Mohon tunggu...
kaekaha
kaekaha Mohon Tunggu... Perajin Souvenir

...penikmat musik, traveling, fotografi, bola, buku cerita, humaniora dan kuliner berkuah kaldu ..... ingin sekali keliling Indonesia!

Selanjutnya

Tutup

Kisahuntukramadan Pilihan

Semalam di Banjarmasin

23 Mei 2019   23:43 Diperbarui: 23 Mei 2019   23:47 0 44 15 Mohon Tunggu...
Semalam di Banjarmasin
Selamat Datang di Banjarmasin (Foto : Muhammad Ahrishar)

Alarm dengan bunyi polyphonic dari HP jadul di atas meja itu membangunkan lelapku yang sebenarnya mulai memasuki fase pulas. Agak malas sebenarnya untuk sekedar membuka mata, apalagi bergerak mematikan bunyi alarm itu. Selain uyuh banar, dinginnya udara akibat  gerimis yang menyiram Kota Banjarmasin sejak habis maghrib tadi menambah sempurna kenyamanan istirahat malam ini.

Ya! Malam ini sebenarnya aku ingin istirahat total di kamar hotel setelah seharian penuh hunting foto di beberapa lokasi eksotis pilihan yang benar-benar menyajikan wajah asli Banjarmasin dengan budaya sungainya. Seperti kampung terapung Tandipah, Kampung Karamba di Banua Anyar, Kampung Hijau di sepanjang bantaran Sungai Martapura di daerah Sungainjingah dan terakhir basambang ke kampung Sasirangan di daerah Pasarlama.

Tapi, demi mendengar bunyi pesan masuk berbarengan dengan pendar cahaya kedip-kedip dari kotak kecil yang tiba-tiba menghiasi layar laptop di depanku, membuatku langsung membuka mata lebar-lebar. 

"Allah akbar, jam berapa Ni!? Waduuuh ketiduran lagi!" Gumamku dalam hati sambil melirik sebentuk ornamen mirip Pulau Kalimantan dan Pulau Bali, hasil kerjaan si liur basi di atas kertas HVS putih yang tadi sempat menjadi alas kepalaku saat ketiduran.

Tanpa ba bi bu langsung kuarahkan kursor ke arah messenger dan...

"Bang, foto liputan udah siap belum? Ditunggu! Bentar lagi naik!Pesan messenger dari bagian redaksi hampir sejam yang lalu masuk ke messenger di laptopku.

"Siap, tinggal ngirim aja! Tunggu bentar ya wifi di kamar lagi nggak stabil ni, abis hujan deras di Banjarmasin",  alibiku sambil terus melanjutkan mengedit beberapa foto liputanku di Kampung Terapung Desa Tandipah tadi pagi.

Untuk mengusir rasa kantuk tersisa yang masih menggelayut di kedua mataku, aku menyeduh kopi hitam dengan citarasa kental pahit kesukaanku. Saat itulah aku baru menyadari kamar yang dipesankan kantor untukku selama liputan di Banjarmasin dan sekitarnya ini ternyata begitu cantik  dan istimewa. 

Sasirangan (dokpri)
Sasirangan (dokpri)

Semua cover perabot, termasuk sprei, gorden, kap lampu dan beberapa hiasan dinding penghias ruangan semuanya berbahan kain tradisonal Sasirangan warna-warni dengan motif kekinian perpaduan dari beberapa motif sekaligus, seperti gigi haruan, bayam raja dan ombak Sinapur karang, daun jaruju, naga balimbur dll. 

"Luar biasa totalitas hotel jaringan internasional yang satu ini. Mereka begitu pintar dan kreatif memanfaatkan aset tradisonal khas Banjar untuk  memanjakan tamu secara maksimal" Gumamku dalam hati sambil mematikan laptop dan membereskan semua peralatan "tempurku" berupa kamera dan perabotannya yang masih berserakan di atas meja, saat itu tanpa sengaja jariku menyentuh lembutnya tekstur kain Sasirangan yang dimodifikasi menjadi taplak meja, wooow keren!

Setelah puas menikmati interior ruangan kamarku yang luar biasa unik dan cantiknya, kulirik jam digital di HP-ku yang menunjukkan angka 03.12 WITA. "Kalau ku lanjutkan barabah, pasti bablas nggak sahur dan nggak sholat subuh. Apa aku jalan-jalan aja ya ke Masjid Noor!? Pasti sudah ramai orang jami segini", batinku sambil menyeruput kopi pahit yang tinggal menyisakan sedikit cairan kehitaman di dasar cangkir.

Aku baru ingat, malam ini adalah malam ke-19 Ramadhan. Biasanya, mulai malam 17 Ramadhan jamaah beberapa masjid besar di Banjarmasin sudah memulai melakukan itikaf di masjid dan mencapai puncaknya di sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan khususnya dimalam hitungan ganjil sampai datangnya hari yang fitri.

Di malam-malam itu, selain menghidupkan tradisi badadamaran atau menyalakan obor khas Banjar, masyarakat Banjarmasin biasa melakukan itikaf di masjid-masjid besar yang sangat mudah untuk ditemukan di setiap sudut kota 1000 sungai ini. Salah satunya di Masjid Noor yang lokasinya sekitar setengah paal saja dari hotel tempatku menginap.

"Masjid yang posisinya dikelilingi banyak pasar ini, menyimpan banyak kenangan masa laluku saat masih tinggal di Banjarmasin. Dengan keluargaku, teman-temanku dan tentunya si-Fitri, sahabat terbaik, teman terbaik dan juga calon istri terbaik yang pernah kumiliki. Sayang..."

"Mau kemana pak malam-malam!? Mau ditemani!?" Tanya petugas security hotel ramah dengan logat Jawanya yang medok, membuyarkan lamunanku ketika melihatku akan meninggalkan loby hotel.

 "Mau ke Masjid Noor Pak, itu yang di pasar Malabar", jawabku kepada bapak security sambil memberi isyarat ucapan terima kasih.

Bagiku Kota 1000 Sungai, Kota 1000 Damkar, Kota 1000 Masjid, Kota 1000 Musholla, Kota Soto, Kota Pasar atau apapun julukan bagi ibu kota Kalimantan Selatan ini tetaplah rumah pertamaku! Karena aku pernah lahir dan besar di kota ini, walaupun karena konflik di masa lalu akhirnya memaksa keluarga besarku untuk hijrah ke Jakarta. 

Ketika  melewati jembatan Pangeran Antasari, tiba-tiba bulu kudukku berdiri! Meskipun di sepanjang jembatan itu berjajar para pemancing yang sedang menunggui joran-nya masing-masing. 

"Entahlah, mungkin karena hari ini bertepatan dengan 22 tahun tragedi Jumat Kelabu, 23 Mei 1997 yang menelan ratusan korban meninggal dan korban hilang yang sampai sekarang tidak diketahui rimbanya dan jembatan ini adalah salah satu saksi bisu dari tragedi bersejarah yang paling memilukan bagi masyarakat Banjarmasin tersebut". Bisikku dalam hati.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2