, kurang percaya diri dengan keberadaan dalam berpikir dan mengmukakan pendapat. Pram lebih memilih berteman dengan anak-anak dari golongan bawah, anak-anak miskin, anak buru, anak-anak akar rumput.

Walaupun Pram tidak mampu berbicara mengemukakan pendapatnya, ia masi mempunyai cara lain. Memilih menulis pikirannya pada kertas. Gagasan, perasaan sedih gembira, protes maupun kisah-kisah hidupnya semasa kecil ia menuangkan semuanya. Kertas dan pena menjadi temannya dalam menuangkan gagasan dan idenya. Sejak kecil, menulis ia lakukan secara rutin, hal ini terbawa hingga berada pada usia dewasa hingga tua. Menulis menjadi bagian takterpisahkan dari hidupnya, ia menjadikan menulis sebagai kebutuhan primer. Dalam masa penjajahan bangsa Indonesia pena menjadi senjata baginya.

Masa pendidikan SD berbedah dengan teman-temannya. Mereka menempuh pendidikan SD dalam rentan waktu normal enam tahun sedangkan Pram menempuh pendidikan dasar selama sepuluh tahun. Sangat berbedah dengan kenyataan hidup tema-teman sebayanya, tak heran bila ia dipandang sebagai anak kurang mampu dalam berpikir oleh ayahnya, maupun teman-teman. Menempuh pendidikan selamam sepuluh tahun ia dinyatakan lulus dari sekolah yang dimpimpin oleh ayahnya Mastoer, namun ia tidak dizinkan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi ketika melakukan pendekatan dengan ayahnya. Ia disuruh untuk kembali menepuh pendidikan pada SD sedangkan teman-temannya suda berada pada pendidikan lanjutan.

Ketika ia kembali ke sekola dasarnya, ia bertemu dengan seorang mantan gurunya, Meneer Amir.  Manatan gurunya bertanya, mengapa engkau kembali ke sekolah ini, disini bukan tempatmu lagi, enkgua telah lulus. Ia disuruh pulang dikahiri dengan menyigung perasaan atau nada sewot. Disini ia merasa kecewa dan putus asah. Seperti dikisahkan dalam vilem  documenter yang dibuat oleh Lontar Fondation tersebut, ia kembali ke rumah, berlari memegang tumpukan kertasnya susurui jalan tua sepih, berhenti sejenak dibawah pohon jarak, kedua tangannya memegang dahan pohon jarak, menangis menjerit, tidak ada manusia yang peduli padanya, rasanya dunia tak adil baginya.

Ia kembali belajar di SD Budi Oetomo yang didirikan oleh ayahnya, belasan tahun menempu pendidikan disekolah dasar, sambil sekolah, membantu ibunya untuk berjualan nasi dan beras untuk mendapatkan uang.  Selulusnya dari SD, Pram melanjutkan pendidikan disekolah sekolah radioa vakschool Surabaya. Pada masa-masa ini, pergejolakan perang dunia kedua semakin terasa, Jepang menguasai menguasai ASIA, jepang berhasil membuat belanda bertekuk lutut keran telah menguasi Singapura yang adalah pusat pertahanan sekutu termsuk belanda. Jepang memanfaatkan laki-laki mudah Indonesia sebagai relawan untuk berperang bersama mereka, perempuan muda Indonesia dibawa dan dijadikan sebagai budak seks. Peristiwa tragis yang menimpah kaum perempuan pribumi ini direkam dalam bukunya Perawan Remaja Dalam Cengkraman Militer.  Dalam merekrut anak-anak muda Indonesia sebagai relawan perang, pram juga tetrmasuk didalamnya, namun ia memilih kembali ke kampung, membantu ibunya berjualan selama satu tahun.

Ada bebepara hal yang dapat dicontohi dari sepengal kisah sang roman Pramoedya Ananta Toer tersebut:

  • Bila belum mampu untuk berbicara didepan umum mengemukakan pendapat, tetapi ingin agar ide gagasan diketahui orang lain maka salah satu cara ampuh ialah menulis.
  • Masa depan tidak selamanya ditentukan oleh keterlambatan berpikir semasa menempuh pendidikan sehingga anak muda bangsa tidak perlu takut berusaha dalam menggapai cita-cita asalkan berusaha dengan tekun.

Orang tua dan kelurga merupakan harta berharga yang harus diperhatikan.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x